Mahasiswa Berpartai Politik: Menolak Pragmatisme dan Mengejawantahkan Idealisme melalui Program Strategis
Mahasiswa sejak lama diposisikan sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mampu membaca arah zaman sekaligus mengoreksi penyimpangan kekuasaan. Dalam konteks politik modern yang kerap diwarnai pragmatisme—orientasi jangka pendek, transaksi kepentingan, dan kalkulasi elektoral semata—kehadiran mahasiswa di dalam partai politik sering dipandang ambigu. Di satu sisi, mereka berisiko terseret arus kompromi nilai. Di sisi lain, justru di sanalah terbuka ruang strategis untuk menerjemahkan idealisme menjadi kebijakan nyata. Pertanyaannya bukan lagi apakah mahasiswa boleh berpartai, melainkan bagaimana mereka dapat menolak pragmatisme dan mengejawantahkan idealisme melalui program strategis.
Mahasiswa dan Tantangan Pragmatisme Politik
Pragmatisme politik tumbuh subur ketika tujuan jangka pendek mengalahkan visi jangka panjang. Politik direduksi menjadi soal menang-kalah, bukan benar-salah atau adil-tidak adil. Dalam situasi ini, mahasiswa yang masuk ke partai politik menghadapi godaan besar: menyesuaikan diri demi posisi atau mempertahankan integritas dengan risiko terpinggirkan.
Namun sejarah gerakan mahasiswa menunjukkan bahwa kekuatan utama mereka bukan pada posisi formal, melainkan pada keberanian moral dan ketajaman analisis. Ketika mahasiswa memilih jalur partai, mereka membawa modal sosial berupa kepercayaan publik, tradisi kritik, dan semangat perubahan. Modal ini menjadi benteng terhadap pragmatisme—asal disertai kesadaran bahwa politik adalah arena perjuangan nilai, bukan sekadar mobilitas karier.
Idealisme sebagai Kompas Politik
Idealisme mahasiswa sering disalahpahami sebagai utopianisme. Padahal, idealisme adalah kompas normatif: seperangkat prinsip yang memandu arah tindakan. Tanpa kompas ini, aktivitas politik mudah terombang-ambing oleh kepentingan sesaat.
Mahasiswa berpartai perlu memaknai idealisme bukan sebagai slogan, melainkan kerangka kerja. Idealisme menuntut konsistensi antara gagasan dan praktik, antara kritik dan solusi. Ini berarti mahasiswa tidak cukup hanya menyuarakan penolakan terhadap kebijakan yang tidak adil, tetapi juga harus menawarkan alternatif yang terukur dan dapat diimplementasikan.
Program Strategis sebagai Jembatan Ide dan Realitas
Di sinilah program strategis menjadi kunci. Program strategis adalah jembatan antara idealisme dan realitas politik. Ia bukan sekadar daftar janji, melainkan peta jalan perubahan yang berbasis riset, kebutuhan masyarakat, dan keberlanjutan kebijakan.
Mahasiswa memiliki keunggulan dalam merancang program semacam ini karena kedekatannya dengan tradisi akademik. Pendekatan berbasis data, analisis kebijakan, dan dialog lintas disiplin memungkinkan mereka merumuskan solusi yang tidak populis semata, tetapi substantif.
Contoh pendekatan strategis yang dapat dikembangkan antara lain:
- Politik berbasis riset: setiap usulan kebijakan didukung kajian akademik yang transparan.
- Partisipasi publik: membuka ruang dialog dengan komunitas kampus dan masyarakat sipil.
- Pengawasan internal: mendorong budaya akuntabilitas di dalam partai.
- Kaderisasi ideologis: memastikan regenerasi politik tetap berpijak pada nilai, bukan oportunisme.
Program strategis semacam ini membantu mahasiswa mempertahankan identitas intelektualnya sekaligus menunjukkan bahwa idealisme dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang operasional.
Etika, Konsistensi, dan Keberanian
Masuknya mahasiswa ke partai politik menuntut kedewasaan etis. Mereka harus siap menghadapi konflik kepentingan, tekanan organisasi, dan realitas kompromi. Kuncinya bukan menolak kompromi secara absolut, melainkan memastikan bahwa setiap kompromi tidak mengkhianati prinsip dasar.
Konsistensi menjadi ujian utama. Publik cepat menangkap inkonsistensi antara retorika mahasiswa dan praktik politiknya. Karena itu, keberanian untuk berbeda pendapat di internal partai—dengan argumentasi rasional—adalah bentuk nyata dari idealisme yang hidup.
Penutup
Mahasiswa berpartai politik bukanlah pengkhianatan terhadap semangat kritis kampus, melainkan peluang untuk memperluas medan perjuangan. Dengan menolak pragmatisme dan mengedepankan program strategis, mahasiswa dapat membuktikan bahwa politik tidak harus kehilangan dimensi moralnya.
Idealisme yang dipadukan dengan strategi bukanlah romantisme, melainkan fondasi perubahan yang berkelanjutan. Di tangan mahasiswa yang sadar nilai dan terampil merancang kebijakan, partai politik dapat menjadi ruang transformasi—tempat gagasan besar bertemu dengan tindakan nyata demi kepentingan publik.
Penulis: Ferri Saktiawan Pratama (Pelaksana Pendidikan dan Kaderisasi Partai Gerindra Mesir)
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




