Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa Pemerkosaan Terhadap Agama oleh Tirani Kesalehan

Pemerkosaan Terhadap Agama oleh Tirani Kesalehan

Seorang pria Muslim berusia 24 Tahun asal Mali, Aboubakar Cisse ditikam oleh seorang islamofobia, Olivier Hadzovic di salah satu masjid di Prancis selatan pada Jumat, 25 April 2025. Selain itu, telah terjadi penolakan pembangunan gereja oleh warga Muslim di salah satu daerah di Makassar pada 4 Februari 2025.

Kemudian, ada lagi seorang pimpinan ponpes (pondok pesantren) di Kabupaten Lombok Barat melakukan pelecehan seksual terhadap 22 Santriwati dengan dalih memberikan keturunan seperti wali yang bercahaya bagi desanya. Lalu pada 25 Juni 2013, aparat Polda Metro Jaya menangkap Ruddy alias Yohanes Wijaya alias Ruddy S Hadiwardojo, seorang pendeta yang diduga telah menipu dan menggelapkan uang ratusan juta rupiah milik jemaat dengan dalih untuk biaya pembangunan tempat ibadah di Semarang, Jawa Tengah.

Masih banyak lagi kasus yang terjadi di dunia atas dasar kebencian dan penyimpangan moral. Ini tentu berkontradiksi dengan apa yang sudah diajarkan oleh ayat-ayat suci dengan kata lain agama. Artikel ini akan membedah bagaimana moral agama telah dieksploitasi sebagai kepuasan nafsu belaka.

Agama adalah cahaya yang menuntun manusia keluar dari kegelapan. Agama juga mengajarkan kasih sayang, pengampunan, dan keselarasan. Betapa ironisnya ketika kita menelusuri lorong-lorong sejarah, maka yang kita temukan bukan hanya jejak-jejak kasih sayang, melainkan genangan darah yang mengering, mengeras, dan bahkan menjadi prasasti kebencian. 

Kenapa hal itu terjadi? Tidak lain dan tidak bukan, yaitu ketika agama yang seharusnya menjadi pelita justru terkadang menjadi “obat penenang” untuk meredam ketidakadilan, menjadi obor yang menghanguskan segala yang berbeda, memusnahkan yang tidak sejalan, serta memuaskan hawa nafsu. Sayangnya manusia atas segala kebanggaan akan akal budinya justru terjebak dalam lingkaran yang sama dan malah mengutuk setan sambil menari-nari di atas panggung kehancuran yang ia ciptakan sendiri.

Dalam dunia pesantren misalkan, sebagian fenomena ini terwujud ketika seorang kyai atau guru menggunakan diktum agama sebagai alat manipulasi doktrin dan “pemuas zakar” dengan dalih penyucian rahim kepada muridnya. Dari sini kita bisa melihat bahwa agama tidak lagi sebagai petunjuk hidup melainkan sebagai alat kepentingan. kita juga telah melihat bahwa agama telah diperkosa dan dieksploitasi oleh penganutnya sendiri secara biadab.

Agama mengajarkan kejujuran, tetapi penganutnya seringkali menggunakannya sebagai alat manipulasi untuk mengelabui orang-orang, mekanisme pelarian, dan tameng dalam melakukan pembenaran untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Banyak kebenaran yang seharusnya menjadi pedoman hidup bagi setiap orang, tetapi mereka justru memilih menutup mata dan berpegang pada yang batil hanya karena itu sesuai dengan keyakinan yang mereka punya. Mereka menggunakan kosmetik moral untuk menutupi kejahatan, menggunakan topeng kesalehan agar bisa dicintai oleh masyarakat luas, dan melakukan pertunjukan-pertunjukan suci di atas panggung sandiwara. Munafik adalah kata yang paling tepat untuk golongan seperti mereka.

Anehnya lagi, sebagian kita mengutuk setan makhluk yang konon menjadi sumber kejahatan, tetapi lihatlah! Bukankah terkadang kita meniru langkahnya dengan semangat yang tidak kalah bergelora? Walaupun kita menyadari bahwa setan adalah pembohong ulung, tetapi bukankah kita juga mahir memelintir kebenaran dan membungkus kebencian dengan jubah kesucian? Benar kalau ada orang yang mengatakan bahwa agama terlalu sering dibungkus retorika, seakan kesalehan bisa diukur dari seberapa lantang seseorang berbicara. Padahal, nilai agama justru dapat tercermin dari hal-hal yang sederhana: “Bagaimana kita memperlakukan sesama, bagaimana kita jujur pada hidup, dan bagaimana kita berbuat baik meski tidak ada yang melihat. 

Seperti kata Leo Tolstoy dalam ungkapannya, “Jangan banyak bicara padaku tentang agama, tetapi izinkan aku melihat agama dalam perilakumu.” Ungkapan beliau ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa agama yang sejati itu bukan soal bicara, melainkan soal tingkah laku. Namun, masih banyak dari kita yang masih suka memakai topeng kemunafikan dalam berperilaku.

Dari sini kita tahu bahwa kemunafikan adalah seni tertua yang menjadi sifat sebagian manusia. Ia dibungkus dengan senyuman dan dijual sebagai moralitas. Itulah yang membuat banyak orang membencinya, tetapi di sisi lain banyak juga orang yang membutuhkannya karena kita hidup di dunia di mana kebenaran terkadang hanyalah kostum. Setiap pagi manusia mengenakan topeng bukan untuk melindungi diri, tetapi untuk menipu satu sama lain dan mereka menyebutnya sebagai kesopanan. Padahal tanpa mereka sadari, mereka telah menipu diri mereka sendiri. 

Sesungguhnya kemunafikan itu bukan penyakit yang langka, ia sudah merebah bagaikan udara di segala tempat. Maka tidak heran kalau ada orang yang mengatakan bahwa “tanpa kemunafikan peradaban mungkin akan runtuh, karena jika semua orang berkata jujur, kita mungkin saling membunuh sebelum matahari terbenam.” Namun ironisnya terkadang kita juga suka ikut bermain. Di mana kita menertawakan orang lain sambil melindungi kebohongan diri kita sendiri. Kita menuding hanya untuk memastikan tudingan itu tak kembali kepada diri kita.

Kita bisa menyaksikan apa yang ada di sekeliling kita di mana beberapa orang yang dianggap suci dan ahli agama berbicara di atas mimbar tentang surga, tetapi matanya sibuk menghitung keuntungan duniawi. Begitu juga para pejabat yang bersumpah demi nama Tuhan dan di hadapan segenap rakyat, tetapi nyatanya mereka tidur nyenyak di ranjang kekuasaan. Selain itu, ada lagi orang kaya yang mengiming-imingi gaji yang tak sepadan kepada orang miskin untuk menutupi perbudakan modern. Maka, ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i:

إِنَّ الفَقِيهَ هُوَ الْفَقِيهُ بِفِعْلِهِ # لَيْسَ الفَقِيهُ بِنُطْقِهِ وَمَقَالِه

وَكَذَا الرَّئِيسُ هُوَ الرَّئِيسُ بِخُلُقِه # لَيْسَ الرَّئِيسُ بِقَوْمِهِ وَرِجَالِهِ

وَكَذَا الغَنِيُّ هُوَ الغَنِيُّ بِحَالِهِ # لَيْسَ الغَنِيُّ بِمُلْكِهِ وَمَالِهِ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang faqih (berilmu) adalah orang yang faqih karena perbuatannya # Bukan karena ucapannya saja. Demikian pula pemimpin, dia adalah pemimpin karena akhlaknya # Bukan karena rakyatnya dan orang-orangnya. Begitu juga orang kaya, dia adalah kaya karena keadaannya # Bukan karena harta dan kekayaannya.”

Di sisi lain, tokoh agama juga sering keliru dalam mengartikulasikan ayat-ayat suci, tanpa memahami konteks secara utuh, tanpa melakukan analisis yang mendalam, bahkan tanpa ilmu. Tetapi, mereka dengan angkuh menyebarkan pemahaman yang mereka dapatkan tersebut ke khalayak publik, menganggapnya sebagai kebenaran absolut, sehingga menciptakan permasalahan-permasalahan baru di kalangan masyarakat. Apa jadinya masyarakat jika terus-menerus dicekoki dengan pemahaman seperti ini? Masyarakat yang seharusnya dibina dengan akal budi justru dibina dengan kecacatan dan kesesatan berpikir. Ini menunjukkan kedangkalan intelektualitas dan ketidakmampuan dalam berpikir kritis. 

Tokoh agama yang baik adalah tokoh agama yang mampu memahami dan menafsirkan  kitab suci rujukannya sesuai dengan kondisi zaman dan masyarakat serta tidak keluar dari batasan-batasan yang telah ditentukan. Tokoh agama juga harus menjadi pemimpin sekaligus teladan bagi jemaatnya dan agar mampu membentuk masyarakat yang cerdas dan cendekia.

Di sisi lain juga, bukan hanya tokoh agama yang harus paham tentang ayat-ayat suci, memiliki ilmu yang mendalam, dan kemampuan dalam berpikir kritis. Masyarakat juga harus memiliki hal-hal tersebut agar tidak gampang dibodohi dan tidak gampang percaya pada apa yang dikatakan oleh seorang tokoh agama maupun orang pemangku otoritas. Eksistensi kebenaran bukan dilihat siapa dia dan sedang menjabat sebagai apa dia, tetapi kebenaran dilihat dari kesesuaian dengan teks-teks suci rujukan dan akal sehat. Dengan demikian, masyarakat bisa membedakan mana yang benar dan batil. 

Perlu diketahui bahwa semua orang memiliki potensi untuk salah dan keliru karena kebenaran absolut hanyalah milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Setiap argumentasi dan ide yang disampaikan sangat wajar untuk dipertanyakan dan diragukan, tidak ditelan mentah-mentah, dan tidak taklid buta kendati disampaikan dengan retorika yang memanjakan mata. Setiap orang punya niat dan tujuan dalam melakukan sesuatu. Jika berniat baik, ia akan menghasilkan hal-hal yang baik pula dan jika berniat buruk, ia akan menghasilkan hal-hal yang buruk pula. Tetapi, siapa yang mengetahui isi hati dari setiap orang kalau bukan ia sendiri dan Tuhannya. Oleh karena itu, perlu sekali setiap orang menanamkan dalam diri mereka sikap skeptis terhadap sesuatu.

Betapa banyak kita menyaksikan drama keagamaan yang diperankan dengan wajah suci,  namun penuh dusta. Mereka melantunkan doa-doa ketika melakukan tindakan kejahatan dan keburukan karena mereka tahu bahwa doa bisa memberikan ketenangan, mereka menganggap bahwa seolah-olah Tuhan bisa diajak untuk kompromi. Simbol ketuhanan sering kali “diperkosa” untuk melegitimasi hasrat primitif, mulai dari kekuasaan, harta, hingga hawa nafsu. Dalam penutup, penulis ingin mengajak kepada semua pembaca untuk bisa berpikir kritis, mempertanyakan setiap informasi yang datang, dan tidak mudah percaya kepada orang lain. Penulis juga ingin mengajak untuk saling mengasihi antar sesama, menghargai yang berbeda, dan menjadikan agama sebagai cahaya yang menuntun dan menyatukan di tengah keragaman ini. 

Penulis juga mengingatkan bahwa di balik doa dan ritual suci, terkadang tersembunyi niat bejat yang  dibungkus atas nama Tuhan. Di situlah ironi terbesar agama. Ia seharusnya digunakan kompas moral, tetapi justru digunakan sebagai alat untuk melakukan tindakan-tindakan jahanam, membodohi masyarakat, dan bahkan menghanguskan segala yang tidak sejalan dengan hawa nafsunya.

Akhir kata, agama akan tetap suci dan menjadi pelita dalam peradaban manusia. Bila ada orang beragama dan perilakunya buruk, bukan agamanya yang salah. Cara dia memahami dan menjalankan agama di kehidupannya pun juga salah. Tuhan akan selalu berada di dekat orang-orang yang berusaha untuk dekat kepadanya.

________________________

Penulis: Ferdian Hudatullah

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad