Cinta yang Tidak Pernah Lahir
Aku tidak tahu sejak kapan berhenti percaya pada keadilan. Mungkin sejak ayah dipecat karena menolak menandatangani laporan palsu, atau sejak kulihat berita di televisi: pejabat yang mencuri miliaran bisa tertawa di sidang, sementara seorang ibu ditangkap karena mengambil beras bantuan.
Dunia ini aneh, ia menghukum yang lapar, tapi memeluk yang rakus.
Ardan, itulah namaku. Hanyalah pegawai lepas di media kecil. Tugasku menulis berita, tapi rasanya seperti mengubur nurani sendiri. Redakturku berkata, “Tulisan yang jujur tidak laku. Orang hanya ingin baca yang enak,”
Aku tertawa pahit. Kebenaran, rupanya, tak lagi punya pasar.
Sampai aku bertemu Dira, perempuan yang datang seperti jeda di antara berita buruk. Dia penulis puisi di majalah sastra yang hampir bangkrut.
Kami bertemu di ruang redaksi yang pengap, berbagi sisa rokok dan keluhan tentang hidup.
“Kadang aku iri sama orang-orang yang bisa bahagia tanpa merasa bersalah,” katanya.
Aku menatapnya lama, mencoba mencari di matanya: apakah ia masih punya harapan? Tapi yang kulihat hanya kelelahan yang sama, seperti bayanganku di cermin.
Sejak itu, kami sering pulang bersama. Kota menua di sekitar kami, lampu-lampu jalan seperti mata yang hampir padam.
Kami bicara banyak hal: tentang cita-cita yang patah, tentang idealisme yang dikubur di balik gaji kecil, tentang cinta yang terasa mustahil tumbuh di dunia yang sekarat.
Suatu malam, di warung kecil tempat kami biasa ngopi, Dira berkata, “Kalau dunia ini adil, kita enggak akan ketemu.”
Aku terdiam, “Maksudmu?”
“Karena orang-orang baik nggak akan dibuat saling bersandar hanya untuk bertahan hidup.”
Aku tak bisa menjawab. Hujan turun deras sekali. Di tengah bunyi rintiknya, aku menyadari: kami jatuh cinta bukan karena ingin, tapi karena sama-sama lelah.
Beberapa bulan kemudian, kantor kami ditutup. Dana habis, iklan kosong, berita-berita harus tunduk pada pemilik modal.
Dira mencoba bertahan dengan menulis puisi protes, tapi puisinya tak dimuat, dianggap terlalu ‘gelap’. Ia mulai jarang keluar rumah, dan malam-malamnya diisi dengan menatap langit-langit seperti menatap dunia yang menolak mendengarnya.
Aku mencoba melawan. Menulis artikel tentang korupsi di pemerintahan lokal. Tapi dua hari kemudian, aku dipecat. E-mail ancaman masuk ke ponselku bertuliskan: Jangan bermain api, Dan. Kami tahu di mana kau tinggal.
Aku berlari ke rumah Dira malam itu, hujan lagi. Selalu hujan kalau dunia sedang brengsek. Saat kubuka pintu, dia sedang menulis di kertas kusut, tangannya gemetar.
“Dira…” Dia menoleh, tersenyum samar.
“Katanya, cinta bisa menyelamatkan dunia,” ujarnya pelan, “Tapi kalau dunianya nggak mau diselamatkan, apa cinta masih punya tempat?”
Aku mendekat, memegang tangannya yang dingin, “Selama kau di sini, aku masih percaya sedikit,” kataku.
Dia menatapku, lalu berkata, “Kalau nanti aku pergi, jangan tulis aku sebagai korban. Tulis aku sebagai orang yang kalah melawan kebodohan dunia.”
Keesokan paginya, ia sudah tak ada. Di meja, hanya tersisa secarik puisi terakhirnya:
Mereka bilang cinta itu cahaya, tapi di negeri ini, cahaya dijual dalam botol bensin.
Mereka bilang Tuhan adil,tapi surga sudah dipesan sejak masa kampanye.
Jika kelak aku tiada, katakan pada dunia: aku pernah mencintai seseorang yang tetap jujur, bahkan ketika kejujuran tidak lagi berguna.
Aku membacanya berulang kali, sampai huruf-hurufnya kabur oleh air mata.
Di luar, kota masih berjalan seperti biasa, mobil-mobil berderu, manusia berdesak, dan keadilan tetap bersembunyi di balik pagar tinggi.
Kini aku menulis lagi. Bukan untuk koran, bukan untuk uang, tapi untuk Dira.
Setiap kalimatku adalah peluru kecil yang kutembakkan pada dunia yang terlalu sombong untuk tahu cara mencintai balik.
Karena cinta kami, ternyata, bukan kisah dua orang yang bahagia,tapi dua luka yang saling menemukan rumah di tubuh satu sama lain.
Penulis: Umar Mogalana
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




