Masisirwati: Antara Gangguan di Ruang Publik dan Introspeksi Diri
Beberapa waktu terakhir sering muncul berbagai laporan mengenai gangguan yang dialami oleh Masisirwati (red: mahasiswi Indonesia di Mesir). Gangguan tersebut dapat berupa unwanted physical contact (kontak fisik yang tidak diinginkan) maupun catcalling (gangguan secara verbal seperti siulan atau komentar di jalan). Bagi sebagian orang, kejadian seperti ini dianggap sebagai sesuatu yang sudah biasa terjadi di Mesir. Namun, keluhan mengenai hal tersebut kenyataannya masih dipandang sebelah mata di kalangan Masisirwati sendiri. Hampir di setiap pergantian musim panas dan dingin, selalu muncul laporan mengenai kejadian serupa.
Fenomena ini tentu tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Banyak orang beranggapan bahwa penyebab utamanya adalah faktor lingkungan dan perilaku sebagian masyarakat di ruang publik. Akan tetapi, di sisi lain terdapat pula pandangan bahwa sebagai pendatang di negeri orang, Masisirwati juga perlu melakukan introspeksi diri serta lebih berhati-hati dalam bersikap. Kehidupan di negara asing tentu memiliki kondisi sosial dan budaya yang berbeda, sehingga kewaspadaan menjadi hal yang sangat penting.
Dalam beberapa situasi, tanpa disadari seseorang dapat menempatkan dirinya pada kondisi yang lebih rentan. Misalnya, ketika menggunakan kendaraan umum seperti Tramco (mikrobus), seharusnya banat duduk di bagian belakang—di kursi penumpang, belakang sopir—bukan di samping sopir. Hal ini penting untuk menjaga jarak dan menghindari situasi yang tidak nyaman. Apabila kondisi Tramco cukup ramai dan mayoritas penumpangnya laki-laki, sebaiknya mencari tempat duduk yang bersebelahan dengan penumpang perempuan lainnya.
Namun, realitasnya Masisirwati ada yang memilih duduk di samping sopir dengan berbagai alasan, seperti tempat duduk belakang yang sudah penuh. Selain itu, bepergian pada waktu larut malam juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan di jalan. Pada waktu tersebut, kondisi jalan biasanya sepi dan pengawasan terhadap keamanan pun berkurang.
Bukan berarti semua kejadian tersebut sepenuhnya disebabkan oleh korban. Tindakan yang tidak pantas tetap merupakan kesalahan dari pelaku. Akan tetapi, sebagai individu yang hidup di lingkungan yang berbeda, kita juga perlu memahami bahwa menjaga diri merupakan bentuk kewaspadaan yang penting. Pepatah mengatakan bahwa setiap kejadian pasti memiliki sebab. Oleh karena itu, kesadaran diri dan kehati-hatian dapat menjadi langkah awal untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Isu ini pun sering menimbulkan perdebatan di kalangan Masisir. Ada yang berpendapat bahwa kesalahan sepenuhnya berada pada pelaku, sementara yang lain menilai bahwa korban juga perlu berhati-hati dalam bersikap. Terlepas dari perdebatan tersebut, yang penting adalah bagaimana Masisirwati dapat menjaga diri dengan lebih baik selama di negeri orang.
Beberapa langkah sederhana ini dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan di ruang publik:
- Mengurangi aktivitas di luar rumah ketika larut malam karena tindakan kriminal biasanya lebih rawan terjadi saat itu.
- Menghindari duduk di samping sopir ketika menggunakan kendaraan umum. Jika kursi penumpang bagian belakang sopir penuh, sebaiknya mencoba meminta bertukar tempat duduk dengan penumpang lain atau menunggu kendaraan berikutnya.
- Menghindari kendaraan yang benar-benar kosong penumpangnya karena kondisi tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Selain itu, penting juga untuk menjaga penampilan secara wajar ketika berada di ruang publik. Bersolek secara berlebihan terkadang dapat menarik perhatian yang tidak diinginkan, terutama di lingkungan yang budaya sosialnya berbeda dengan yang kita kenal. Hal lain yang juga dapat dilakukan adalah menghindari bepergian sendirian, terutama jika tujuannya cukup jauh atau berada di daerah yang kurang ramai. Apabila memungkinkan, sebaiknya pergi bersama teman agar lebih aman.
Pada akhirnya, menjaga keselamatan diri merupakan tanggung jawab bersama. Lingkungan yang aman tentu menjadi harapan setiap orang, tetapi kewaspadaan pribadi juga tidak kalah penting. Dengan sikap yang lebih bijak, kesadaran diri, serta saling mengingatkan antarsesama Masisir, diharapkan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan tersebut dapat diminimalkan.
Penulis: Hening Nur Laila
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




