Wage Rudolf Supratman, Jurnalis yang Mengusik Belanda dengan Biola Kesayangan
informatikamesir.net, Kairo – Sumpah Pemuda, salah satu tonggak utama pembentukan identitas kebangsaan Indonesia sebelum kemerdekaan. Peristiwa tersebut dirancang oleh para pemuda–kalau hari ini gen z–yang resah akan krisis identitas bangsa yang tidak kunjung menemui kejelasan. Para pemuda yang mayoritas berasal dari kalangan masyarakat daerah lebih dulu masif melakukan pergerakan di daerah masing-masing. Perkumpulan pemuda yang lain awalnya dimaksudkan untuk memajukan kebudayaan, namun pada akhirnya bergerak dalam bidang politik.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Wage Rudolf Soepratman, seorang tokoh muda pergerakan nasional yang lahir pada 9 Maret 1903. Ia merupakan salah satu dari enam bersaudara, dengan satu saudara laki-laki dan lima saudara perempuan. Pada usia sekitar 11 tahun, ia pindah ke Makassar bersama kakak perempuannya, Roekijem. Kakaknya menikah dengan seorang pria keturunan Belanda bernama Willem van Eldik, yang kelak turut berperan dalam perjalanan hidup dan perkembangan musikal Wage.
Wage kecil tumbuh di lingkungan pecinta musik. Kakaknya, Roekijem gemar dengan musik dan sandiwara, bahkan di masa itu hasil karyanya banyak yang dipertontonkan di mes militer. Kakak iparnya juga tidak kalah berbakat. Ia dikenal cakap dalam memainkan alat musik biola. Distraksi-distraksi kecil secara terus-menerus itu yang memicu ketertarikan Wage akan dunia musik.
Selain tekun di bidang pendidikan, Wage juga disibukkan dengan membaca buku-buku seputar dunia musik dan berlatih alat musik seperti gitar dan biola. Sebab ketekunannya, pada ulang tahun yang ke-17 kakak iparnya membelikan sebuah biola yang kelak menjadi salah satu alat perjuangannya.
Kemahiran dalam memainkan biola serta kepiawaiannya dalam merangkai lirik lagu, menjadikan Wage bersama grup band Black and White sering diundang untuk mengisi acara party yang digemari oleh sinyo-sinyo Belanda. Seiring berjalannya waktu, Wage menyadari adanya rupa ketidakadilan yang dilakukan oleh kolonial Belanda terhadap rakyat pribumi. Hal tersebut menarik perhatiannya untuk ikut andil dalam bidang politik, seperti ikut dalam pelbagai pidato dan bacaan politik.
Bandung sebagai Titik Awal Perjuangan Wage
Berbekal tekad kuat dan biola kesayangan, Wage bertolak ke kota Bandung. Ia memilih Bandung sebab di kota ini pusat pergerakan nasional banyak digaungkan. Mulai dari Perkumpulan Pemuda, Jurnalis, dan para pejuang lainnya tak luput dalam seruan melawan kezaliman kolonial.
Di awal perjuangan, Wage memilih sebagai jurnalis dengan masuk di berbagai media pers, seperti Koran Kaoem Muda, Kaoem Kita, Alpena (Algemene Pers New Agency), sampai Media Sin Po. Pada masa tersebut, Wage juga mulai tertarik pada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku berjudul Perawan Desa. Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.
Di senggang waktu meliput, Wage juga rutin menulis lagu. Menurut artikel Gramedia, sampai akhir hayatnya, Wage berhasil membuat 12 lagu yang sebagian besar menjadi lagu nasional. Termasuk dalam pembuatan lagu Indonesia Raya yang digubah olehnya pada tahun 1924 yang awalnya lagu itu ditujukan untuk memenuhi tantangan dari sebuah artikel majalah.
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda yang tergabung dalam sebuah pergerakan nasional melakukan Kongres Pemuda II. Kongres yang dihadiri oleh kelompok pergerakan dari berbagai daerah, seperti Jong Ambon, Jong Sumatra, dan Jong Java menghasilkan sebuah keputusan monumental “Sumpah Pemuda”. Sebelumnya–pada kongres Pemuda I– Wage terpukau melihat begitu semangatnya para pemuda dalam memperjuangkan identitas negara. Hal itu turut mengilhaminya untuk membawakan lagu Indonesia Raya yang terinspirasi dari “Cita-cita satu nusa, satu bangsa”.
Dalam kongres tersebut, Wage meminta izin kepada Sugondo selaku ketua untuk membawakan sebuah lagu. Ia diberi izin untuk membawakannya di sela-sela istirahat. Sebelum memulai, Wage membagikan selebaran fotocopy lirik lagu kepada peserta kongres. Karena dirasa lirik yang akan dibawakan Wage terlalu lugas dan dapat mengusik Penjajah, Sugondo melarang dan hanya mengijinkannya menampilkan instrumen dari lagu tersebut.
Meskipun hanya dimainkan secara instrumental melalui gesekan biola, lagu Indonesia Raya yang dibawakan oleh Wage tetap mendapat sambutan hangat dan apresiasi dari seluruh peserta kongres. Alunan melodinya mampu membangkitkan semangat serta menggugah rasa kebangsaan para hadirin. Dalam waktu singkat, lagu tersebut mulai dikenal luas di kalangan pergerakan nasional dan menjadi simbol perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Sejak saat itu, Indonesia Raya kerap dikumandangkan dalam berbagai kongres yang diselenggarakan oleh partai-partai politik sebagai wujud semangat persatuan dan nasionalisme bangsa Indonesia.
Karya Wage Meresahkan Pihak Belanda
Sebelum menjadi lagu kebangsaan, lagu Indonesia Raya sempat mendapat pertentangan dari kaum kolonial. Belanda pernah melarang lagu Indonesia Raya berkumandang dalam acara atau setiap kesempatan apapun. Mereka beralasan bahwa lagu tersebut dapat mengganggu ketertiban dan kenyamanan. Selain itu, pihak Belanda khawatir lagu tersebut dapat membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia.
Kekhawatiran Belanda semakin terlihat, dengan mereka yang melakukan penangkapan dan menginterogasi Wage atas lirik lagu yang ia ciptakan. Karena hal tersebut, Wage ditahan selama beberapa waktu, hingga akhirnya dilepaskan oleh Belanda atas desakan para Aktivis pada masa itu.
Keberhasilan lagu Indonesia Raya membuat Wage kembali menciptakan lagu berjudul Matahari Terbit. Pemerintah Belanda kembali menahan Wage karena lagunya yang dianggap berbahaya bagi posisi mereka. Dalam pembebasannya kali ini, ia dibantu oleh kakak iparnya Willem Van Eldik.
Wafatnya sang Musisi Pergerakan Nasional
Selama ditahan, kondisi kesehatan Wage terus menurun. Penyakit TBC yang dideritanya tidak kunjung sembuh karena kurangnya penanganan medis. Tidak lama setelah dibebaskan, pada 17 Agustus 1938 Wage Rudolf Supratman menghembuskan nafas terakhir di usianya yang ke-35 tahun. Ia dikebumikan di pemakaman umum di Jalan Kenjeran, Surabaya.
Kepergian Wage tentu menjadikan bangsa Indonesia kehilangan sosok pejuang yang sangat pemberani. Ia telah berjuang untuk Indonesia dengan caranya sendiri bersama biola kesayangannya. Kemampuannya di bidang musik ia gunakan untuk memperjuangkan bangsa dan menunjukan keberaniannya melawan Belanda. Berkat kemampuan dan peran Wage menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, menjadikan hari lahirnya 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Penetapan itu tertuang dalam Keppres (Keputusan Presiden) Nomor 10 Tahun 2013.
Penulis: Muhammad Fajar Nailus Sifa
Editor: Faqih Billah





