SEMA FSQ Pertanyakan Fadli Zon Jadi Pemateri Simposium, Buka Undangan Dialog Terbuka
Informatikamesir.net, Kairo – Sema FSQ (Senat Mahasiswa Fakultas Syariah wa Qanun) Mesir melayangkan sikap pernyataannya terhadap keputusan panitia Simposium Internasional PPI Dunia ke-18 yang mengundang Fadli Zon sebagai pembicara dalam seminar panel. SEMA FSQ juga mengundang Fadli Zon untuk hadir dalam diskusi terbuka. Hal tersebut disampaikan melalui pernyataan sikap yang diterbitkan pada Ahad (20/9) melalui akun Instagram resminya.
Di samping itu, Sema FSQ juga menyampaikan undangan dialog terbuka kepada Fadli Zon untuk membahas isu-isu yang mereka nilai kontroversial serta soal pertanggungjawaban sejarah. Dialog tersebut diharapkan menjadi ruang klarifikasi antara pihak pemerintah dan civitas akademik terkait persoalan sejarah yang disoroti SEMA FSQ.
Dalam pernyataan tersebut, Sema FSQ menyayangkan keputusan panitia Simposium menghadirkan Fadli Zon sebagai pemateri. Senat menilai panitia kurang mempertimbangkan sensitivitas isu, keseimbangan akademis, serta aspirasi mahasiswa dalam menentukan pemateri forum.
Fayyadl Zabihullah Al-Qassam selaku Ketua BPO Sema FSQ Mesir menjelaskan bahwa sikap tersebut tidak ditujukan untuk menyerang pribadi ataupun menolak kehadiran Fadli Zon. Menurutnya, Sema FSQ mempertanyakan pemilihan Fadli Zon sebagai pemateri karena sejumlah pernyataannya mengenai sejarah yang dinilai masih kontroversial dan belum mendapatkan klarifikasi.
“Tidak menyerang personal, tapi sikap Fadli Zon-nya. Jadi tidak menolak kehadiran Fadli Zon. Tapi benar-benar bertanya-tanya karena tema yang diusung oleh simposium adalah ‘Inventarisasi Budaya sebagai Instrumen Diplomasi Sekaligus Revitalisasi Peradaban dan Identitas Bangsa’,” ujar Fayyadl kepada Informatika Mesir setelah pernyataan sikap tersebut diterbitkan.
Sebagai salah satu contoh konkret yang mendasari sikap tersebut, Fayyadl menyinggung pernyataan Fadli Zon mengenai pemerkosaan massal terhadap etnis Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998. Fayyadl mengatakan pernyataan tersebut menjadi salah satu persoalan sejarah yang menurut Sema FSQ belum mendapatkan klarifikasi yang memadai.
“Fadli Zon yang menjadi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia sudah kontroversial terkait sejarah. Bahkan sampai detik ini dia belum klarifikasi statement-statement dia yang kontroversial,” kata Fayyadl.
Di tengah kritik tersebut, Sema FSQ memilih membuka ruang dialog dengan Fadli Zon. Fayyadl mengatakan dialog diperlukan untuk mendapatkan kejelasan mengenai persoalan sejarah yang mereka soroti sekaligus membuka ruang klarifikasi antara pemerintah dan kalangan akademik.
“Kenapa diskusi terbuka ini penting, karena kami ingin mengetahui sejarah secara clear. Karena sejarah sebagai landasan dibentuknya hukum. Kita membuka dialog terbuka agar bisa menjembatani dan klarifikasi antara pihak pemerintah dan civitas akademik,” jelas Fayyadl.
Fayyadl berharap Fadli Zon bersedia memenuhi undangan terbuka tersebut dan mengklarifikasi pernyataan-pernyataan yang dipersoalkan Sema FSQ. Hingga berita ini ditulis, undangan tersebut masih berupa undangan terbuka dan belum dikirimkan secara personal kepada Fadli Zon.
Seminar dan Diskusi Panel Simposium Internasional PPI Dunia 2026 yang mencantumkan Fadli Zon sebagai Our Panel Seminar Speaker dijadwalkan berlangsung pada Senin (21/9) di Capital Palace, Kairo, Mesir. Pernyataan sikap Sema FSQ diterbitkan sehari sebelum agenda tersebut berlangsung.
Reporter: Fahdi Hishnuddin Rantisi
Editor: Faqih Billah





