by

Biaya PUSIBA Lebih Tinggi dari Biaya Markaz Pusat, Begini Tanggapan Direktur Pusat Markaz Syekh Zayd

Wawancara Eksklusif bersama Muhandis Muhammad Abdul Ghofar, Direktur Pusat Pelatihan Bahasa Arab Syekh Zayd


Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) merupakan cabang resmi dari Markaz Syekh Zayd Li Ta’limil Lughoh al-Arabiyyah li Ghayr al-Nathiqin biha (Pusat Pelatihan Bahasa Arab Syekh Zayd) di Indonesia. Menurut kabar, PUSIBA dihadirkan sebagai alternatif bagi para calon mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo yang telah lulus seleksi Kementerian Agama RI, mereka dapat memilih untuk menyelesaikan masa Dauroh Lughah (DL) di Indonesia, sehingga langsung memulai perkuliahan sesampainya di Kairo.

Akhir-akhir ini PUSIBA menjadi topik yang sering dibahas. Hadirnya lembaga pendidikan di bawah naungan Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Indonesia ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dari berbagai kalangan terkhusus para alumni markaz, terutama tentang tujuan dari pendirian PUSIBA hingga perbedaan pembayaran yang terhitung jauh dari pusat.


Walaupun demikian, jumlah pelajar yang mendaftar terus meningkat. Apalagi dengan adanya wabah COVID-19, Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) tidak membuka seleksi bagi yang ingin melanjutkan studinya ke Mesir pada tahun ini, sehingga jalurnya terpusat pada PUSIBA.


Oleh karena itu, pada Selasa, (29/09/20), Kru Informatika mewawancarai Muhandis Muhammad Abdul Ghofar, Direktur Pusat Pelatihan Bahasa Arab Syekh Zayd Kairo, untuk meminta tanggapan terkait beberapa kebijakan PUSIBA dan isu seputar DL.


Kru Informatika (KI): Juli 2019 lalu PUSIBA diresmikan. Sebenarnya apa tujuan dari didirikannya cabang Markaz Syekh Zayd tersebut?
Abdul Ghofar (AG): Tujuan atas pendirian cabang tersebut tidak lain untuk mempermudah murid dalam belajar agar bisa langsung masuk ke Universitas Al-Azhar Kairo tanpa perlu menunggu selama setahun untuk menetap sambil belajar di Markaz Syekh Zayd. Semua diadakan demi kemaslahatan murid.


KI : Apa yang menyebabkan pembayaran tiap tingkat di PUSIBA mencapai Rp. 1.500.000 untuk saat ini?
AG: Biaya tersebut akan berkurang lebih dari setengah bagi yang mendapatkan ishol tansiq (surat yang menyatakan bahwa yang bersangkutan telah terdaftar di Al-Azhar) dari kuliah. Maka kami menyarankan untuk setiap murid agar mendapatkan ishol tansiq dengan segera. Bagi murid yang sudah mendapatkan ishol tansiq akan mendapatkan keringanan dan cukup membayar 720 EGP. Jika tidak akan dikenakan bayaran sebanyak 480 USD. Mereka belajar tanpa ada ishol tansiq bertujuan agar bisa masuk kuliah pada tahun ajaran baru. Dan apabila mendapatkan ishol tansiq akan menjadi murid saya dan akan mendapatkan semua keringanan. Ishol tansiq itu seperti paspor, kalau paspor adalah syarat masuk negara lain, maka ishol tansiq adalah syarat untuk mendapatkan keringanan dalam membayar.


KI : Apa perbedaan antara pelajar Markaz pusat dan PUSIBA?
AG: Bedanya adalah para pelajar di PUSIBA belum dapat ishol tansiq, seperti yang sudah kami jelaskan.


KI: Mengapa mereka belum dapat ishol tansiq?
AG: Karena kantor ishol tansiq tutup dan hanya buka pada bulan kedelapan dan kesembilan, sedangkan kamu belajar di PUSIBA pada bulan Maret. Kamu menunggu ishol tansiq lalu belajar kamu akan kehilangan waktu. Apabila kamu setelah lulus SMA kemudian masuk PUSIBA pada bulan Maret dan selesai pada bulan September kamu bisa langsung masuk kuliah. Kamu lebih meghemat waktu, dan ini kemaslahatan murid. Di sisi lain, kedepannya kami juga berencana mendirikan cabang di Malaysia dan di negara-negara lainnya.


KI: Apakah semua kebijakan PUSIBA sama dengan di sini?
AG: Iya, semua kebijakan dari sini. Mereka mengambil semua kebijakan lalu mengimplementasikannya. Dan ketika mereka ada masalah mereka akan bertanya ke sini dan kita memberikan kebijakan atasnya. Setiap kebijakannya harus terimplementasikan karena itu keputusan akhir. Contohnya seperti surat atau ijazah resmi terdaftar dari institusi seperti Markaz Syekh Zayd atau Ma’had Al-Azhar sebagai syarat pendaftaran Universitas Al-Azhar.


KI: Setelah berjalannya pembelajaran di Indonesia kurang lebih selama setahun, apa dampak negatif dan positifnya?

AG: Dampak negatif hanya satu; murid tidak langsung belajar di Mesir. Tetapi kami punya solusi dan sudah kami kerjakan. Yaitu dengan mendirikan tempat belajar yang mengharuskan setiap murid untuk tinggal di dalamnya, mendatangkan guru-guru dari Mesir untuk mengajar dan menjalankan sistem pembelajaran yang tidak jauh beda dari pusat seperti adanya pembentukan kelompok-kelompok di dalam kelas.


KI: Terkait adanya beberapa kelas tingkat Mutamayyiz di DL yang diundur pembelajarannya, apa alasan Markaz Syekh Zayd mengenai hal tersebut?
AG: Mana yang lebih penting mereka yang berada di tingkat Mutawassith awal yang perlu beberapa bulan lagi untuk menyelesaikan kelas bahasa lalu kuliah atau yang duduk di Mutamayyiz yang kurang dari satu bulan untuk menyelesaikannya? Semestinya kita mengedepankan yang duduk di Mutawassith Awal. Karena kalau diakhirkan, mereka akan tertinggal kuliah dan menunggu lagi sampai tahun berikutnya. Kami ingin semuanya bisa kuliah tahun ini.


KI : Mengapa pada tahun ini Kemenag RI tidak mengadakan seleksi ke Mesir, sementara PUSIBA menyelenggarakan?
AG: Itu bukan kebijakan kami. Kami sudah membuka pintu bagi siapa saja yang ingin ke sini. Mungkin Kemenag tidak mengadakan seleksi terhambat dalam sistem ujian dikarenakan adanya wabah COVID-19 yang membutuhkan tempat yang besar, dan akan melibatkan jumlah masa yang banyak. Akan tetapi PUSIBA mengambil kesempatan ini dengan mengadakannya secara online. Dan PUSIBA bersifat pilihan bukan paksaan. Bagi mereka yang tidak bisa mengikuti dapat mengambil jalur lain selain yang diadakan oleh PUSIBA.


Reporter: Aji Saifullah
Editor: Naya Salsa

Comment

Berita Lainnya