Karhutla Bukan Sekadar Api, tetapi Penderitaan Manusia
Informatikamesir.net, Kairo – Tidak hanya masyarakat yang merasakan kesengsaraan mendalam akibat karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di sebagian wilayah Indonesia. Satwa dan negara-negara tetangga juga turut merasakan dampak bencana yang sama. Hingga saat ini, karhutla masih belum sepenuhnya padam. Kebakaran telah berlangsung selama tiga bulan, tetapi ribuan titik api masih terpantau aktif. Secara nasional, akumulasi titik panas (hotspot) tercatat mencapai 6.811 titik. Kebakaran yang paling masif saat ini dilaporkan terjadi di wilayah Kalimantan dan Sumatera Selatan.
Namun, setiap kali karhutla terjadi, perhatian publik kerap kali hanya tertuju pada lahan yang terbakar, titik panas yang terus menyebar, serta berbagai upaya penanganan yang telah dilakukan. Angka-angka tersebut memang penting sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan. Akan tetapi, di balik angka yang terus meningkat, terdapat persoalan lain yang tidak kalah mendesak, yaitu kehidupan manusia yang turut terdampak.
Dari segi kesehatan, karhutla berdampak langsung terhadap kualitas udara. Api yang terus membakar lahan menghasilkan gumpalan asap yang mengganggu pernapasan. Asap tersebut bukan sekadar asap biasa, melainkan campuran berbagai zat berbahaya, seperti partikulat halus (PM2.5) dan karbon monoksida (CO).
Partikel halus PM2.5 dalam asap karhutla dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, memicu peradangan, dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Sementara itu, karbon CO dapat dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna, termasuk pada kebakaran lahan gambut yang berlangsung di bawah permukaan tanah melalui proses smoldering atau pembakaran membara. Gas ini dapat berikatan dengan hemoglobin dalam darah sehingga mengurangi kemampuan darah untuk mengangkut oksigen.
Paparan dalam kadar tinggi dapat berakibat fatal. Selain itu, asap karhutla juga dapat mengandung gas iritatif, seperti nitrogen NO₂ (dioksida).Paparan polutan dari asap karhutla yang berlangsung dalam waktu lama dapat mengganggu sistem pernapasan dan meningkatkan risiko ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Bayangkan, selama lebih dari tiga bulan, masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak harus menghirup udara yang tercemar tersebut. Bagi mereka, bencana ini bukan sekadar kabar yang dibaca melalui layar ponsel, melainkan kenyataan yang harus dihadapi setiap hari.
Kemenkes (Kementerian Kesehatan) mencatat bahwa hingga Oktober 2026, akumulasi kasus ISPA yang berkaitan dengan bencana tersebut mencapai 277.075 kasus secara nasional. Ironisnya, kelompok yang paling rentan menanggung dampak ini adalah anak-anak dan balita. Sebanyak 62.400 kasus di antaranya dilaporkan terjadi pada kelompok usia tersebut. Kondisi ini memprihatinkan karena anak-anak, terutama balita, memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap paparan polusi udara. Kasus ISPA tertinggi tercatat di Kalimantan Selatan, dengan 73.392 kasus.
Tidak hanya itu, tercatat pula 15 korban jiwa secara akumulatif. Mayoritas kematian tersebut disebut berkaitan dengan dampak lanjutan kabut asap, seperti gangguan kesehatan, termasuk ISPA, serta kecelakaan lalu lintas akibat asap yang tebal dan menghalangi jarak pandang.
Data tersebut menunjukkan betapa gentingnya keadaan masyarakat di wilayah terdampak. Setiap hari, mereka harus menghirup udara yang tercemar partikel berbahaya dan menghadapi risiko kesehatan yang mengancam keselamatan. Bagi sebagian orang, karhutla mungkin hanya terlihat sebagai angka dalam laporan. Namun, bagi mereka yang mengalaminya, dampak kebakaran hadir dalam setiap tarikan napas dan aktivitas yang harus dijalani.
Di sinilah kita perlu mempertanyakan kembali cara kita memandang karhutla. Apakah keberhasilan penanganannya cukup diukur dari berkurangnya jumlah titik api dan luas lahan yang terbakar? Bukankah keselamatan masyarakat, perlindungan kesehatan, dan pemulihan kehidupan warga juga merupakan bagian penting dari penanganan bencana?
Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya, termasuk mendistribusikan jutaan masker dan memobilisasi 2.106 tenaga kesehatan. Namun, langkah-langkah tersebut perlu dievaluasi dari segi ketepatan waktu dan efektivitasnya. Apabila upaya perlindungan baru dioptimalkan setelah kasus ISPA melonjak hingga 277 ribu kasus dan masyarakat terpapar kabut asap selama berbulan-bulan, muncul pertanyaan sejauh mana langkah pencegahan dan perlindungan dini telah dijalankan.
Pada akhirnya, keberhasilan penanganan karhutla tidak semestinya hanya diukur dari berkurangnya titik api dan luas lahan yang terbakar, tetapi juga dari sejauh mana keselamatan dan kesehatan masyarakat terlindungi. Karena itu, penanganan karhutla perlu menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai pihak yang terdampak, melainkan sebagai manusia yang berhak mendapatkan perlindungan. Upaya pemadaman harus berjalan beriringan dengan penyampaian informasi yang jelas mengenai kualitas udara, perlindungan bagi kelompok rentan, akses terhadap layanan kesehatan, serta pemulihan kehidupan masyarakat setelah kebakaran mereda.
Penulis: Najwan Al Baihaqi Panjaitan





