Informatika Mesir
Home Berita Terkini Isu Jam Malam Mengemuka di Debat Kandidat, Begini Respons Dua Paslon

Isu Jam Malam Mengemuka di Debat Kandidat, Begini Respons Dua Paslon

Informatikamesir.net, Kairo — Isu pelanggaran jam malam menjadi salah satu sorotan utama dalam segmen eksploratif Debat Kandidat Calon Presiden dan Wakil Presiden PPMI Mesir periode 2026/2027 di Aula Wisma Nusantara, Rab’ah pada Sabtu (04/04).

Responden keamanan, Amru Balda Azhar (Wakil Komandan DKKM 2025–2026), membuka sesi dengan pemaparan data 79 kasus pelanggaran jam malam sejak Januari hingga Maret 2026. Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi berkaitan langsung dengan aspek keamanan. “Menurut jurnal, ada sekitar 84% kejahatan terjadi pada malam hari di ruang publik, dan korbannya banyak dari kalangan wafidin,” ujar Amru.

Menjawab pertanyaan perihal langkah konkret untuk penekanan angka pelanggaran dan penyeimbangan antara penegakan aturan dan pendekatan persuasif kepada mahasiswa, paslon nomor urut 1, Wildan Akbar dan Fikri Abdul Azis menilai akar masalah terletak pada menurunnya kewaspadaan mahasiswa, “Jumlah mahasiswa yang semakin banyak membuat sebagian merasa terlalu aman, seolah tidak lagi di negara asing,” ungkap Wildan.

Mereka juga menyoroti minimnya edukasi preventif tentang jam malam. Selain itu, mereka menekankan keteladanan internal, “DP PPMI harus menjadi representasi yang taat aturan, termasuk tidak membuat kegiatan di jam malam,” ujar Fikri.

Sebagai langkah konkret, paslon nomor urut 1 mengusulkan sosialisasi masif hingga akar rumput, termasuk melalui media sederhana dengan brosur atau himbauan di titik kumpul mahasiswa serta memperkuat peran kekeluargaan, almamater, dan mediator agar himbauan bisa dipatuhi bersama.Sementara itu, paslon nomor urut 2, Azka Sabilirrasyad dan Daffa Rahmatullah menekankan bahwa persoalan ini adalah tanggung jawab bersama. Mereka menyoroti bahwa banyak kasus justru terjadi pada mahasiswa yang tidak terjangkau oleh struktur kekeluargaan maupun almamater.

Sebagai langkah konkret, paslon nomor urut 2 menawarkan penyebaran kader DKKM hingga ke tingkat kekeluargaan. “Perlu ada kader DKKM yang tersebar agar konsultasi dan edukasi bisa berjalan secara merata, baik setiap bulan maupun pekan, kedua (karena) rata-rata korban adalah mereka yang tidak terjamah oleh kekeluargaan dan elemen organisasi lainnya,” tambah Daffa.

Selain itu, mereka mengusulkan pemanfaatan data sebagai edukasi lewat penyebaran buku kasus DKKM agar bisa dipahami bersama

Reporter: Fahdi Hishnuddin Rantisi

Editor: Afifah Azmi Saiyidah

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad