Belajar Tolak Amanah: Manajemen Prioritas Masisir
Banyak dari kita datang ke Mesir dengan satu tujuan yang sederhana, tetapi besar, yaitu menuntut ilmu. Kita membayangkan hari-hari yang penuh kuliah, talaki, setoran, dan kajian. Tetapi begitu tiba di sini, realitasnya kadang tidak berjalan semulus bayangan. Ada satu hal yang pelan-pelan masuk dan ikut mengatur ritme hidup kita, yaitu amanah organisasi.
Ustaz Faqih Ubaidillah Rozan, Lc., founder Markaz Fiqih pernah ditanya seorang peserta dalam sebuah seminar, “Kalau amanah dan ilmu bertabrakan, mana yang harus didahulukan?” Pertanyaan yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mewakili keresahan banyak Masisir, termasuk saya sendiri.
Ustaz Faqih menjelaskan bahwa amanah itu bukan sesuatu yang secara otomatis lebih utama daripada ilmu. Ilmu tetap yang paling utama, apalagi bagi kita yang datang ribuan kilometer meninggalkan keluarga hanya untuk belajar. Tetapi, beliau juga mengatakan bahwa hidup itu tidak selalu mengikuti teori, ada juga realitas yang memaksa.
Ustaz Faqih memberikan contoh sederhana. Ada mahasiswa yang kiriman orang tuanya terbatas sehingga mau tidak mau harus bekerja. Bukan berarti bekerja lebih utama daripada belajar, tidak. Tetapi, kondisi yang membuatnya harus memilih begitu. Amanah itu—katanya—serupa dengan kondisi itu. Kita tidak mencari amanah, tetapi kadang amanah datang dan membuat kita harus bertanggung jawab.
Saya langsung teringat pengalaman saya sendiri dan banyak teman di sini. Rapat sampai tengah malam, acara besar yang persiapannya berminggu-minggu, tengat waktu tugas yang tiba-tiba menyerang, lalu semua itu bertemu dengan jadwal kuliah, talaki, setoran, atau kajian. Rasanya seperti tarik-ulur yang tidak pernah selesai. Pernah saya kelewatan kuliah karena begadang rapat. Pernah juga tertidur di kelas karena tubuh sudah kecapekan. Mirisnya, itu terjadi tidak hanya kepada saya, tetapi banyak juga yang mengalami hal yang sama.
Nah, dari penjelasan panjang Ustaz Faqih tersebut, ada dua hal yang menurut saya paling penting dan perlu kita garis bawahi bersama.
Pertama, Amanah Itu Ada Batasannya
Tidak semua amanah harus diambil dan tidak semua amanah harus dipaksakan untuk terus dijaga. Ada waktunya kita harus berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, “Sampai kapan aku mau begini? Apa saja yang akan tertinggal kalau aku terus memaksa?” Kita ke Mesir bukan untuk menjadi pengurus seumur hidup. Kalau amanah terus dipegang tanpa batasan, ilmu yang akan tertinggal tanpa batasan pula.
Kedua, Ilmu Harus Selalu Punya Porsi
Meskipun ada realitas yang membuat amanah kadang terasa lebih mendesak, ilmu tidak boleh hilang dari bagian harian kita. Kalaupun porsi ilmu menjadi kecil karena amanah, itu tidak apa-apa. Yang tidak boleh adalah menjadi nol. Kita tetap harus hadir kuliah sebisa mungkin, membaca muqarar, ikut kajian talaki, dan setoran hafalan kepada masyaikh. Karena itu semua adalah tujuan kita ke sini.
Reaksi para peserta seminar pada hari itu pun sama. Banyak wajah yang menunjukkan rasa “tersindir, tetapi bersyukur”. Terutama para maba yang saat itu baru beberapa minggu di Mesir. Seakan-akan mereka baru sadar bahwa amanah yang terlihat mulia itu sebenarnya bisa jadi pisau bermata dua kalau tidak tahu batasannya.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan organisasi. Organisasi tetap punya peran penting dalam perjalanan kita di Mesir. Tetapi, tetap harus diakui bahwa ada budaya yang perlu kita perbaiki. Misalnya, dorongan untuk maba agar langsung aktif, langsung ikut rapat, langsung diberi tugas, dan lainnya sementara mereka baru mulai belajar beradaptasi.
Kita semua harusnya ingat bahwa
- ilmu itu tujuan utama;
- amanah hanyalah cabang; dan
- setiap cabang selalu punya batas.
Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat kecil bagi kita semua sebagai Masisir baik maba maupun “senior” dan termasuk saya sendiri. Perjalanan ilmu di Mesir ini terlalu berharga untuk dikorbankan begitu saja oleh hal-hal yang sebenarnya bisa kita atur ulang prioritasnya atau bahkan bisa kita tolak sejak awal supaya tidak ada amanah yang kita khianati.
Penulis: Fahdi Hishnuddin Rantisi
Informatikamesir.net membangun masa depan dengan dialog dan komunikasi.
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




