Identitas yang Terlupakan
Di tengah tantangan zaman, krisis etika dan moral kian merebak ke berbagai lini kehidupan, bahkan sampai di lini kehidupan santri. Mereka sering dikaitkan sebagai penjaga moral bangsa dan menjadi kompas arah akhlakul karimah. Santri tidak hanya dituntut menjaga marwah pesantren, tetapi juga sebagai teladan dalam beradab di kehidupan sosial. Menjadi santri adalah sebuah tanggung jawab, Ia dengan ilmu pengetahuannya tentang agama mampu mendakwahkan sesama untuk melakukan amar makruf nahi munkar.
Namun pada realitanya, kini kita sering melihat santri justru tidak sama sekali mencerminkan jati dirinya sebagai lulusan “penjara suci”, tetapi sebagai perusak citra dan marwah penjara institusi itu sendiri. Di depan kyai Ia beradab, sopan-santun, dan tawadhu’, sedangkan ketika sudah di belakang Ia menjelma setan-setan kerasukan di panggung kehinaan. Dari lisannya, tidak lagi terdengar kalam-kalam hikmah dan dari perilakunya, tidak lagi terlihat ketakwaan.
Ini merupakan kekeliruan sistemik dalam penerapan metodologi pengasuhan di dalam pesantren, sehingga menggerogoti jiwa mereka sedikit demi sedikit. Santri seringkali dididik dengan kekerasan dan paksaan tanpa pemahaman filosofis cenderung membuat mereka patuh tanpa keikhlasan, meskipun ini bukan satu-satunya variabel penyebab hal itu terjadi. Saya mengimani bahwa pasti ada juga santri yang memiliki akhlakul karimah lahir dengan sistem serupa.
Jauh-jauh hari Ibnu Khaldun sudah mengingatkan kepada kita: Siapa pun seorang murid atau pelayan yang dididik dengan kekerasan dan paksaan, maka paksaan tersebut akan menguasainya, menghimpit jiwanya, melenyapkan semangatnya, membuatnya malas, serta menyeretnya pada kebohongan dan keburukan.
Perkataan Ibnu Khaldun ini diperkuat oleh studi yang dipulikasikan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, bahwa seseorang yang diperlakukan dengan keras lebih rentan mengalami gangguan kecemasan dan depresi, sehingga menimbulkan penurunan kesehatan mental, masalah perilaku, penurunan kinerja akademis, gangguan hubungan sosial, serta penurunan harga diri.
Santri bukan patuh karena kesadaran, tetapi karena rasa takut yang terpendam. Maka apa yang terjadi? bukanlah adab yang tersisa, melainkan mental orang tertindas dan tidak punya pilihan selain menyerah dan bersandiwara. Mereka menjalankan ibadah bukan sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan, melainkan sebagai beban aturan. Saat santri memasuki musim libur atau bahkan ketika menjadi alumni, kebiasaan baik yang telah dijalankan selama bertahun-tahun di pesantren seperti mengaji, membaca, salat berjamaah, seketika lenyap bersamaan dengan aktifitas semu. Lagi dan lagi penulis menekankan bahwa ini bukan satu-satunya variabel penyebab hal itu terjadi.
Seharusnya santri dididik dengan kesadaran penuh bahwa yang mereka lakukan adalah semata untuk kemaslahatan pribadi, bukan karena takut pada hukuman. Semua orang ingin peraturan dijalankan dengan baik dan tertib, tetapi hendaklah menggunakan cara-cara yang penuh dengan kasih sayang, maka dengan begitu santri pun bisa merasa tenang dan nyaman tanpa tekanan ketika beraktivitas.
Menjadi santri bukanlah suatu hal yang mudah. Menjadi santri adalah tugas yang luhur dan agar santri-santri ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan dapat menjadi representasi yang baik bagi institusinya, sehingga membutuhkan pola pendidikan yang penuh dengan kasih sayang. Sejatinya pesantren yang bagus adalah pesantren yang mampu menanamkan nilai-nilai spiritual kepada santri-santrinya.
Penulis: Ferdian Hudatullah
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




