Umm Ali dan Kisah yang Tak Semanis Rasanya
Informatikamesir.net, Kairo – Tidak semua makanan memiliki cerita yang sederhana. Di Mesir, ada satu hidangan yang sangat terkenal bernama Umm Ali. Dessert hangat berbahan dasar roti atau pastri, susu, gula, dan kacang-kacangan ini merupakan salah satu hidangan penutup paling populer di Mesir dan Timur Tengah. Umm Ali juga dikenal luas sebagai sajian khas dalam acara perayaan ataupun di bulan suci Ramadan. Namun, di balik rasanya yang manis, tersimpan kisah sejarah yang kelam.
Nama Umm Ali berarti Ibu dari Ali. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, hidangan ini berkaitan dengan konflik politik antara Shajar al-Durr dengan Sultan Izz ad-Din Aybak di masa Kesultanan Mamluk pada abad ke-13.
Dilansir dari Dostor, setelah kematian Sultan Al-Shalih Ayyub, Shajar Al-Durr yang merupakan istri dari sang sultan sempat memegang kekuasaan di Mesir. Namun, pada masa itu masyarakat sulit menerima seorang perempuan sebagai penguasa, karena itu ia menikahi Sultan Izz Al-Din Aybak yang merupakan seorang panglima Mamluk agar ia menjadi raja secara simbiolis. Sementara, kekuasaan sebenarnya tetap dipegang oleh Shajar Al-Durr.
Seiring waktu, hubungan politik dan pribadi mereka berdua memburuk. Aybak dikabarkan ingin memperkuat posisinya dengan menikahi putri penguasa Mosul, sebuah kota besar di negara Iraq. Rencana tersebut membuat Shajar merasa posisinya terancam, ia kemudian memerintahkan pembunuhan Aybak.
Peristiwa ini memicu balas dendam dari istri pertama Aybak yang dikenal dengan sebutan Umm Ali. Ia menuduh Shajar sebagai dalang pembunuhan sang sultan dan memerintahkan pelayannya agar Shajar dibunuh dengan cara dipukuli menggunakan qabāqīb (red: sandal kayu), lalu melemparkannya dari atas tembok qal’ah (red: benteng) sebagai bentuk balas dendam atas kematian suaminya.
Setelah kematian Shajar Al-Durr, Umm Ali merayakan peristiwa tersebut dengan memerintahkan para juru masak istana untuk menciptakan hidangan manis sederhana. Makanan itu kemudian dibagikan kepada masyarakat luas—bahkan disertai koin emas di setiap porsinya menurut sumber lainnya.
Sejak saat itu, hidangan tersebut dikenal dengan nama Umm Ali.
Meski kebenaran kisah ini masih diperdebatkan oleh sejarawan, cerita tersebut tetap hidup dalam tradisi lisan masyarakat Mesir. Terlepas dari unsur legenda atau fakta sejarahnya yang kelam, Umm Ali kini telah menjadi bagian penting dari identitas kuliner Mesir dan dikenal luas sebagai sajian khas yang kerap hadir dalam perayaan maupun bulan suci Ramadan. Selain teksturnya yang lembut dan hangat, dessert ini juga mengandung susu serta karbohidrat yang cocok untuk mengembalikan energi setelah puasa.
Reporter: Salsabila Dwi Fitria
Editor: Muhammad Naufal Luthfi
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




