Informatika Mesir
Home Sastra & Cerpen Anjing Berkicau

Anjing Berkicau

Di suatu kampung, sejak pagi, burung itu terbang dengan cepat dan tinggi, anjing-anjing mulai menyalak, menggonggong tanpa ingin berlari mencari burung itu. Awalnya cuma satu dua anjing yang menggonggong, tetapi lama-lama satu kampung ikut menggonggong, menyalak, mengumpat dengan liar tanpa ingin berpikir dan berlari mencari tau keberadaan burung itu.

Kampung itu bernama kampung Warganet. Pagi itu, anjing di kampung itu masih saja tak henti-hentinya menggonggongi burung yang terbang dan tinggal di pepohonan yang rindang itu. Tidak ada yang tahu apa salah burung-burung itu, ia tak pernah memakan daging, tak mencuri tulang dan jarang membuang kotoran sembarangan, padahal burung itu hanya berkicau dengan merdu dan tak pernah menimbulkan kekacauan.

Burung itu tinggal di sebuah pohon yang rindang. Pohon rindang tersebut telah tumbuh ratusan tahun lamanya, menumbuhkan akar yang merangkul bumi dan menjadi pusat kehidupan sekitarnya. Di sekelilingnya, sungai mengalir jernih, sawah membentang hijau, udara sejuk menghidupi setiap makhluk yang mau bernapas. Pohon itu memberi tanpa memilih, ia memberikan kehidupan berupa mata air, buah-buahan, udara yang sejuk serta tempat bernaung bagi siapapun yang hidup di bawah naungannya.

Entah siapa yang memulai, munculah isu buruk terhadap burung tersebut, entah darimana asalnya, tiba-tiba saja kabar itu meluas di kampung Warganet, katanya ada burung dari pohon lain yang berkicau agar mau dipuji, katanya lagi burung itu sok alim, sok tahu, hingga muncullah kasus burung dari pohon lain yang membuang kotoran di kampung Warganet tersebut sehingga menimbulkan banyak narasi buruk terhadap burung tersebut dan tololnya menghukumi bahwa semua burung itu buruk.

Hingga akhirnya, segerombolan anjing berkumpul di bawah bayang-bayang sore, membicarakan sesuatu yang mereka sebut kebenaran. Mereka menyiapkan sebuah cerita disusun rapi, dibungkus seperti fakta tentang seekor burung dari pohon lain yang katanya sama busuknya dengan burung yang tinggal di pohon rindang itu. Tujuannya sederhana, membuat seluruh kampung ikut menggonggong. Biar suara mereka terdengar seperti suara bersama, padahal cuma gema dari kebencian yang sama. Dari gonggongan itu, mereka mulai menyalak ke arah para tetua mereka yang dulu menanam, merawat, dan menjaga pohon rindang itu, jauh sebelum kampung ini punya nama.

Suatu hari, datanglah seekor anjing yang terkenal dengan gonggongannya—tidak terlalu paham arti kicauan—kemudian datang lalu menggonggongi salah satu burung yang sedang berkicau di atas salah satu menara surau.

“Ah, munafik! Masih mau berapa lama lagi kau berkicau? Menjadikan anugerah Tuhan sebagai ladang cuan?” lolong Anjing.

“Apakah sehina ini aku berkicau di hadapan penduduk kampung, yang mana kicauanku ini agar mengenal lebih dekat kepada tuhan sehingga kau menyalak marah?” sanggah Burung. Padahal, burung itu aman-aman saja, tidak diberi buah tangan dari penduduk kampung. Surau itu terhenti sejenak, dipadati dengan udara yang penuh gonggongan.

“Baiklah mulai besok kau boleh menggantikanku untuk berkicau di hadapan penduduk kampung,” tantang Burung.

“Hah, berkicau?! Memang kicauan apa yang harus kukicaukan di hadapan penduduk? Aku sudah terbiasa berbicara di depan penduduk kampung,” hardik Anjing.

Keesokan harinya, bukannya berkicau, si Anjing malah menggonggong dan menyalak. Bukannya berkicau membuat penduduk agar hatinya mengenal dan mengingat Tuhan, malah menggonggong menyebarkan kebencian terhadap burung itu dan menggiring penduduk agar menjauh dari kicauan sang burung yang mengajak agar mengenal Tuhan. Semakin jauh dari kicauan burung maka semakin jauh hatinya dari mengenal Tuhan. Semakin jauh hatinya dari mengenal Tuhan, maka semakin jauh hatinya tidak kenal Tuhan. Lambat laun, kicauan burung yang selalu ada setiap harinya sudah tidak terdengar di kampung itu karena sudah ramai dengan gonggongan kebencian dari anjing tersebut.

Keesokan harinya, di langit biru yang cerah terlihat segerombolan burung sedang terbang, tiba-tiba nampak tetua burung yang sedang terbang dengan anggun melintasi mereka. Gerombolan burung tersebut pun berhenti secara takzim memberikan jalan terhadap tetua burung tersebut. Dari bawah, seekor anjing menggonggongi gerombolan burung di atas.

“Dasar feodal, masih saja ada praktik-praktik kuno di zaman modern seperti ini!” gonggong Anjing dengan lantang sekali sampai giginya gemeretak.

Gerombolan burung di atas tidak ingin menanggapi gonggongan anjing di bawah. Seolah bunyi itu hanya angin lewat, jadi sesuatu yang tidak perlu dijawab. Anjing itu kemudian berjalan santai, lalu nampak berpapasan dengan anjing betinanya, lantas mengajaknya pergi ke sebuah taman yang indah, biar nampak romantis. Ia memberlakukan sang betina layaknya seorang ratu, merayunya, menjilat-jilat kakinya dengan penuh hasrat. Lama sekali, lama-lama dari kaki sampai ke atas.

Seperti itulah dinamika kehidupan di Kampung Warganet, yang patuh terhadap tetua dianggap feodal, yang patuh kepada betinanya dianggap romantis. Kalau ngasih hadiah ke tetua, tetua nyari uang, yang memberi uang ke betina dianggap so sweet, yang membantu tetua dianggap perbudakan, yang membantu betina dianggap effort, yang membela tetua terkena doktrin, yang membela betina dianggap heroik.

Akhirnya, kebencian terhadap tetua sudah menyebar luas. Warga kampung lebih memilih bercengkrama dengan betinanya daripada bercengkrama dengan tetuanya. Daripada mendengar kicauan para burung khususnya tetua, warga kampung lebih memilih mendengar rayuan betinanya. Lama-lama, ngalor-ngidul dengan betinanya sudah menjadi normal bagi warga kampung tersebut, dari kafe-kafe, warung-warung, taman, bawah pohon mereka lebih suka berduaan dengan betinanya serta saling jilat menjilat dengan penuh hasrat, dari bawah ke atas dari atas ke bawah setiap hari, hingga matahari terbit dari barat.

Penulis: Faqih Billah

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad