Informatika Mesir
Home Tokoh Indra Gunawan: Mengenal Doktor Sejarah Pertama Asal Indonesia di Al-Azhar

Indra Gunawan: Mengenal Doktor Sejarah Pertama Asal Indonesia di Al-Azhar

Dr. Indra Gunawan dalam sidang disertasi doktoral di gedung Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar, Kairo. Sumber: Informatika Mesir

informatikamesir.net, Kairo – Langkah kaki Ustadz Dr. Indra Gunawan bukanlah sebuah perjalanan yang singkat. Beragam cobaan telah ia alami dan berbagai rintangan telah ia lewati, hingga akhirnya ia resmi meraih gelar doktoral pada 19 Oktober 2026 sebagai gelar akademik tertinggi di Universitas Al-Azhar dengan predikat Summa Cum Laude. Pencapaian ini menorehkan catatan tersendiri, di mana Dr. Indra menjadi akademisi asal Indonesia pertama yang berhasil menyelesaikan program doktoral di Jurusan Sejarah, Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar Kairo.

Pria kelahiran Kota Medan, Sumatra Utara ini merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor angkatan akhir tahun 1999. Setelah menuntaskan masa studi di pesantren, Dr. Indra melanjutkan langkah ke Universitas Al-Azhar pada tahun 2001. Kala itu, ia memilih Jurusan Tarikh wal Hadharah di Fakultas Bahasa Arab. Pilihan ini terbilang langka karena peminatnya sangat sedikit, bahkan lebih sedikit dibandingkan Jurusan Syariah wal Qanun maupun Dirasat Islamiyah yang saat itu juga masih minim peminat dari kalangan mahasiswa Indonesia.

Memilih bidang studi Sejarah dan Peradaban Islam bukanlah tanpa alasan. Di tengah mayoritas penuntut ilmu yang berbondong-bondong mengambil program Syariah Islamiyah atau Ushuluddin, Dr. Indra mantap melangkah meski sempat diliputi keraguan. Ia melihat potensi besar yang tersimpan dalam lembaran-lembaran sejarah Islam, sekaligus memegang teguh pesan dari Duta Besar Mesir kala itu, Prof. Dr. Quraish Shihab: “Persaingan masa depan adalah persaingan spesialisasi.”

Perjalanan akademik Dr. Indra tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat masa-masa awal S-1, ia mengaku belum terlalu memedulikan bangku kuliah dan tidak pernah merasakan fasilitas sebagaimana marak ditemukan saat ini. Nikmat belajar baru benar-benar ia rasakan menjelang akhir tingkat tiga, di mana hasrat membaca dan menulisnya mulai membara.

Setelah menyelesaikan studi S-1 pada tahun 2006, ia sebenarnya berencana melanjutkan program magister ke Malaysia. Namun, takdir berkata lain ketika ia lolos seleksi TEMUS. Pengalaman tersebut kembali memantapkan tekadnya untuk melanjutkan studi S-2 di Universitas Al-Azhar.

Layaknya manusia biasa yang kadang kala diuji oleh rasa malas dan godaan, Dr. Indra akhirnya menuntaskan tesis magisternya di tahun terakhir masa studi pada  2017, dengan judul tesis: Metode Berperang Mongol di Negeri Muslim (651–658 H / 1253–1260 M). Perjuangan panjang tersebut berlanjut ke jenjang doktoral pada jurusan dan universitas yang sama, hingga akhirnya resmi diselesaikan pada 19 Oktober 2026 lewat disertasi bertajuk: Kerajaan Samudra Pasai dan Perannya dalam Penyebaran Islam di Indonesia (665–972 H / 1267–1521 M).

Di tengah kesibukan mengejar gelar akademik, Dr. Indra mengisi waktunya dengan berkecimpung di berbagai kegiatan akademik dan sosial. Sejak tahun 2010, ia rutin menjadi narasumber dalam berbagai forum seminar serta pelatihan intensif sejarah Islam di lingkungan Masisir. Ia juga mengasah kelihaian menulisnya di  Mesir, bahkan sempat dipercaya memegang amanah sebagai ketua FLP (Forum Lingkar Pena) Mesir.

Sebagai sosok yang memiliki passion tinggi dalam dunia kepenulisan, Dr. Indra telah melahirkan berbagai karya sastra fiksi maupun nonfiksi yang diterbitkan di tanah air. Di antara buku-buku karyanya adalah Muhammad Sang Yatim, The Downfall of The Dynasty, Ain Jalut, Legenda 4 Umara Besar, serta jajaran tulisan artikel lainnya. Meski sempat rehat menulis demi fokus menyelesaikan disertasi, kini ia bersiap untuk kembali menyapa pembaca “lewat karya lainnya”. Bagi Dr. Indra, “Dunia menulis adalah dunia sepi yang membutuhkan proses berpikir dan merenung secara mendalam.

Dalam sesi wawancara bersama tim Informatika Mesri, Dr. Indra membagikan kunci di balik perjalanan hidupnya. Ia mengungkapkan bahwa ada satu nilai yang selalu ia pegang erat dalam menghadapi dinamika kehidupan.

“Privilege yang membuat hidup tenang adalah saat kita dekat dengan Allah. Ketika kita menjauh, segalanya pun menjadi berantakan dan tak menentu. Semua urusan hidup mesti selalu melibatkan Yang di Atas.”

Sebagai penutup, Dr. Indra memberikan pesan penuh hikmah bagi para pelajar dan generasi muda yang sedang berjuang menimba ilmu. Terkhusus bagi mereka yang sedang menghadapi masa-masa sulit di tanah perantauan:

“Setiap individu punya problem dan kesulitannya tersendiri, tidak bisa dipukul rata begitu saja. Allah pasti memberi kesulitan dan kemudahan sesuai kadar kemampuan hamba-Nya. Cobalah bercermin pada kisah-kisah sejarah inspiratif, niscaya keluh kesah dan keputusasaan yang kita alami saat ini sama sekali tak ada nilainya.”

Perjalanan Dr. Indra Gunawan memperlihatkan bahwa pencapaian akademik tidak berdiri sendiri. Ada pilihan bidang ilmu, proses belajar yang panjang, ketekunan mengembangkan literasi, serta prinsip hidup yang terus dipegang. Perjalanan panjang menuntut ilmu di Bumi Kinanah bukan hanya menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya, tetapi juga membawanya pada pencapaian yang ingin ia lanjutkan melalui karya dan kontribusi keilmuan.

Reporter: Najwan Al Baihaqi 

Editor: Sayyaf Izzuddin

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad