Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa Dua Kasus, Satu Pola: Ilusi Kepercayaan di Balik Prestasi

Dua Kasus, Satu Pola: Ilusi Kepercayaan di Balik Prestasi

Dua kasus dengan pola yang hampir identik terjadi dalam waktu yang tidak berjauhan. Pelaku berasal dari posisi yang sama—pengajar bimbingan belajar, berprestasi secara akademik, dan memiliki reputasi yang baik di mata lingkungan. Jika ini terjadi sekali, mungkin kita masih bisa menyebutnya sebagai penyimpangan. Namun ketika pola yang sama muncul kembali, sulit rasanya untuk terus menganggapnya sebagai kebetulan semata.

Kesamaan ini perlahan menggeser pertanyaan kita. Bukan lagi sekadar siapa pelakunya, tetapi bagaimana pola ini bisa muncul kembali dalam bentuk yang hampir serupa. Apakah ini benar-benar persoalan individu, atau ada cara pandang yang tanpa disadari turut memberi ruang bagi kejadian seperti ini untuk terulang?

Ada satu asumsi yang selama ini terasa begitu wajar: bahwa kecerdasan akan membawa seseorang pada kebijaksanaan, pendidikan akan membentuk karakter, dan mereka yang berprestasi lebih memahami batas antara benar dan salah. Namun realitas berulang kali menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Ada celah yang sering luput kita sadari—celah antara kecerdasan dan integritas.

Kecerdasan melatih cara berpikir, tetapi tidak selalu melatih cara merasa. Ia membentuk logika, tetapi tidak otomatis menumbuhkan empati. Dalam beberapa situasi, kecerdasan bahkan dapat digunakan untuk merasionalisasi kesalahan, bukan mencegahnya. Di titik ini, menjadi penting untuk menyadari bahwa capaian akademik tidak serta-merta menjamin kematangan moral.

Dalam psikologi sosial, kecenderungan untuk mengaitkan satu kelebihan dengan keseluruhan karakter seseorang dikenal sebagai Halo Effect. Ketika seseorang terlihat cerdas, religius, atau berprestasi, kita dengan mudah memperluas penilaian itu ke aspek moralnya. Hal ini sering diperkuat oleh Authority Bias, di mana posisi sebagai pengajar atau figur yang dihormati membuat seseorang lebih mudah dipercaya. Tanpa disadari, kepercayaan ini bisa menjadi terlalu utuh—tanpa ruang untuk mempertanyakan.

Dalam relasi seperti pengajar dan murid, terdapat dimensi ketimpangan yang tidak bisa diabaikan. Relasi ini tidak sepenuhnya setara, dan dalam kondisi tertentu dapat membuka peluang terjadinya penyalahgunaan. Dalam kajian psikologi, hal ini dipahami sebagai Power Dynamics, di mana pihak yang memiliki otoritas berada pada posisi yang lebih dominan. Dalam situasi seperti ini, kepercayaan yang diberikan tidak hanya menjadi tanggung jawab, tetapi juga menjadi potensi yang bisa disalahgunakan.

Di sisi lain, kita juga perlu melihat bagaimana seseorang bisa tetap merasa “baik” meskipun melakukan pelanggaran. Dalam konsep Moral Licensing, seseorang yang merasa dirinya telah melakukan banyak hal benar dapat, secara tidak sadar, memberi ruang bagi dirinya untuk menyimpang. Kebaikan yang dimiliki tidak lagi menjadi pengendali, melainkan berubah menjadi pembenaran.

Proses ini sering berjalan bersamaan dengan apa yang disebut sebagai Cognitive Dissonance, di mana individu berusaha menjaga citra dirinya tetap positif meskipun tindakannya bertentangan dengan nilai tersebut. Dengan cara ini, kesalahan tidak selalu diakui sebagai kesalahan, tetapi dinegosiasikan—diperkecil, dimaklumi, atau bahkan diabaikan.

Kasus terbaru juga menghadirkan dimensi lain yang menarik untuk dicermati, yaitu fakta bahwa pelaku telah berstatus menikah. Dalam banyak pandangan sosial, status ini sering diasosiasikan dengan kedewasaan dan kestabilan moral. Namun realitas menunjukkan bahwa status tidak selalu berbanding lurus dengan integritas. Dalam beberapa situasi, justru status sosial dapat memperkuat kepercayaan publik, sehingga kewaspadaan menjadi berkurang.

Meski demikian, terdapat satu perkembangan yang patut diapresiasi. Pada kasus terbaru, respons terhadap pelaku terlihat lebih cepat dan tegas. Ia tidak lagi dibiarkan tanpa tindak lanjut, melainkan langsung ditangani oleh pihak yang berwenang. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran kolektif mulai bergerak, bahwa kasus seperti ini tidak lagi sepenuhnya dipandang sebagai sesuatu yang bisa diabaikan.

Namun demikian, satu pertanyaan tetap perlu dijaga: apakah ini akan menjadi pola baru dalam merespons, atau hanya reaksi sesaat terhadap satu peristiwa?

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi, apalagi menuduh secara luas. Ia adalah ajakan untuk melihat ulang cara kita menilai manusia. Bahwa selama ini, kita mungkin terlalu cepat mengaitkan kecerdasan dengan integritas, terlalu mudah percaya pada citra, dan terlalu jarang memberi ruang pada kewaspadaan.

Lebih dari itu, tulisan ini juga merupakan sikap bahwa tindakan seperti ini tidak dapat dianggap sebagai hal biasa dalam bentuk apa pun. Setiap upaya meremehkan, membenarkan, atau menormalisasi—sekecil apa pun—berisiko memperlebar ruang bagi kejadian serupa untuk terulang.

Jika pola yang sama terus muncul, maka mungkin yang perlu kita perbaiki bukan hanya individu yang terlibat, tetapi juga cara kita melihat, mempercayai, dan merespons. Karena pada akhirnya, pencegahan tidak hanya bergantung pada siapa pelakunya, tetapi juga pada seberapa serius kita memastikan bahwa kepercayaan tidak berubah menjadi celah.

Mungkin di titik ini, kita tidak lagi cukup hanya bertanya siapa yang bersalah. Kita juga perlu mulai bertanya: apakah selama ini kita sudah cukup waspada, atau justru terlalu percaya?

Penulis: Naili Mar’atil Fitriyah

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad