Informatika Mesir
Home Sastra & Cerpen Harusnya Kumpul Sekarang

Harusnya Kumpul Sekarang

Ilustrasi Ruang Hampa. Sumber: Tim Informatika Mesir

Harusnya kita sudah kumpul sekarang, tapi aku masih tak bisa memulainya. Lihat saja, ruangan ini masih kosong kecuali satu orang di pojok sana. Ia bahkan datang lebih dulu dariku.

Semoga saja ia terus begitu. Setidaknya masih ada satu orang yang layak ditiru di rapat yang tak pernah mulai tepat waktu. 

Apakah ada rapat yang isinya hanya dua orang?

Bukan apa-apa, hal ini senantiasa begitu, bukan juga karena akunya yang ingin begitu. Justru aku pun berusaha supaya tidak seperti itu, dari menentukan kumpul jauh-jauh hari, kemarin pun tak lupa mengingatkan mereka dulu, bahkan sejam sebelum waktu itu sudah kuingatkan agar ingat selalu. Tapi tetap saja begini. Masa harus dijemput satu-persatu?

Oh tidak, sudah lewat 30 menit, tapi yang hadir masih SATU! 

Sebentar-sebentar, coba kulihat grup. Aduuh, yang kelihatan hidup cuman satu, itu pun yang sudah hadir di pojok itu. Tenang-tenang, biar kupanggil dulu di grup.

Hmmm, tak terlalu baik. Oke, akan kupanggil mereka satu-persatu. Kuharap orang di pojok itu tetap sabar menunggu.

OTW.”

45 menit berlalu, akhirnya ada juga yang hidup. Sekarang bagaimana? Apalagi, tentu saja menunggu. 

Tapi tunggu dulu, ini kan bukan sekadar kumpul-kumpul. Beberapa hari lagi acara besar akan bertemu, maka kumpul ini pasti perlu. Semua orang tahu ini penting, sayangnya kenapa mereka tetap begitu? Padahal dua minggu lalu orang-orang menyambut supaya acara ini tidak biasa seperti yang dulu-dulu.

Eh, ya ampuun, kan jam tujuh ada janji lain untuk bertemu. 

Bagaimana bisa aku lupa hal itu?

Tapi jarum menit sudah satu putaran berlalu, dan rapat ini masih saja menunggu. 

Kenapa orang-orang menanggapi sesuatu semudah itu? Bukankah setiap orang memiliki waktu?

Ah, sudahlah. Mau gimana lagi? Kalau bukan teman sendiri, mana sudi aku duduk selama ini.

***

Harusnya rapat sudah dimulai sekarang, tapi bagaimana mungkin memulainya.

Lihat saja, ketua itu baru datang setelah sepuluh menit. Padahal diriku sudah menunggu dari 20 menit lalu. Sialnya, sampai sekarang aku terus menunggu. Kalau bukan karena tahu harga diriku, mana mungkin aku mau begitu. Meskipun rapat tak pernah bisa tepat waktu. 

Apakah ada rapat yang isinya hanya dua orang?

Bukan apa-apa hal ini senantiasa begitu, bukan pula si ketua inginnya begitu. Justru ketua itu “yang katanya berusaha” supaya segala hal tepat waktu, dari mengajak yang lain datang tak harus ditunggu, sampai sadar untuk menghargai waktu. Tapi, tak mungkin cuman dengan itu yang begitu langsung berlalu. Bukan berarti juga harus dijemput satu-persatu.

Sudah 30 menit, tapi ruangan ini masih satu. Coba kulihat grup. Lucu, cuman satu yang hidup, itu pun diriku. Oh, sudah nambah satu, tak perlu kaget, yang hidup ketua itu untuk ribut di grup.

Tak ada jawaban, sepertinya perlu memanggil satu-persatu.

OTW.

45 menit berlalu, akhirnya ada juga yang minat hidup. Sekarang bagaimana? Mana kutahu, tanya saja ketua itu.

Tunggu dulu, ini kan bukan sekadar kumpul tak perlu. Beberapa hari lagi acara yang ditunggu-tunggu ingin bertemu, pastinya kumpul ini sangat butuh. Semua orang pun tahu ini penting, sayangnya mereka memilih tak acuh. Padahal dua minggu lalu orang-orang menyambut supaya acara ini tidak biasa seperti dulu-dulu.

Oiya, si ketua itu di lain waktu ada kumpul dan itu di hari ini pukul tujuh. Tapi, menurutku dia tak akan sempat menjemput. 

Coba pikir, Jarum menit sudah satu putaran berlalu, dan rapat ini masih saja tak tau waktu.

Kurasa orang-orang memang tak minat sungguh-sungguh, tapi kalau begitu aku akan terus begitu.

Ah, sudahlah. Kalau bukan teman sendiri, mana mau aku menunggu.

***

Harusnya sih sudah kumpul, tapi biasanya tak akan bisa dimulai.

Tak perlu dilihat, ruangan itu pasti masih kosong. Paling satu orang yang hadir sebelum waktu ini dan dia lebih rajin dari ketua itu.

Kira-kira berapa lama ia akan bertahan terus? Hmmm, entah lah, kurasa sampai ia sadar kalau ia tak perlu begitu. 

Apakah ada rapat yang isinya hanya diri sendiri?

Bukan apa-apa hal ini begitu, bukan juga akunya yang ingin begitu. Tapi. memang keadaannya yang selalu begitu. Jadi, aku menyesuaikan keadaan dulu. Meskipun si ketua berusaha menghindari supaya hal itu tidak terjadi melulu. Tapi kalau memang tetap selalu begitu, apa gunanya mengingat terus?

30 menit berlalu, sepertinya orang-orang masih pada turu. Aku pun mana mau sekarang beranjak menuju tempat itu.

Ting!

Ting!

Ting!

Oke, ketua itu sudah mulai ngajak ribut. Sebentar, aku mau makan ayam krispi dulu.

OTW.”

Sudah 45 menit berlalu, sudah saatnya beranjak dari kasur. Sekarang bagaimana? Ya jalan lah, masa lanjut turu.

Tapi tunggu dulu, ini kan bukan sekadar kumpul buang waktu. Beberapa hari lagi acara besar akan bertemu, dan kumpul kali ini pasti akan sangat perlu. Ya, aku tahu ini penting, tapi bukan berarti tak perlu membaca kebiasaan. Kuingat dua minggu lalu orang-orang semangat ingin acara ini tak biasa seperti dulu-dulu. Iya kutahu, kutahu itu, cepat atau lambat kan nanti kumpul?

Oiya, si ketua itu ada perlu lain di jam tujuh. Ah, mana perlu kupikirkan hal seperti itu.

Sudah sejam berlalu, kurasa rapat akan dimulai. Ini namanya bukan sudah tepat waktu, tapi sudah semestinya begitu. Ketua pun tak mungkin marah-marah dulu, apalagi hendak menghukum satu persatu. Sama teman sendiri kan mana mungkin begitu.

Krek…

Pintu terbuka.

Duh, ternyata aku datang terlalu cepat.

***

Harusnya mereka sudah mulai dari tadi, tapi yang hadir masih saja menunggu.

Katanya, ruangan itu masih kosong kecuali satu yang lebih rajin dari ketua itu.

Kurasa memang dia saja yang cerdas masalah waktu. Meskipun ia harus menghadiri rapat yang tak mengerti waktu. 

Apakah ada rapat yang isinya hanya dua orang?

Bukan apa-apa mereka begitu, bukan juga ketua yang menginginkannya begitu. Justru dia bilang sedang berusaha supaya tak selalu begitu. Dari cuman ngomong sampai cuman ngomong. Tapi, katanya hal ini tetap saja begitu. Ya, memang masalahnya karena lupa waktu?

30 menit berlalu, yang hadir tetap saja hanya yang datang tepat waktu. Si ketua itu langsung memanggil-manggil di grup.

Hmmm, kurasa tak akan mempan untuk orang-orang seperti itu.

OTW.”

Baru ada yang hidup setelah 45 menit berlalu. Kalau majelis taklim, orang-orang datang sebelum ustaz. Tapi, mungkin memang beda cara mengatur waktu. Atau memang tidak pernah praktik manajemen waktu!?

Tunggu dulu, katanya kumpul itu perlu. Sebab beberapa hari lagi acara besar akan bertemu. Kalau begitu, semua orang pun tahu ini penting, tapi sayangnya tetap saja seperti itu. Katanya, mereka kemarin berapi-api ingin lebih baik dari sebelum itu. Lucu. Minimal, urus diri sendiri dulu.

Setelah sejam berlalu, mereka mendengar suara pintu,

“Krek…”

Pintu terbuka.

Akhirnya seseorang datang. Kemudian, ia melihat ruangan yang hampir kosong.

“Maaf telat,” katanya sambil duduk, 

“barusan OTW.”

Kairo, 8 Maret 2026

Penulis: Ananda Habib Husein

Editor : Muhammad Faiz Ardhika

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad