Informatika Mesir
Home Sorotan Pemikiran Bernas Naquib Al-Attas tentang Konsep Ta’dib

Pemikiran Bernas Naquib Al-Attas tentang Konsep Ta’dib

Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Sumber: UIN Sunan Ampel Surabaya.

Informatikamesir.net, Kairo – Indonesia dan bahkan umat Islam baru saja kehilangan tokoh intelektual. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Cendekiawan muslim dan filsuf ternama wafat di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Ahad (08/03/2026) di usia yang ke-95 tahun. 

Naquib Al-Attas lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Ia hidup di lingkungan yang terdidik. Dari keluarganya di Bogor, ia memperoleh pendidikan ilmu-ilmu keislaman. Sedangkan dari keluarga di Johor, ia memperoleh pendidikan yang dapat mengembangkan dasar bahasa, sastra, dan kebudayaan Melayu. Ia telah menulis lebih dari 30 buku dan berbagai artikel yang menyangkut masalah pendidikan, pemikiran, dan sejarah.

Naquib Al-Attas adalah orang yang pertama kali menemukan dan menghitung secara presisi mengenai inskripsi (kata-kata yang diukirkan pada batu, monumen, dan sebagainya) Terengganu. Teka-teki ini telah lama diteliti oleh para orientalis, namun tak dapat dipecahkan. Karya-karyanya yang lain juga menjelaskan secara gamblang tentang munculnya syair dalam kesusastraan bahasa Melayu.

Naquib Al-Attas juga dikenal sebagai peneliti pendidikan Islam yang brilian dan telah melahirkan formula-formula besar seperti, Islamisasi ilmu, standardisasi, interpretasi-interpretasi dalam Islam, dan konsep pendidikan Islam. Al-Attas berpendapat bahwa Islam itu harus selalu menjadi kompas moral agar kaum Muslim tidak didoktrin oleh pemikiran barat yang liberal dan sekuler.

Pendidikan menurut Pemikiran Bernas Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Menurut Naquib Al-Attas, pendidikan Islam tidak boleh terjebak dalam dikotomi ilmu. Islam harus mampu menyatukan berbagai aspek dalam ilmu pengetahuan baik itu ilmu agama, ilmu umum, dan filosofi. Dalam perspektifnya, pendidikan Islam berorientasi untuk mendidik dan membina manusia agar mampu menjadi manusia yang beradab dan berakal (insan kamil). 

Manusia dengan akal budinya dapat memberikan manfaat—melalui ilmu pengetahuan yang ia dapatkan—kepada umat serta dapat menjalankan kewajibannya sebagai ciptaan Tuhan baik dalam aspek material dan spiritualnya. 

Naquib Al-Attas menyoroti dan menekankan penggunaan kerangka epistemologi yang tepat dalam pendidikan Islam sehingga sesuai dengan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini, ia menekankan penggunaan yang tepat istilah ta’dib, taklim, dan tarbiah.  

Tarbiah dalam bahasa Arab berasal dari kata rabba yang berarti proses pertumbuhan, pemberian makan, dan pengasuhan (untuk menjadikan dewasa). Istilah ini dapat digunakan kepada banyak hal—tidak hanya manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan. Karena universalnya makna dari kata tersebut, Naquib Al-Attas berpendapat bahwa tarbiah tidak bisa digunakan sebagai istilah untuk pendidikan dalam arti Islam karena pendidikan dalam Islam hanya diperuntukkan untuk manusia semata.

Adapun istilah taklim memiliki makna yang lebih luas daripada tarbiah, yaitu informasi, nasihat, bimbingan, ajaran, serta latihan.  Menurut Naquib Al-Attas, istilah ini juga tidak dapat digunakan sebagai istilah untuk pendidikan dalam Islam karena maknanya masih terlalu sempit untuk mempresentasikan kata pendidikan. Pendapat Al-Attas ini ia rujuk pada surah Al-Jumu’ah ayat 2 yang berbunyi, “…wa yu’allimuhumul kitaba wal hikmata (dan dia yang mengajarkan kitab dan hikmah)…,” yang mana ayat tersebut menjelaskan proses Rasulullah SAW yang sedang mengajarkan Al-Qur’an kepada kaum muslimin. Sehingga istilah ini memiliki makna yang terlalu sempit untuk pendidikan yang memiliki makna yang lebih luas karena taklim hanya bermakna sebatas pengajaran. 

Dalam pemikiran Naquib Al-Attas, istilah ta’dib adalah yang paling tepat untuk pendidikan Islam. Ia melihat bahwa adab supervisi yang dibawa oleh Rasulullah saw. sebagaimana sabda beliau yang artinya, “Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian telah menjadikan pendidikanku yang terbaik.”

Tidak sampai di situ, menurutnya dalam istilah ta’dib, terdapat konsep-konsep pendidikan dan proses kependidikan dalam islam, yaitu konsep-konsep makna, ilmu,keadilan, kebijaksanaan atau hikmah, tindakan atau amal, kebenaran atau hak, nalar, jiwa atau nafs, hati atau kalbu, dan akal pikiran. Dalam perspektif Naquib Al-Attas, konsep-konsep ini memiliki keterkaitan makna satu sama lain yang memproyeksikan konsep pendidikan khas Islam.

Naquib Al-Attas menyimpulkan bahwa konsep-konsep tersebut memusatkan makna-maknanya ke dalam satu istilah utama yang terkandung dalam istilah “adab” atau ta’dib. Istilah ini menjadi istilah yang paling tepat dan memiliki makna yang komprehensif, yaitu ilmu dan amal. Menurutnya, orang yang beradab dapat memberikan proporsi yang tepat untuk ilmu dan amal. Tanpa adab, ilmu dapat digunakan pada yang tidak semestinya dan tanpa amal, ilmu akan kehilangan arah.

Referensi:

  • M. Hidayat dan Mulyanto (2023), Konsep Ta’dib menurut Naquib Al-Attas dalam Pendidikan Islam, ( Jurnal Tsaqofah).

Penulis: Ferdian Hudatullah

Editor: M. Saladin Ghaza

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad