by

Tarik Benang Merah Enigma Pergolakan Pemilihan Ketua WIHDAH PPMI Mesir

Informatikamesir.net, Kairo — Pemilihan Ketua WIHDAH PPMI Mesir tahun ini terbilang ramai, dikarenakan salah satu dari dua kandidat didiskualifikasi oleh panitia Sidang Permusyawaratan Anggota (SPA) WIHDAH PPMI Mesir setelah mereka dinyatakan lolos proses screening. Lantas, pihak yang  terdiskualifikasi itu pun merasa tidak dapat menerima keputusan tersebut dan terus mengajukan aduan berturut-turut.

Meskipun begitu, rentetan acara Pemilihan Ketua WIHDAH PPMI Mesir tetap panitia laksanakan sesuai lini masanya dengan calon tunggal. Sikap pemegang kebijakan yang dinilai tidak memberi respons apa-apa terhadap pengajuan pihak terdiskualifikasi itu memunculkan dugaan adanya kecurangan, bahkan indikasi kolusi dengan pihak lain. Tak tanggung-tanggung, kandidat yang menjadi calon tunggal pun meski terus melaju, tidak luput dari dugaan ini.

Lantas, benarkah dugaan-dugaan tersebut? Ataukah hanya pihak-pihak terkait yang saling lempar pernyataan tanpa tabayun bersama, sehingga yang selama ini timbul adalah asumsi atas satu sama lain semata?

Kronologi Kasus di Permukaan

Sebelum menjadi satu-satunya kandidat Ketua WIHDAH PPMI Mesir 2021-2022, Fara–nama akrab Faramuthya Syifaussyauqiyya, kandidat nomor urut 01, berkompetisi dengan Septa Rellani, yang kini telah menjadi mantan kandidat nomor urut 02. Namun, kandidat 02 yang kerap dipanggil Ella itu—setelah dinyatakan lolos proses screening pada Senin, (29/03/2021) lalu melalui SK DP WIHDAH No. 05-A4/DPAWIHDAHPPMI/SKEP/III/1442-2021—didiskualifikasi pada Selasa, (30/03/2021) lalu.

Hal itu seperti yang termaktub dalam berita acara terbitan Panitia SPA WIHDAH PPMI Mesir, hasil peninjauan Komisi Kehormatan Pemilu (KKP) yang menyatakan bahwa surat pengunduran diri dari posisi Wakil Ketua II Badan Perwakilan Anggota (BPA) PPMI Mesir yang Ella ajukan dinilai tidak sah, dengan landasan Tata Tertib (Tatib) BPA PPMI Mesir Bab VI Pasal 20 dan 21 tentang Pimpinan BPA PPMI Mesir.

Selain itu, disebutkan juga bahwa Ella tidak memenuhi kriteria kandidat Ketua WIHDAH PPMI Mesir yang diatur dalam AD/ART WIHDAH Bab I Pasal 1, yaitu Ella dianggap tidak berakhlak karimah, karena menyatakan ketidakjujuran dalam proses screening.

Oleh karena itu, Ella dan tim pemenangannya lantas tidak menerima keputusan tersebut. Menurut mereka, surat pengunduran diri Ella sudah dibuat dengan prosedur yang sesuai, meski dikerjakan hanya dalam 40 menit waktu tambahan yang diizinkan KKP untuk melengkapi persyaratan saat proses screening. Waktu tersebut diberikan karena sebelumnya, berkas yang Ella serahkan untuk diverifikasi adalah surat cuti, bukan pengunduran diri.

Sedangkan surat pengunduran diri yang Ella berikan tersebut sudah menggunakan kop surat, serta dibubuhi cap dan tanda tangan Pimpinan BPA PPMI Mesir. Perihal ini, Ella dan tim pemenangannya merasa sudah menuruti permintaan KKP.

“Jadi sebenarnya itu bukan kesalahan kami. Surat ini resmi, resmi, resmi. Ada cap basah dan ditandatangani,” tegas Siti Miftahul Jannah, ketua tim pemenangan Ella saat diwawancarai Informatika, Sabtu, (3/4/2021) kemarin, via Whatsapp.

“Kami sudah mengabulkan apa yang WIHDAH itu inginkan,” lanjutnya.

Usut demi usut, menurut keterangan pers yang dikeluarkan oleh  Dewan Permusyawaratan Anggota (DPA) WIHDAH PPMI Mesir pada Kamis, (1/04/2021), ternyata terdapat laporan pihak luar yang menjadi pertimbangan DPA WIHDAH PPMI Mesir, sehingga mereka kemudian melakukan peninjauan ulang sampai kandidat 02 dapat mereka diskualifikasi.

Diketahui, laporan yang masuk ini dikirim oleh salah seorang Dewan Pimpinan (Depim) BPA PPMI Mesir yang mengatasnamakan pribadi. Ditambah lagi, gugatan lain datang dari kandidat 01 yang menyebutkan, proses screening dilakukan oleh panitia secara tergesa-gesa, sehingga pihaknya mengajukan proses peninjauan ulang.

Semenjak disahkannya diskualifikasi tersebut, pihak Ella tak hanya sekali mengajukan gugatan. Surat pertama dilayangkan kepada KKP pada Selasa, (30/3/2021) dengan durasi permohonan respons 1×5 jam. Karena tak dikabulkan, surat gugatan itu pun diteruskan kepada BPA PPMI Mesir pada hari yang sama, untuk menggugat DPA WIHDAH PPMI Mesir dan KKP yang tidak memberikan respons. Namun, BPA PPMI Mesir belum juga menindaklanjuti gugatan tersebut.

Setelah itu, akhirnya pihak Ella pun mengajukan permohonan sidang terbuka kepada DPA WIHDAH PPMI Mesir pada Kamis (1/04/2021). Namun Zakiah Rahmadani selaku DPA WIHDAH PPMI Mesir bagian penerima surat permohonan itu menyatakan, DPA WIHDAH PPMI Mesir adalah yang berhak memutuskan hari sidang, dan keputusan DPA WIHDAH PPMI Mesir tidak di bawah anggota.

Dua Sisi Mata Uang Dugaan-dugaan Kecurangan

Ketika ditanya oleh Informatika perihal kecurangan dan dugaan indikasi kolusi yang dimaksud dalam keterangan pers mereka, Siti Miftahul Jannah yang kerap dipanggil Mita, menyertakan beberapa keterangan yang menurut mereka adalah kecurangan yang terdapat dalam pemilihan Ketua WIHDAH PPMI Mesir tahun ini.

Alasan pertama adalah terkait surat gugatan dari kandidat 01 kepada panitia SPA WIHDAH PPMI Mesir yang diajukan setelah proses screening selesai. Dengan adanya surat gugatan ini, Mita menganggap panitia memihak kepada Fara dan menduga adanya indikasi kolusi karena menjadikan gugatan ini sebagai pertimbangan.

Di lain sisi, Informatika meminta keterangan dari Fara untuk mengklarifikasi tujuan dari surat gugatan yang ia kirimkan tersebut. Fara mengatakan, semua keputusan yang dikeluarkan oleh panitia, terkhusus poin diskualifikasi Ella dari kandidat Ketua WIHDAH PPMI Mesir, terbebas dari campur tangannya dan tim. Ada pun surat tersebut hanya berisi permintaan peninjauan ulang dan penundaan kampanye pihak Ella hingga proses peninjauan ulang selesai.

“Poin keberatan ini kami layangkan karena kami ingin memiliki calon lawan politik yang berhasil memasuki proses kampanye, tanpa adanya tanda tanya besar terkait keabsahan berkas yang bersangkutan tujukan ke Panitia SPA. Sehingga kami bisa berkampanye tanpa adanya keragu-raguan yang muncul,” jawab Fara kepada Informatika, Sabtu, (3/4/2021) via WhatsApp.

Tidak cukup sampai di situ, Mita juga menganggap DPA WIHDAH PPMI Mesir ‘pilih kasih’ karena merespons surat gugatan dari kandidat nomor 01, dan mengabaikan surat gugatan dari timnya.

Terkait hal ini, DPA WIHDAH PPMI Mesir mengatakan, pihaknya telah menanggapi gugatan yang diajukan Ella dan tim pemenangannya. Sebagaimana keterangan yang Informatika dapatkan dari Zakia tadi melalui wawancara pada Ahad (4/4/2021). Namun, Zakia tidak memberikan penjelasan spesifik mengenai bagaimana DPA WIHDAH PPMI Mesir menanggapi gugatan tersebut.

Disampaikan juga oleh Mita tentang aduan yang dilaporkan salah satu Depim BPA PPMI Mesir,  Yogi Aldasi yang mengatasnamakan pribadi—sebagaimana tertulis dalam keterangan pers DPA WIHDAH PPMI Mesir tadi, kepada panitia, yang menurutnya juga salah satu alasan mengapa ia dan timnya menduga adanya indikasi kolusi.

Bukti yang Mita berikan kepada Informatika menyertakan, bahwasanya Yogi menyampaikan aduannya kepada salah satu panitia. Dia menyatakan, berkas screening sepatutnya tidak dapat diganti, dan berkas yang sudah didaftarkan bersifat final. Pengaduan Yogi itu menambah kuatnya dugaan Mita. Untuk itu, Informatika mencoba menghubungi Yogi agar memperjelas pengaduannya tersebut. Namun hingga berita ini dirilis, ia tidak memberikan jawaban apa pun.

Berangkat dari rentetan kejadian tersebut, Mita dan timnya juga telah mengajukan surat gugatan kepada BPA PPMI Mesir, akan tetapi pihaknya belum mendapatkan meja sidang yang diharapkan. Ketika Informatika mencoba meminta keterangan kepada Hasan Al-Anshori selaku Ketua Depim BPA PPMI Mesir, terkait tanggapannya terhadap gugatan Ella dan tim pemenangannya pada Jumat, (2/4/2021) kemarin, ia menyatakan dirinya belum bersedia dimintai keterangan. Hingga hari ini pun, Ahad (4/04/2021), Informatika masih belum mendapatkan balasan dari Hasan.

Reporter: Naya Salsa

Editor: Defri Cahyo Husain

Comment

Berita Lainnya