by

Klarifikasi Yayasan Pondok IBBAS Perihal Konflik yang Terjadi dalam Rumah Binaannya di Kairo

Informatikamesir.net, Kairo—Perwakilan dari Yayasan Pondok Tahfidz Qur’an Ibnu Abbas (IBBAS) Serang, Wahyu Ramadhan yang juga salah seorang Penanggung Jawab di Rumah Binaan IBBAS Kairo, akhirnya memberikan surat klarifikasi kepada Informatika beberapa waktu lalu, perihal konflik yang terjadi dalam rumah binaan tersebut.


Sebelumnya, diduga telah terjadi beberapa konflik internal di dalam rumah binaan IBBAS Kairo, berdasarkan pengakuan dari beberapa santri yang pernah tinggal di dalamnya. Hal ini diketahui juga dari adanya surat pernyataan sikap PPMI Mesir bernomor 02-A20/DP-PPMI/XXVI/VIII/2020 yang diedarkan pada Kamis, (13/8/2020). Salah satu poinnya menyatakan, PPMI Mesir tidak ingin ikut campur tangan terkait konflik kepentingan yang ada dalam manajemen IBBAS.


Namun Mudir (Pembina) Yayasan Pondok Tahfidz IBBAS, Wijaksana Santosa, dalam surat klarifikasinya membantah beberapa poin pemberitaan terkait konflik yang terjadi di dalam rumah binaan IBBAS Kairo itu. Berikut poin klarifikasi yang ia sampaikan:


Wijaksana Tegaskan IBBAS Tidak Pernah Lakukan Pemerasan
Wijaksana menegaskan bahwa IBBAS tidak pernah melakukan pemerasan dalam manajemennya. Ia mengatakan, semua perubahan biaya hidup para santri rumah binaan IBBAS di Kairo itu sudah mereka sampaikan ke pihak wali santri, dan sudah disepakati bersama sebelum dilakukan.


Biaya hidup tersebut mereka sesuaikan dengan situasi dan kondisi perekonomian di Mesir. Bahkan menurut Wijaksana, IBBAS menggratiskan biaya sewa rumah dan biaya hidup beberapa santri karena faktor ekonomi, dalam hal ini mereka yang masuk dalam kategori yatim dan ekonomi lemah. IBBAS juga memberikan keringanan bahkan sampai menggratiskan biaya Bimbingan Belajar (bimbel) dan tahfiz bagi santri yang ekonominya lemah.


Tidak hanya itu, IBBAS pun membantu banyaknya santri yang terkendala dalam biaya pemberangkatan ke Mesir. Menurut Wijaksana, hal itu dilakukan karena IBBAS mengapresiasi semangat orang tua dan santri untuk menimba ilmu di Mesir.


Begitu juga dalam hal iuran bulanan, Mudir IBBAS mengatakan banyak wali santri yang terlambat membayar, padahal santri harus makan menggunakan uang tersebut. Maka IBBAS pun sering menutupi kekurangan itu dengan segala upaya, agar para santri tetap bisa belajar dengan tenang dan tidak kelaparan.


“Ini bukan pemerasan, tapi merupakan solusi bagi masalah,” tegas Wijaksana dalam surat klarifikasinya itu.


Ia juga menambahkan, iuran bulanan yang sejumlah 2,5 juta itu tidak pernah berubah hingga saat ini. Kalaupun bertambah, biasanya karena santri meminta tambahan uang saku, membeli pemanas air dan tempat tidur karena musim dingin, membayar bimbel bahasa, iuran tahfiz, dan atau keperluan pribadi lainnya, seperti selimut, jaket musim dingin, dan lain sebagainya.


Wijaksana Bantah Iuran Program Tahfiz Berkisar USD 150 per Bulan
Salah seorang santri yang pernah tinggal di rumah binaan IBBAS Kairo mengatakan, biaya program tahfiz mereka sekitar USD 150 per bulan. Namun Wijaksana mengklarifikasi hal ini bahwa biaya program tersebut adalah USD 120 per 3 bulan, bukan per bulan.


Kata Wijaksana, syekh pembimbing program Tahfiz itu tidak memaksakan biayanya. Santri yang ikut pun tidak semuanya bayar penuh, ada yang setengahnya, dan ada yang bayar USD 30 saja. Bahkan sebagian besar digratiskan oleh syekh karena rasa sayangnya terhadap para santri.


Mudir IBBAS Klarifikasi Program Tahfiz yang Baru Mulai pada Februari

Terkait pengakuan salah seorang santri yang katanya dijanjikan akan ada program tahfiz setelah keberangkatan mereka ke Mesir pada September, tetapi programnya baru dimulai pada bulan Februari, Mudir IBBAS jelaskan bahwa wali santri memberikan komitmennya USD 120 dan USD 50 per 3 bulan, bahkan ada yang gratis, itu pada 26 Februari.


Dalam klarifikasinya, Wijaksana mengungkapkan, sehari setelah komitmen wali santri, program tahfiz pun langsung mereka mulai, meskipun wali santri belum bayar iurannya. Kemudian pada Maret, IBBAS membayar lunas semua komitmen wali santri kepada syekh, meskipun wali santri ada yang membayar dengan mencicil, bahkan ada yang belum lunas sampai sekarang.


Kendati demikian, pihak IBBAS tidak mempermasalahkannya. Sebab menurut Wijaksana, dikarenakan kondisi pandemi COVID-19, banyak wali santri yang terkendala dalam hal ekonomi.

IMG 20200919 WA0030 - Klarifikasi Yayasan Pondok IBBAS Perihal Konflik yang Terjadi dalam Rumah Binaannya di Kairo
Permohonan Koreksi Berita dan Pemuatan Klarifikasi IBBAS kepada Informatika (Sumber: Dok. Informatika/Defri)


Pihak IBBAS Luruskan Perihal Biaya Visa yang Capai 10 Juta Rupiah
Salah seorang santri yang pernah tinggal dalam rumah binaan IBBAS Kairo menyebutkan biaya visa mereka mencapai 10 juta rupiah. Hal ini menurut Wijaksana keliru, sebab biaya pengurusan visa sudah ada ketentuannya di imigrasi.


Sedang menurut Ramadhan—orang yang memberikan surat klarifikasi—ketika ditanya oleh Informatika, pengurusan visa yang mencapai 10 juta rupiah sewaktu awal pemberangkatan sebelum para santri ke Mesir itu masih kurang jelas, apakah benar-benar untuk visa semuanya, ataukah ada biaya akomodasi, dan lain sebagainya. Menurutnya, kabar tersebut masih simpang siur.


“Makanya Ana juga kurang tahu ini mereka ngomong kayak gitu atas dasar apa? Kok bisa 10/8 juta. Sepengetahuan Ana selama Ana di IBBAS, Ana gak menemukan itu juga,” ujar Ramadhan.


Mudir IBBAS: Santri ke Mesir untuk Menuntut Ilmu, Bukan yang Lainnya
“Tujuan santri ke Mesir adalah untuk menuntut ilmu, bukan yang lainnya. Karena santri baru datang, maka penguatan bahasa jadi prioritas, baik bimbel maupun tahfiz. Tahun-tahun awal bagi santri baru adalah tahun-tahun genting pembentukan habit (kebiasaan) ilmu, khususnya bahasa, akhlak, ibadah, pergaulan, dan sebagainya. Tentu ini membutuhkan alokasi waktu, tenaga, dan pikiran yang cukup,” tegas Mudir IBBAS.


Hal tersebut ia ungkapkan dalam menanggapi pengakuan salah seorang santri yang mengatakan, pihak IBBAS memfitnah santri tersebut sering jalan-jalan ke kafe, tanpa ada klarifikasi terlebih dahulu terkait kejadian sebenarnya.


Menurut Wijaksana, itu karena IBBAS sangat ketat mengontrol aktivitas santri di luar rumah, penggunaan HP, kegiatan bimbel bahasa, dan sebagainya. Itu semua mereka lakukan agar para santri fokus, dan semata-mata demi kesuksesan santri itu sendiri.


Ia juga berpendapat, apa yang IBBAS lakukan itu sejalan dengan imbauan PPMI Mesir, KBRI Kairo, bahkan Universitas Al-Azhar Kairo sendiri, agar senantiasa memperhatikan aspek pergaulan para pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir.


“Apa yang dilakukan IBBAS justru ingin membantu menjaga harga diri dan kehormatan para pelajar itu sendiri, khususnya yang tinggal di IBBAS. Umumnya membantu menjaga kehormatan dan martabat bangsa dan negara Indonesia di mata dunia, khususnya tuan rumah masyarakat Mesir,” tambah Wijaksana.


Wijaksana Luruskan Maksud Pemberian Uang oleh Syekh kepada Pihak IBBAS
Wijaksana meluruskan serta mengklarifikasi bahwa maksud seorang syekh memberikan sejumlah uang kepada pihak IBBAS itu sebagai pinjaman cadangan di kala pandemi, khawatir orang tua santri kesulitan mengirimkan uang dari Indonesia dikarenakan situasi yang tidak kondusif. Olehnya, IBBAS sangat berterima kasih atas kepedulian syekh terhadap mereka.


Namun, kata Wijaksana, uang tersebut tidak pernah IBBAS gunakan, sebab mereka tidak ingin berhutang, dan uang tersebut sudah dikembalikan kala itu. Sementara kebutuhan santri selama pandemi menurutnya masih tercukupi.


Selain poin-poin yang terdapat dalam surat klarifikasi itu, Ramadhan juga menanggapi beberapa kabar yang beredar. Misalnya kabar tentang pengurus IBBAS yang men-screenshot beberapa snapgram orang-orang di luar IBBAS yang menurut mereka kurang benar, kemudian ditampilkan di layar proyektor untuk diperlihatkan kepada para santri di dalam rumah binaan IBBAS, dengan melarang mereka mengikuti hal tersebut.


Ramadhan mengaku sambil bersumpah, selama ia berada di IBBAS belum pernah menyaksikan, dan belum tahu apakah ada aktivitas seperti itu di IBBAS. Ia juga kurang tahu mengapa bisa ada kabar seperti itu yang beredar.


Bahkan menurutnya, ada beberapa yang menanyakan kepadanya perihal kabar para santri yang katanya harusnya dimasakkan makanan, malah diberi telur dan mereka masak sendiri. Ramadhan membenarkan hal itu, tetapi itu hanya untuk sarapan pagi, sebab kalau pagi tidak ada petugas IBBAS yang memasak, dan agar para santri juga tidak terlambat berangkat ke sekolah.


Juga terkait kabar yang mengatakan, tidak adanya kegiatan di IBBAS. Ramadhan membenarkan hal itu, sebab jelas dalam kondisi pandemi, kegiatan vakum. Begitu pun di hari libur, Jumat dan Sabtu, kegiatan mereka tetap diliburkan. Itulah mengapa ia membenarkan kabar tersebut.


“Mereka gak salah. Mereka itu cuman dapat informasi setengah-setengah. Harusnya di-tabayun (diklarifikasi-Red) dulu, sebelum disebarluaskan ke seluruhnya,” pungkas Ramadhan.


Reporter: Defri Cahyo Husain
Editor: Naya Salsa

Comment

Berita Lainnya