by

PUSIBA Diutamakan, Pelajar Mutamayyiz di Kairo pun Ditelantarkan

Informatikamesir.net, Kairo—Kekeliruan pada sistem pembelajaran pelajar Dauroh Lughoh (DL) tingkat Mutamayyiz disinyalir telah mengakibatkan pihak pelajar dirugikan, khususnya dalam hal durasi waktu kelulusan yang diperlambat. Hal ini terindikasikan oleh adanya pemberhentian sementara proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh pihak DL Markaz Syaikh Zayd terhadap para pelajar tingkat Mutamayyiz di Kairo selama 2 bulan, terhitung dari akhir Juli 2020 hingga akhir September 2020.

Awalnya, pihak markaz memang meliburkan seluruh pelajar karena bertepatan dengan perayaan Idul Adha. Namun, pelajar yang sudah melaksanakan ujian tingkat Mutaqaddim Tsani dan dinyatakan lulus ke Mutamayiz pada akhir Juli 2020 itu diliburkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Menurut data dari pihak divisi DL Dewan Pengurus angkatan Zhafera, sebanyak 8 kelas Mutamayyiz dengan total 130 pelajar telah ditunda pembelajarannya.

“Pokoknya dulu sempat dijanjikan setelah Idul Adha akan kembali belajar, ternyata liburnya lama. Perkiraan penyebabnya hanya istirahat sebentar saja dikarenakan tidak adanya guru,” ungkap Nur Afida selaku salah satu pelajar putri tingkat Mutamayyiz.

Di sisi lain, Muhammad Daffa, salah satu pelajar putra tingkat Mutamayyiz juga menjelaskan, kekurangan guru merupakan faktor belum dimulainya kelas tingkat Mutamayyiz. Guru yang mengajar di kelasnya diharuskan mengajar di kelas-kelas lain yang berada di Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) di Indonesia, karena banyaknya pelajar baru yang masuk jalur tersebut.

Setelah terjadinya kasus seperti itu, muncul pertanyaan besar, sebenarnya apa yang melatarbelakangi pemberhentian kelas Mutamayyiz dalam masa waktu yang dinilai cukup lama itu? Lantas, bagaimana tanggapan pelajar Mutamayyiz  yang merasa adanya kerancuan dari pihak DL atau kelas bahasa di Mesir itu?

Dugaan Adanya Kerancuan pada Sistem Idaroh

Para pelajar tingkat Mutamayyiz menilai adanya kerancuan penetapan tanggal kapan dimulainya proses pembelajaran itu. Pasalnya, untuk mengisi kekosongan waktu, beberapa dari mereka dalam grup kelasnya telah mencoba untuk meminta guru mereka untuk menjelaskan cara penulisan bahts (makalah) yang menjadi syarat kelulusan tingkat akhir Mutamayyiz. Akan tetapi, hanya respons berbentuk komentar kosong yang mereka dapatkan. Guru sekadar mengapresiasi ide mereka dan tidak memberikan penjelasan yang dibutuhkan.

Perihal tersebut, Afida menduga, kemungkinan besar karena guru mereka itu sedang sibuk. Ia mengungkapkan, guru tersebut sibuk mengajar kelas online PUSIBA di pagi hari, dan mengajar tingkat Mutawassith Awal di siang harinya.

Tidak hanya itu, para pelajar Mutamayyiz juga berusaha mencari kejelasan dan menanyakan permasalahan terkait penundaan belajar tingkat Mutamayyiz melalui grup syu’un—grup khusus yang menanyakan kasus lulus atau tidaknya ujian dan permasalahan DL lainnya—yang mana adminnya sendiri adalah pihak idaroh (tata usaha). Akhirnya sedikit kejelasan pun mereka dapatkan.

Kala itu, pihak idaroh menjanjikan 20 hari lagi untuk pelaksanaan kembali proses belajar-mengajar. Akan tetapi mengenai pemberitahuan tersebut, sedikit terjadi kerancuan di sana. Pasalnya, saat itu ada juga beberapa pelajar yang baru naik dari tingkat Mutaqaddim Tsani ke tingkat Mutamayyiz di DL. Jadi, jika menunggu selama 20 hari, sama halnya menunggu para pelajar yang baru naik tingkat tersebut lulus ke tingkat Mutamayyiz—karena tingkat Mutamayyiz ditempuh tidak sampai sebulan penuh—lebih dahulu dari mereka yang sebelumnya sudah Mutamayyiz.

Menurut Afida, kasus seperti ini sebenarnya sudah terjadi pada tahun sebelumnya, yaitu kebijakan markaz DL yang meliburkan pelajar yang lebih awal menduduki tingkat Mutamayyiz, sembari menunggu pelajar di tingkat lain naik ke tingkat Mutamayiz, sehingga bisa sama-sama serempak lulusnya.

Meskipun begitu, tahun ini kasusnya sedikit berbeda. Tingkat di bawah Mutamayyiz justru lebih dulu menyelesaikan DL-nya, sedangkan pelajar yang lebih awal berada di tingkat Mutamayyiz belum memulai kegiatan belajar sama sekali, sehingga menjadikan mereka tampak seperti pengangguran.

“Perasaan saya kecewa. Karena sudah mengatur waktu dengan baik. Seharusnya tamat lebih dahulu, ini malah ditunda. Rata-rata kecewa karena waktu kelulusan Dauroh Lughoh yang berdekatan dengan masuk kuliah,” ujar Afida.

Usaha Pihak Zhafera, Atasi Keluhan Masalah

Bertahan pada ketidakjelasan biasanya kerap menimbulkan sikap apatis, tetapi tidak dengan pelajar Mutamyyiz itu. Ada saja cara mereka untuk mencari berbagai jalan keluar demi mendapatkan jawaban. Melapor kepada divisi DL Zhafera salah satunya. Sebagai pihak yang menampung segala masalah DL, mereka mengakui banyaknya laporan keluhan kelas Mutamyyiz ini.

Muhammad Rohimuddin, ketua divisi DL Zhafera mengakui sulitnya komunikasi dengan pihak idaroh markaz DL untuk mendapatkan tanggal pasti kapan dimulainya kegiatan belajar-mengajar tersebut. Ada pun alasan pihak DL sehingga kelas Mutamayyiz diberhentikan, karena di tahun ini seluruh mahasiswa Indonesia yang akan ke Mesir hanya bisa melalui jalur PUSIBA, sehingga membuat tenaga pengajar untuk PUSIBA pun kekurangan. Oleh sebab itu, pihak DL mengambil langkah untuk memberhentikan sementara kelas Mutamayyiz di Kairo yang pada waktu itu bersamaan dengan dimulainya kelas PUSIBA di Indonesia.

Kemudian, pihak divisi DL Zhafera mencoba menindaklanjuti kasus tersebut dengan langkah yang lebih konkret bersama Badan Pengurus Harian (BPH) Zhafera dan PPMI Mesir. Ketua Angkatan Zhafera 2019-2020, Nurul Fajri mengungkapkan, keputusan akhir dari kasus tersebut adalah menunggu respons dari pihak idaroh. Kabarnya saat itu, pihak idaroh menjanjikan proses belajar-mengajar yang tertunda akan dimulai sekitar tanggal 24-26 September 2020.

Sebelumnya juga, Fajri sebenarnya sudah mencoba mengajukan saran kepada pihak idaroh agar kelas-kelas yang diberhentikan itu bisa digabungkan dengan para pelajar yang baru naik Mutamayyiz. Akan tetapi hal tersebut ditolak, dan tidak ada tanggapan dari pihak idaroh terhadap apa yang mereka ajukan.

Tanggapan Ketua Zhafera, Minimalisir Anggapan Kepentingan Bisnis Pihak DL?

Di samping itu juga, Fajri berkomentar terhadap sistem yang digunakan pihak idaroh, dalam artian untuk meminimalisir adanya anggapan-anggapan kurang baik, seperti pandangan bahwa sistem tersebut mengarah ke kepentingan bisnis. Menurut Fajri, dua sisi pelajar, baik dari DL di Kairo maupun jalur PUSIBA, mereka sama-sama menuntut ilmu yang tentunya membutuhkan  pengorbanan dan dedikasi dari masing-masing pihak.

Ia juga beranggapan, lebih baiknya pihak idaroh itu memiliki sistem yang baku, dalam artian tidak berubah-berubah kapan pun dia ingin berubah. Karena menurutnya, ketika sudah ada peraturan tetap, perubahan peraturan di kemudian hari dapat didiskusikan dan dipertimbangkan matang-matang. Itulah mengapa harus ditetapkan sistem standarisasi.

Pihak-pihak yang terlibat dalam masalah Mutamayyiz terbengkalai ini telah mengerahkan segala kemampuan mereka demi menuntut keadilan. Belasan pertemuan yang telah diusahakan pihak divisi DL Zhafera bersama mudir (kepala markaz DL), baik itu melalui daring maupun tatap muka, tetap saja membuahkan jawaban yang sama, yaitu disuruh untuk menunggu.

“Untuk teman-teman Mutamayyiz tidak ada pesan kecuali hanya bersabar. Mudah-mudahan atas kesabaran mereka ada hikmah di baliknya. Segala usaha sudah dioptimalkan, apa yang bisa diusahakan teman-teman sudah diperjuangkan, dan tetap sama keputusannya seperti itu,” pesan Fajri, Kamis (24/9), via WhatsApp.

Akhirnya, pada tanggal 27 September 2020 kabar gembira pun hadir untuk kelas Mutamayyiz. Mereka sudah kembali belajar sebagaimana mestinya. Ada pun harapan ketua Zhafera untuk kedepannya, apa pun masalahnya sebaiknya dibuka forum diskusi terkhusus pihak idaroh, agar tidak mengambil keputusan satu sisi saja.

Menurutnya, jika ada pemberhentian kelas tiba-tiba tanpa adanya pertimbangan yang tepat, dan bahkan keputusan tersebut tidak bisa diganggu gugat, seharusnya teman-teman yang belajar di dalamnya ataupun dari organisasi persatuan pelajar yang terlibat di sana bisa mencari solusi dan bisa mengajukannya kepada pihak berwenang.

Reporter: Indri Raisa Hanum

Editor: Defri Cahyo Husain

Comment

Berita Lainnya