Gapai Peringkat Satu Jurusan Lughah Ammah di Kalangan Non-Arab, Berikut Kisah Perjalanan Ahmad Roiq Royyan
informatikamesir.net, Kairo – Kesulitan memahami ilmu balaghah di bangku pesantren tidak pernah terbayangkan akan membawa Ahmad Roiq Royyan ke puncak ini: peringkat satu dari seluruh mahasiswa non-Arab tingkat satu dengan predikat mumtaz. Perolehan menjadi asyaroh awail di Fakultas Lughah Arabiyah tidak hanya soal membuktikan kemampuannya, tetapi juga tentang perjalanan untuk memilih mencintai suatu hal yang pernah menyulitkannya.
Lelaki yang akrab disapa Roiq itu melangkah ke dunia dari rahim Kota Wali, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Selama enam tahun, dirinya diasah oleh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum di Pati. Sebuah tempat yang menjadi saksi bisu perjuangannya. Adapun dalam mata pelajaran bahasa Arab, awalnya hal tersebut terasa sulit bagi Roiq. Namun, ia berhasil mengubah kesulitan itu menjadi sesuatu yang ia cintai, bahkan memilih Fakultas Lughah Arabiyah untuk studinya.
Sebelum berangkat ke Mesir, Bumi Kinanah tersebut menyimpan segudang pertanyaan dalam benak Roiq. Bayangan rasa takut akan arus kehidupan yang tidak ada kepastian, semakin menghantui walau belum terjadi. Ketakutan tersebut semakin dibumbui oleh segelintir orang yang meragukan keputusannya untuk memilih Jurusan Lughah Ammah. Tapi, kritikan tersebut tidak membuatnya goyah dari keputusan awal. Beberapa hari sebelum keberangkatannya, seorang syekh dari Al-Azhar pernah datang ke pondoknya dan turut menasihati bahwa ia harus lebih banyak belajar atas pilihannya tersebut.
Usai menimba ilmu di Raudlatul Ulum, pada tahun 2022 Roiq mencoba mengikuti seleksi Universitas Al-Azhar melalui Kedutaan Besar. Roiq dinyatakan lulus serta mendapatkan beasiswa Bu’uts. Sayangnya, butuh waktu sekitar tiga tahun bagi Roiq untuk menunggu kepastian keberangkatan menuju Mesir. Waktu yang panjang itu ia manfaatkan dengan kembali mondok di tempat yang berbeda. Menghafal Al-Qur’an, mendalami kitab-kitab tafsir, dan mengasah kecintaannya pada bahasa Arab.
Kebiasaan yang turut membentuk dirinya adalah menonton kajian para ulama melalui YouTube. Adapun kajian para ulama yang ia tonton di YouTube seperti Syekh Dr. Fadhil Shalih As-Samarrai, seorang pakar bahasa Arab asal Irak, dan Nouman Ali Khan, orator Muslim di Amerika.
“Saya sangat kagum kepada beliau juga. Itulah yang membuat saya ingin mendalami bahasa Arab dengan tujuan memahami Al-Qur’an lebih dalam lagi,” tutur Roiq.
Awal tahun 2025 menjadi langkah pertama Roiq setelah penantian panjangnya menuju Mesir. Ia mengakui ada berbagai tantangan tersendiri yang membentuknya menjadi pribadi yang mantap. Menurut Roiq, salah satu struggle di tahun pertama kuliah bukanlah soal bagaimana cara belajar, melainkan bagaimana menjauhkan diri dari distraksi yang membuang terlalu banyak waktu, seperti media sosial dan sebagainya. Menariknya, Ikamaru (Ikatan Alumni Mahasiswa Raudlatul Ulum) sebagai almamaternya di Mesir hadir dengan menyediakan lingkungan belajar yang mendukung Roiq. Komunitas tersebut bukan hanya sekadar jaringan, tetapi turut membantu Roiq agar tetap konsisten dan tidak terjebak dalam distraksi.
“Kita hidup di zaman yang serba dibantu teknologi dan mudah. Menurut saya, yang menjadi tantangan tersendiri adalah bagaimana mengendalikan diri. Orang-orang zaman dulu mungkin tidak semudah sekarang, tapi mereka secara psikis lebih tidak mudah goyah dibanding kita,” ujar Roiq
Saat takdir menuliskan namanya sebagai peraih peringkat pertama, Roiq menganggap prestasi tersebut bukan semata soal kerja keras, melainkan sebuah keberuntungan dari Allah agar memicu dirinya untuk benar-benar mendedikasikan hidupnya dalam belajar dan berproses. Salah satu keinginan Roiq ke depan adalah memperkenalkan keindahan Al-Qur’an dalam setiap maknanya. Baginya, kecintaan pada bahasa Arab dapat menjadi peluang dakwah dengan memberikan perspektif sastra yang terdapat dalam Al-Qur’an kepada khalayak masyarakat.
Sebagai penutup, Roiq berpesan kepada siapa pun yang sedang berada di jalan perjuangan agar tidak membiarkan keraguan dan kegagalan berlalu begitu saja. Kesempatan selalu ada bagi mereka yang mau belajar dari kegagalan. “Kalau kata petinju Muhammad Ali, tidak masalah kalau kamu jatuh ke lantai. Yang jadi masalah adalah kalau kamu tidak bangkit kembali, jika tidak ingin dikalahkan,” ujar Roiq.
Reporter: Muhammad Habibie Al Islamy
Editor: Abdullah Ihsan Al Faruq





