Informatika Mesir
Home Sastra & Cerpen Aku Bukan Bintang

Aku Bukan Bintang

Sumber: Istimewa

“Telah di Buka Pendaftaran Beasiswa.”

      Mata Alif takberkedip sedikitpun, dengan sigap tangannya membuka notif tersebut dan membaca dengan seksama persyaratan pendaftaran beasiswa itu. Hingga Alif berhenti pada satu kata. “Wajib menulis opini tetang kuliah,” seketika itu Alif berpikir keras tentang aktivitas sehari-harinya.

      Setiap pagi Alif harus bangun lebih pagi dari orang-orang pada umumnya, mengambil makanan di warung kemudian mengantarkannya ke setiap alamat yang sudah ditentukan. Mengechat teman-temannya, berharap ada yang membutuhkan sarapan untuk diantarkan, karena semakin banyak sarapan yang ia antarkan, semakin besar pula kemungkinan bonus yang akan ia dapatkan, begitu terus sampai siang, setelah itu di sore harinya Alif membantu melayani pengunjung yang datang di salah satu kafe temannya.

“Jangankan untuk ongkos kuliah untuk makan sehari-hari aja rasanya berat,” seru Alif pada dirinya sendiri.

“Setiap hari aku harus bisa megantarkan minimal 5 tausilan untuk bisa bertahan hidup pada esok harinya.”

“Apakah aku harus berbohong untuk melancarkan misiku ini,” pikir Alif dalam benaknya.

“Hah sudah lah andai nilai ku bagus.”

**                                                                 ***                                                                          **

“Tring, tring,” hp Alif berbunyi, dengan segera Alif mengangkat telpon tersebut.

“Le ibu mu iki meriang, wes pirang dino, ibu mu nyeluk jenengmu ae Lif. Piye iki?”

Alif teringat wajah lesuh ibunya dan keriput yang kian hari makin bertambah. Seketika itu air mata Alif menetes. Seraya berkata dengan nada ragu.

 “mengko tak usahakaken mulih nggih, bu.”

 “Gimana ini, aku harus pulang, aku harus jumpa ibu, aku gak mau menyesal seumur hidupku,” ucap Alif pada dirinya sendiri.

“Arza, kamu ada uang gak? Aku mau beli obat ibu dan sebagian untuk usaha, bisa modalin aku gak Za?” Sahut Alif pada salah satu temannya.

“Ada Lif. Tapi, bulan depan aku mau umrah jadi giman Lif?”

“Nanti insyaallah aku bayar sebelum bulan depan.”

“Iya Lif aku yakin sama kamu.”

Keesokan Harinya

      Alif bangun seperti biasanya, Alif tidak lupa untuk tahajjud seharipun, sebelum bertarung dengan kerasnya dunia. Sesudah shalat Alif bergegas merebus kedelai lalu memcampur kedelai tersebut dengan ragi dan membungkusnya. Sambil teringat perkataan ibunya ketika mengajarinya membuat tempe. “Le mengko koe kudu sukses, ojo koyok ibu mu iki yo,” sambil membayangkan wajah ibunya yang semakin hari semakin menua.

 “Aku harus semangat, aku harus berusaha jualan tempe agar aku bisa pulang melihat ibu.”

“Bismillah hari pertama aku jualan tempe, aku titip ke warung Arham saja, pasti dia mau.”

“Arham.”

“Iya Lif.”

 “Ini aku mau coba jualan tempe gimana aku titip di sini dulu, nanti aja uang nya kalau laku.”

 “Ya, lif aku udah punya langganan.”

 “Ham ibu ku sakit, aku gak punya uang untuk pulang atau membelikan obat ibuku, sedangkan ayahku sudah lama tidak menafkahi kami. Tolong bantu aku Ham”

“Yaudah deh gakpapa, taruh aja situ.”

 “Aku datang tiga hari lagi ya Ham.”

Tiga Hari Kemudaian

“Arham gimana?”

 “Aduh maaf kali nih Lif, banyak yang gak laku jadi busuk. Aku bayar kamu setengah dari kemarin ya Lif, biar kamu gak terlalu rugi.”

 “Iya, makasih ya Ham”

 “Iya sama-sama”

“Ham aku titip lagi gimana?”

“Lif, gak liat apa aku udah punya langganan. Nanti, tempe kamu gak habis aku juga yang rugi.” Pungkas Arham.

 “Ya Allah gimana ini, sakit ibu makin parah dan aku gak punya uang sama sekali untuk beli obat ibu.”

“Gakpapa, kamu harus kuat Lif, kamu pasti bisa menghadapi semua ini,” seru Alif pada dirinya sendiri.

“Atau aku tawarin ke balaalah orang Mesir aja ya,” pikir Alif dalam benaknya sambil beraksi. Alif dengan ragu dan suara gemetar menawarkan tempenya ke warung milik masyarakat pribumi, dengan bahasa yang terbatas dan terbata-bata Alif menjalankan misinya dan berkata aku datang 3 hari lagi.

**                                                                   ***                                                                     **

Tiga Hari Kemudian

Alif keluar dari rumah dan berdoa sedalam-dalamnya berharap kali ini tidak seperti sebelumnya.

“Ammu kaifa?” Ucap Alif pada pemilik warung tersebut.

Pemilik warung tersebut pun menjawab dan memeberikan uang yang sama seperti perjanjian diawal. Dengan gembira Alif menjawab

“Syukron ammu.”

Hal ini terus berlangsung hingga satu bulan dan Alif menepati janjinya untuk mengembalikan modal tersebut.

“Tiga minggu lagi ujian Lif, gimana persiapan ujian mu?” Ucap Arza

“Aku udah pasrah Za, aku udah belajar di sela-sela masak tempe. Tapi, aku tau itu tidak sebanding dengan pelajaran di kuliah. Aku ikhlas aja Za, tahun depan ku usahakan lebih baik setelah semuanya selesai.”

“Iya lif.”

Ujianpun Tiba

“Lif aman,” ucap Arza

“Aman Za, abis ujian aku pulang dulu jenguk ibu, kamu mau oleh-oleh apa Za, mau nitip bagasi ya, hahaha,” canda Alif

“Iya dong.”

Satu Bulan Kemudian

“bu, piye kabare bu, Alif muli sisok yo bu. Seng sehat, mengko Alif bawake panganan Mesir yo bu.”

“Iyo lif. Seng penting koe sehat iku aye.”

“Iyo bu, Alif muli iki”

BREAKING NEWS: Pesawat Egypt Air MS-789 rute Kairo-Jakarta dilaporkan jatuh di atas Laut Mediterania. Pesawat yang membawa 270 penumpang 3 diantaranya merupakan mahasiswa Al-Azhar ini hilang kontak dengan menara control sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.

           

“Alif, Alif, Alif.”

“Ngopo jalok jeneng Alif waye.”

“Iki bu Alif, pesawat Mesir-Jakarta…”

Burrrrr, seketika ibu Alif jatuh dan tak sadarkan diri.

“Lif, kamu mau kemana nak, kamu capek ya nengok ibu sakit trus. Kamu capek ya banting tulang buat ibu. Lif ibu gak minta apa-apa cukup Alif pulang aja ya nak, ibu rindu sama Alif pulang dulu ya, nak.”

“Lif, kenapa gak mau liat ibu nak, Lif kamu marah ya nak, Lif jawab ibu.”

“Bu, ibu harus sehat ya, maaf kan Alif gak bisa bantu ibu lagi, sekarang Alif udah jauh dari ibu Alif gak bisa bantu ibu lagi, maaf kan Alif ya bu gak bisa ngasih ibu gelar Lc. Tapi, Alif yakin nilai Alif kali ini gak ngecewain ibu. Bu, ibu harus sehat ya bu, Alif punya usaha kecil di Mesir dengan teman-teman Alif, walaupun sedikit cukup untuk beli obat ibu, ibu sehat ya, Alif sayang sangat sama ibu. Jadi ibu harus sehat ya untuk Alif.”

**                                                                   ***                                                                     **

“Bu, Jika aku bisa menggantikan ibu menahan rasa sakit yang ibu rasakan aku rela bu. Alif gak mau ibu duluan Alif gak sanggup jika harus hidup tanpa ibu. Alif berharap Alif yang lebih dahulu dari ibu walaupun mungkin dunia akan terlibat kejam, tapi ini terlihat indah bagi Alif.” Surat kecil untuk ibu

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad