Menyingkap Tabir Dugaan Intimidasi Sekjen PPMI Mesir
Informatikamesir.net, Kairo – Bak riuh yang kehilangan gema, beredarnya video klarifikasi dan permintaan maaf dari M. Yahya Abdurrahman selaku Pimpinan Redaksi Al-Jauhar 2025/2026 perihal hasil koreksi penerbitan berita elektabilitas masing-masing cagub (calon gubernur) KSMR pada Selasa (15/9) serta penurunan berita tersebut sempat menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, bagaimana bisa pihak luar media memiliki hak untuk meminta takedown berita tersebut. Padahal, hak yang dimilikinya jika ditemukan adanya kesalahan dalam berita ialah hak jawab dan hak koreksi.
Lebih lanjut, Yahyo–sapaan akrab M. Yahya Abdurrahman–berkumpul bersama tim Informatika beserta beberapa media Masisir lainnya pada Rabu (16/9) di Kafe Al-Wasiah, Hay Sabi. Pertemuan ini berlangsung sehari menjelang pemilihan Gubernur KSMR.
Pada perkumpulan tersebut, Yahyo menceritakan bagaimana kronologi pembungkaman yang menimpanya. Satu demi satu kepingan peristiwa mulai menemukan tempatnya seperti puzzle yang menemukan bentuk utuhnya. Dari sini, terbukalah tabir baru, yaitu dugaan keterlibatan M. Zulpikar Nasution yang merupakan Sekjen (Sekretaris Jenderal) PPMI Mesir 2026/2027 yang diduga turut andil dalam upaya pembungkaman tersebut serta adanya dugaan ancaman dan intimidasi yang dilakukannya terhadap Yahyo berdasarkan keterangannya.
“Dia benar-benar mau menabrak pembatas jalan, terus ana bilang, ‘Eh, Bang!’ Begitu terus akhirnya dia kayak berhasilah menggeretak gitu.” Ujar Yahyo pada kumpul tersebut.
Lantas, bagaimana keterlibatan Zulpikar serta dugaan ancaman dan intimidasi yang dilakukannya? Bagaimana tanggapan terduga terkait dugaan berdasarkan keterangan korban? Dalam hal ini, Yahyo selaku korban meminta agar beberapa kronologi tidak dikutip pada tulisan ini.
Bagi pembaca yang belum menyimak editorial Informatika tentang kasus ini, kami sarankan untuk mengaksesnya terlebih dahulu melalui tautan berikut: Editorial: Citra Organisasi atau Citra Cagub?
Keterangan Korban
Bagai hujan yang datang dari berbagai penjuru, Yahyo mengaku mendapat perintah dari M. Rizqi Hidayatullah selaku DK (Dewan Konsultatif) KSMR 2025/2026 untuk menulis dan menurunkan sekaligus berita hasil debat cagub KSMR yang terbit pada (14/09). Tidak hanya sampai situ. Yahyo mengaku juga mendapatkan pesan dari OTK (orang yang tidak dikenal) yang diduga merupakan timses (tim sukses) dari masing-masing cagub.
Pada awalnya Yahyo tidak menggubris pesan-pesan yang didapatkan, karena ia menganggap tidak boleh adanya intervensi terhadap media pers, sampai pada akhirnya ia mendapatkan arahan dari Raihana Salsabila selaku Pinum (Pimpinan Umum) Al-Jauhar 2025/2026 yang mendapat pesan dari Abdi Zhil Ikram selaku cagub nomor urut 01 untuk memperbaiki diksi dan isi berita yang dianggap kurang tepat serta pengecekan kembali terhadap sumber berita tersebut khususnya dari pihak timses 01. Lebih lanjut, Yahyo menyadari ada yang kurang dan dirasa perlu memperbaiki diksi yang tidak tepat. Kemudian, Yahyo pun memperbaiki dan menambahkan diksi dari berita tersebut. Adapun hasil koreksi sebagaimana terlampir.

Kemudian, Yahyo mendapatkan pesan dari Rizqi untuk menghadapnya bersama Akmal Junaedi, Lc., Dipl., selaku DK KSMR 2025/2026 serta dipertemukan dengan Abdi beserta timsesnya. Yahyo pun memenuhi pesan Rizqi dan Akmal untuk bertemu pada Senin (14/9) di Kafe Vero, Awal Sabi’. Sekitar pukul 22.00 Yahyo bersama temannya Nawa Prima Abdillah tiba di tempat. Dalam pertemuan tersebut, Yahyo mengakui kesalahan diksi berita karena tidak mengutip pernyataan secara lengkap. Meski Yahyo menawarkan penerbitan liputan baru, pihak Abdi yang diwakili Zulpikar tetap menginginkan berita diturunkan dan video klarifikasi dan permintaan maaf dibuat. Usulan Yahyo tersebut ditolak, menurut Akmal alasan pemberitaan baru tersebut akan semakin merugikan pihak terkait.
Menurut keterangan Yahyo, dalam pertemuan bersama DK di Kafe Verro, Hay Sabi’. Zulpikar diduga melontarkan ancaman terhadap dirinya. Zulpikar diduga menyatakan akan mengundurkan diri dari Sekjen beserta timses apabila persoalan tersebut tidak diselesaikan malam itu juga, serta memilih menyelesaikannya secara pribadi. Dugaan ini senada dengan kesaksian Nawa pada malam itu.
Yahyo menilai pertemuan itu tidak berlangsung sebagai forum mediasi yang ia harapkan. Ia bahkan menduga pertemuan tersebut merupakan upaya pembungkaman pers seperti merenggut pena dari tangan yang hendak bersuara. Setelah kejadian itu, Yahyo melapor ke Fikih Azali selaku Koordinator KPU-K (Komisi Pemilihan Umum KSMR) untuk mengundurkan diri dari jabatan Wakil Koordinator KPU-K guna menghindari dampak konflik terhadap penyelenggaraan pemilu serta menceritakan alasan pengundurannya.
Lebih lanjut, Fikih meminta Yahyo mengadakan diskusi melalui telepon bersama Pimpinan dan Mantan Pimpinan Umum Al-Jauhar, Yahyo disarankan mengadakan pertemuan lanjutan bersama pihak Abdi yang difasilitasi pihak DK. Namun, Rizqi menolak usulan tersebut dengan alasan akan menghadiri agenda musyawarah gabungan. Situasi kembali tegang ketika Zulpikar mendatangi kembali Yahyo dan menagih video klarifikasi. Karena merasa sudah di ujung tanduk, Yahyo memberi tahu kepada peserta diskusi pada malam itu tentang kehadiran kembali Zulpikar di tengah-tengah diskusi tersebut. Lalu, Fikih yang merupakan peserta diskusi mengajak Zulpikar berbicara dengannya beserta beberapa peserta yang merupakan senior Al-Jauhar melalui telepon yang sedang berlangsung. Zulpikar sempat menerima permintaan tersebut. Namun, setelah itu ia tidak memberikan respons dan menagih video klarifikasi dan permintaan maaf ke Yahyo. Yahyo pun menolak karena merasa tidak bersalah sehingga menyulut kemarahan Zulpikar menurut keterangan Yahyo. Kemudian Yahyo menghubungi Akmal karena didatangi Zulpikar kembali hingga berujung kepada keputusan Akmal untuk mengadakan pertemuan kembali pada malam itu di Kafe Lentera, Darrasa.
Dalam pertemuan tersebut, Yahyo menilai Abdi cenderung diam dan tidak bersikap berlebihan terhadap berita yang diterbitkan. Penilaiannya itu berbeda terhadap Zulpikar selaku timses Abdi yang dinilai berlebihan terhadap berita yang diterbitkannya.
Salah satu mantan Pimpinan Umum Al-Jauhar sekaligus peserta yang mengikuti diskusi melalui telepon tersebut juga menuturkan bahwa Fikih sempat meminta Zulpikar turut hadir dalam diskusi melalui telepon tersebut. Zulpikar sempat menerima permintaan tersebut. Namun, ketika diminta untuk berbicara bersama di diskusi tersebut, Zulpikar tidak memberikan respons dan pergi bersama Yahyo pada malam itu. Sementara itu, berdasarkan pengakuan Fikih. Dirinya memang mengaku mengumpulkan para pinum dan mengajaknya untuk berdiskusi. Namun, ketika ditanya mengenai dugaan keterlibatan Zulpikar. Fikih belum memberikan kesaksiannya pada kala itu hingga tulisan ini diterbitkan.
Di lain sisi, Nawa menuturkan bahwa setelah diskusi lewat telepon tersebut. Zulpikar menggonceng Yahyo dengan motornya menuju Kafe Lentera pada Selasa (15/9) dini hari. Sementara itu, Nawa pergi bersama teman dari pihak Abdi menggunakan mobil Didi menuju ke tempat yang sama.
Di tengah perjalanan, Yahyo mengungkapkan bahwa Zulpikar diduga mengeluhkan sikap Yahyo yang tidak kunjung mengangkat teleponnya. Kemudian, Zulpikar diduga mengencangkan motornya lalu mengarah ke pembatas jalan dan hampir menabraknya. Tindakan tersebut diduga dilakukannya lantaran kesal terhadap Yahyo. Yahyo menilai hal ini merupakan intimidasi.
“Ada momen pas di atas ini kubri dia ngencengin motornya terus mengarah ke pembatas jalan. Real dia kayak mau nabrakin motornya ke pembatas jalan dia mengencangkan (kecepatan motornya) dia benar-benar mau menabrak pembatas jalan, terus ana bilang, ‘Eh, Bang!’ Begitu terus akhirnya dia kayak berhasilah menggeretak gitu.” Ujar Yahyo.
Lebih lanjut, pertemuan kembali berlangsung di Kafe Lentera, Darrasa pada malam yang sama. Di lokasi itu, Yahyo mendapati Rizqi, Akmal, Abdi, sejumlah anggota timses Abdi, serta Randy Andeska, Lc., Dipl., selaku Gubernur KSMR 2025/2026. Dalam pertemuan tersebut, Yahyo kemudian membuat video klarifikasi dan permintaan maaf yang disusun berdasarkan arahan dari pihak DK.
Dalam hal ini Nawa menilai, bahwa kehadiran Randy di Kafe Lentera sangat membantu pihak Al-Jauhar dan mampu menjadi penengah antara kedua belah pihak. Namun, hal ini berbeda dengan kehadiran DK.
Keterangan Terduga
Pada Selasa (27/10) pihak tim Informatika menghubungi Zulpikar melalui telepon lantaran keberadaannya di Indonesia. Menanggapi dugaan ancaman yang dilakukannya berdasarkan pengakuan Yahyo dan kesaksian Nawa. Zulpikar menuturkan bahwa ia tidak melontarkan ancaman apapun itu. Sementara itu, keterlibatannya pada kala itu adalah sebagai warga KSMR. Zulpikar menekankan bahwa pada kala itu ia ingin menyelesaikan masalah tersebut dan tidak pernah membawa institusi manapun, termasuk kehadirannya yang tidak mengatasnamakan Sekjen dan berstatus sebagai warga KSMR meskipun sekarang dirinya menjabat sebagai Sekjen.
“Saya di sini tidak pernah mengungkit bahwasanya saya membawa institusi mana pun. Bahkan, sebagai sekjen, tidak pernah saya mengatakan, ‘Saya datang ke sini sebagai sekjen.’ Itu yang saya sampaikan. Saya tidak pernah mengatasnamakan sekjen. Namun, agar nanti masalah ini tidak berlarut-larut, walaupun masalah ini tidak selesai, saya harus menyelesaikannya.” Ujar Zulpikar.
Di lain sisi, Zulpikar menegaskan bahwa selain status sebagai warga KSMR. Dirinya juga berstatus sebagai Ketua Kabupaten Rokan Hulu yang ada di Mesir serta ingin menaikkan warganya sebagai Gubernur KSMR.
Zulpikar mengaku telah lebih dulu bergabung dengan tim Abdi sebelum pemilihan Presiden PPMI Mesir berlangsung. Ia menambahkan, pemilihan Presiden PPMI tersebut berdekatan dengan pemilihan Gubernur KSMR, sementara dirinya sudah lebih dulu menjadi bagian dari tim Abdi.
Lebih lanjut, ketika Zulpikar ditanyai mengenai dugaan mengencangkan dan hampir menabrakkan motor ke pembatas jalan berdasarkan pengakuan Yahyo. Zulpikar mengaku kesal terhadap Yahyo sehingga mengencangkan motornya tersebut.
“Bukan, saya ketika itu menyampaikan ke Yahyo Lincoln (red: nama pena), ‘Antum tuh sepatutnya jangan seperti ini, jangan seperti ini.’ (Yahyo menjawab) ‘Iya, Bang, eh, saya salah, gini-gini.’ Itu karena dia, kan antum sudah tahu salah, kenapa lagi dibuat? Makanya saya kencangkan motor. Saya kencangkan motor dan posisinya kita berdua di situ.” Tutur Zulpikar.
Perihal dugaan hampir menabrakkan motor ke pembatas jalan berdasarkan pengakuan Yahyo. Zulpikar membantah kalau dirinya hampir menabrakkan motor ke pembatas jalan dan tidak ada niat untuk mencelakakan Yahyo.
“Kalau mau menabrakkan, otomatis itu sudah ada tabrakan. Ini tidak ada.” Tegas Zulpikar.
Beberapa pihak yang diduga terlibat seperti Rizqi dan Akmal yang diduga ingin menurunkan video serta Randy yang menjadi saksi pada saat itu memilih untuk tawakuf atas perihal yang menimpa Yahyo. Sebelumnya, Randy melalui pesan WhatsApp yang disampaikannya pada Rabu (14/10) menjelaskan bahwa terkait pemberitaan yang berkembang mengenai polemik antara Al-Jauhar dan cagub nomor 01. Randy, mewakili DK ingin meluruskan beberapa hal agar persoalan ini tidak berkembang menjadi kesalahpahaman yang lebih besar.
Menurut Randy, apa yang disampaikan Abdi selaku Cagub 01 dalam debat merupakan bagian dari dinamika penyampaian gagasan dalam proses pemilihan. Setelah berita tersebut diterbitkan, Cagub 01 menyampaikan bahwa pemberitaan tersebut tidak sepenuhnya merepresentasikan maksud pernyataan mereka dan meminta adanya klarifikasi.
Karena saat itu situasi sedang berada dalam masa menjelang pemilihan, DK mempertemukan pihak Al-Jauhar dan pihak Abdi beserta timsesnya untuk mendengarkan kedua pihak dan mencari penyelesaian yang dapat diterima bersama. Berdasarkan pengakuan Randy dari pertemuan tersebut, disepakati bahwa berita tersebut diturunkan dan dibuat klarifikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berpotensi merugikan salah satu calon dalam proses pemilihan.
Randy menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk tekanan kepada Al-Jauhar atau intervensi terhadap kerja jurnalistik. Tujuannya adalah menyelesaikan persoalan yang muncul di internal KSMR melalui dialog antara pihak-pihak yang berkaitan.
Menurut Randy, kalau kemudian muncul pemberitaan dari media luar yang menyebut adanya tekanan dari Dewan Konsultatif, tentu ia menghargai hak media untuk meminta klarifikasi. Namun, Randy berharap persoalan ini tidak dibaca secara sepihak ibarat membaca sebuah kisah tanpa menuntaskan seluruh halamannya. Tidak ada kepentingan untuk membungkam media ataupun memenangkan salah satu calon.
Randy menambahkan bahwa KSMR membutuhkan media yang tetap kritis, tetapi juga membutuhkan proses pemilihan yang adil dan suasana persaudaraan yang tetap terjaga. Menurut Randy, karena proses pemilihan sudah selesai, dalam hal ini yang paling penting sekarang bukan lagi memperpanjang persoalan siapa yang salah atau siapa yang benar, tetapi mengambil pelajaran dari kejadian ini ke depan. Mulai komunikasi antara panitia, calon, dan media perlu dibuat lebih jelas agar persoalan serupa tidak terulang.
“Kita juga turut bertanggung jawab menjaga agar KSMR tetap menjadi rumah bersama. Kritik boleh, perbedaan pendapat boleh, tetapi jangan sampai dinamika pemilihan membuat ukhuwah kita rusak.” Ujar Randy.
Setelah mengungkapkan pernyataan tersebut. Pihak Informatika menanyakan kembali perihal keterlibatan Zulpikar. Namun, hingga tulisan ini diterbitkan. Randy belum membalas pertanyaan tersebut.
Kemudian, usai dinamika pemilihan Gubernur baru KSMR. Yahyo mengaku berterima kasih kepada DK. Menurut Yahyo, tindakan DK dengan melakukan pembungkaman tersebut merupakan bentuk DK menyelamatkan Yahyo dari kemarahan pihak yang terkait. Berdasarkan pengakuan Yahyo, DK juga turut meminta maaf atas pembungkaman yang dilakukannya terhadap Yahyo.
Bagaimana Respons PPMI Mesir?
Wildan selaku Presiden PPMI Mesir mengaku cukup sedih dan prihatin. Hal ini sebagaimana yang disampaikannya melalui wawancara langsung bersama tim Informatika pada Kamis (15/10) di Kafe Al-Wasiah, Hay Sabi.
“Dari ana sendiri, cukup sedih ya mendengar cerita tersebut, karena kemarin ana pun posisinya yang baru tahu juga (kronologi tersebut), tidak tahu dari awal memang karena kita dari PPMI Mesir sama sekali agak jauh ya informasinya, karena kan ini di kekeluargaan ya. Jadi memang ya prihatin lah, kita sangat sedih dan prihatin dengan apa yang terjadi ya.” Ujar Wildan.
Sebelumnya, Wildan telah bertemu dengan Yahyo. Melalui pertemuan tersebut, Wildan menawarkan berbagai bantuan yang dapat diberikan oleh PPMI Mesir. Namun, dari Yahyo sendiri tidak menuntut apapun atas kejadian yang menimpanya. Sementara itu Wildan akan mengevaluasi secara tegas terkait masalah ini dan akan melindungi Yahyo yang juga merupakan anggota PPMI Mesir.
“Ana bakal mengevaluasi dengan tegas, tidak main-mainlah bahasanya gitu ya, untuk menekankan bahwa ya kita harus profesional, berintegritas juga sama lain.” Tegas Wildan.
Perihal langkah konkrit berikutnya, Wildan menegaskan ingin mengevaluasi dan memberikan peringatan keras kepada Zulpikar yang statusnya masih terduga tersebut. Namun, karena status Zulpikar masih terduga, Wildan menganggap masih perlu untuk mengumpulkan bukti lebih lanjut terkait hal ini dan secara tegas mengatakan akan berbicara langsung kepada Zulpikar serta mencoba untuk membangun kesepakatan bersama sebagai bentuk penegasan.
Wildan juga menambahkan bahwa dirinya belum berbincang langsung dengan Zulpikar, karena padatnya jadwal antara Wildan dan Zulpikar sebagai Badan Pengurus Harian Dewan Pengurus PPMI Mesir. Lalu, Wildan kembali menyatakan bahwa ia siap menjalankan mekanisme perlindungan pelaporan secara terbuka.
“Ana bakal selalu memvalidasi dan memverifikasi karena penting juga validasi ya, untuk akhirnya kita tidak langsung bertindak secara spontanitas.” Ujar Wildan.
Adapun salah satu langkah berikutnya selain evaluasi dan peringatan keras. Wildan akan melakukan audiensi dengan DKKM, KPI, dan Dewan Penasihat PPMI Mesir untuk bisa membantu mengambil keputusan secara tepat. Lebih lanjut, langkah tersebut menurut Wildan akan dilakukannya dalam waktu dekat.
Kemudian tim Informatika menanyakan secara umum di luar konteks dugaan intimidasi ini. Apakah pelaku intimidasi atau kekerasan layak untuk mengemban amanah di PPMI Mesir?
Menurut Wildan, hal tersebut tidak bisa disamakan karena tergantung pada konteksnya. Wildan menyebut bahwa pemilihan seseorang didasarkan pada kompetensi dan kapabilitas yang dimiliki.
“Jadi, kita selalu memilih orang dari kompetensinya, dari kapabilitasnya juga gitu ya. Ketika mungkin seseorang lagi marah, lagi sedang posisi marah, kita tidak tahu seseorang bisa melakukan apapun gitu ya. Jadi ana nggak mau menggeneralisir banyak hal. Jadi, dibilang layak atau tidak layak gitu ya, tergantung konteksnya gitu ya.”
Penutup
Dengan posisi jurnalis yang berada di ambang batas antara mengungkap kebenaran dan konflik kepentingan bagaikan suara yang berusaha menembus dinding pembungkaman. Benarkah pilar demokrasi keempat saat ini sedang berusaha dilumpuhkan? Bagaimana pandangan Badan Legislatif PPMI terkait fenomena ini, akankah secercah kebenaran masih bisa disuarakan lewat sidang-sidang formal mereka? Perlukah Undang-Undang Pers segera dibuat dan disahkan? Bagaimana mekanisme Badan Yudikatif PPMI dalam mengawasi etika Dewan Pengurus PPMI Mesir?
Catatan: Zulpikar telah memberikan tanggapan awal terkait dugaan intimidasi (sebagaimana terlampir pada sub judul Keterangan Terduga). Namun, Zulpikar menyatakan baru akan memaparkan akar permasalahan secara utuh dan langsung kepada tim Informatika pada akhir bulan November 2026.
Reporter: Faqih Billah, M. Alvin Reyhan, Desi Ayu Ramadhani
Editor: Sayyaf Izzuddin, Ferdian Hudatullah





