Informatika Mesir
Home Feature Simfoni Pasundan di Negeri Kinanah

Simfoni Pasundan di Negeri Kinanah

Informatikanet., Kairo – Pementasan seni di Gebyar Parahyangan X (GPX) kembali hadir mengharumkan budaya Indonesia, pada Hari Senin (28/07) di Capital Palace Hall, Hay Sadis, Nasr City. Pagelaran budaya yang diadakan oleh KPMJB (Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat) Mesir ini, tidak sekedar menyajikan hiburan melainkan memperlihatkan kurasi seni Sunda yang utuh, mulai dari rinai melodi, gerak tari yang dinamis, hingga narasi teater yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Alunan Angklung

Sebagai alat musik kebanggaan masyarakat Jawa Barat, penampilan musik angklung berhasil menyedot perhatian penonton. Keunikan angklung terletak pada sifat instrumennya yang diatonis (satu bambu hanya membawa satu nada). Harmonisasi lagu yang tercipta di atas panggung sempurna menjadi penjelmaan nilai filosofis silih asah, silih asih, silih asuh. Membuktikan bahwa keindahan lahir dari kerjasama dan nilai saling mengisi para penampil secara presisi. 

Tari Mapag 

Kata “mapag” adalah kata asli dari bahasa Sunda yang artinya “menjemput” atau “menyambut tarian. Ini memiliki hubungan erat dengan alat musik tradisional angklung. Keduanya lahir dari masyarakat agraris, yang dibawakan untuk menyambut hasil panen. Tari Mapag ini kemudian berkembang menjadi tarian resmi istana untuk menyambut para raja dan tamu agung. 

Silat Pasundan

Dalam filosofi Sunda, pencak silat bukan sekadar alat pembela diri, melainkan sarana olah batin untuk membentuk watak kuda-kuda hidup, seperti rendah hati, tidak pongah, dan melindungi yang lemah. Kehadiran Silat Pasundan di Kairo memperlihatkan kepada dunia bahwa budaya Sunda memiliki spektrum yang lengkap, tidak hanya lembut dan merdu, tetapi juga tangguh dan berwibawa.

Degung

Degung adalah seni musik tradisional khas Sunda yang berkembang di Jawa Barat sejak masa Kerajaan Sunda dan semakin populer pada era pemerintahan bupati-bupati Priangan. Ansambel degung didominasi oleh alat musik gamelan seperti bonang, saron, jengglong, gong, dan suling, yang menghasilkan alunan lembut dan harmonis. Awalnya dimainkan di lingkungan bangsawan, kini degung menjadi bagian penting dari berbagai upacara adat, pertunjukan seni, dan penyambutan tamu sebagai simbol keanggunan budaya Sunda.

Tari Merak

Tari Merak lahir dari kekaguman masyarakat Sunda terhadap keindahan burung merak yang anggun dan memesona. Setiap gerakannya menggambarkan burung merak yang membentangkan sayap, menari, dan memikat pasangannya, sehingga menghadirkan perpaduan kelembutan, keanggunan, dan keceriaan. Sampai saat ini, Tari Merak menjadi salah satu ikon budaya Jawa Barat yang kerap ditampilkan sebagai tarian penyambutan tamu, melambangkan penghormatan, keramahan, dan kehangatan masyarakat Sunda.

Singa Depok

Singa Depok lahir sebagai simbol keberanian, semangat, dan kebersamaan masyarakat Sunda. Kesenian tradisional khas Subang ini menampilkan boneka singa yang diarak sambil diiringi tabuhan musik tradisional yang meriah. Dahulu, Singa Depok menjadi lambang perlawanan terhadap penjajahan, sedangkan kini ia hadir sebagai bagian dari upacara adat, khususnya khitanan, sekaligus menjadi warisan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.

Dari pagelaran seni ini kita menyaksikan bahwa mahasiswa diaspora Indonesia di Mesir, khususnya diaspora Jawa Barat mampu membuktikan bahwa mereka memiliki visi, kompetensi, dan arah untuk membawa tradisi budaya menuju kancah internasional serta dapat menjadi diplomasi budaya agar dikenal mahasiswa mancanegara. 

Reporter: Bintan Azizah, Shaila Luthfy Yulandari

Editor: Dinda Nauli Harahap

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad