Informatika Mesir
Home Opini & Suara Mahasiswa Eksploitasi Berkedok Olimpiade

Eksploitasi Berkedok Olimpiade

Meja trofi dan penghargaan Almamater Olympiad 2026. Sumber: Dokumentasi Panitia.

Saya sebut saja nama ajang tersebut tanpa menyamarkan supaya tidak bias ke mana-mana, Almamater Olympiad. Sebuah ajang kompetisi antar almamater yang melahirkan ekspektasi tinggi di tengah kalangan Masisir oleh branding-an tinggi sebagai ajang perlombaan terbesar dalam sejarah Masisir dengan mencapai 24 cabang lomba hingga glorifikasi sedemikian rupa. Tentu ini melahirkan kebanggan, mengingat kegiatan positif semacam itu diharapkan menjadi arena pembentukan karakter serta dapat menumbuhkan jiwa kompetitif dan sportivitas bagi generasi. Begitu pun yang kami rasakan di awal.

Maka berangkat dari situ, dengan antusias dan penuh kepercayaan serta rasa penghargaan yang tinggi kepada pihak penyelenggara, kami turut mengambil bagian dengan mendaftarkan almamater kebanggan kami sebagai peserta lomba dan mengirimkan sekian delegasi dari berbagai cabang lomba untuk mengikuti ajang perlombaan tersebut bahkan diawali dengan persiapan yang serius, tak peduli ada biaya pendaftaran sebesar EGP 2.500 yang mesti dibayarkan.

Pembukaan olimpiade dilakukan secara besar-besaran dan berlangsung meriah dengan acara seremonial bertajuk “Grand Opening Almamater Olympiad” yang juga dimulai secara resmi dengan adanya upacara pembukaan yang turut dihadiri oleh pejabat-pejabat KBRI termasuk Duta Besar RI untuk Mesir, Bapak Kuncoro Giri Waseso, jajaran PPMI Mesir, Wihdah, ketua-ketua almamater, dan tentunya ratusan peserta lomba yang dibuat terperangah oleh kemegahan grand opening tersebut. Gendang ditabuh, tari-tarian memanjakan mata, nyanyian menggema hingga pertunjukan seni pencak silat berhasil menghipnotis ekspektasi para peserta

Dengan serangkaian glorifikasi yang sukses dan atas dasar harapan akan penghargaan potensi dan bakat yang seolah telah menemukan jawabannya, para peserta mengikuti segenap perlombaan dengan antusias luar biasa. Semuanya dilakukan seprofesional mungkin. Para peserta benar-benar menunjukkan sportivitas tinggi tanpa memandang skala kegiatan, apalagi meremehkan lawan bahkan seolah mereka sedang bertandang di ajang kompetisi kelas A. Kalah-menang adalah adalah nilai sportivitas yang benar-benar dijunjung tinggi di sepanjang rangkaian olimpiade dari awal hingga akhir. Demikian olimpiade ditutup dengan kemegahan serupa, sebuah acara seremonial bertajuk “Grand Closing Almamater Olympiad” yang tidak kalah meriah dari pembukaan yang pula menambah semangat dan ekspektasi peserta, terutama bagi para pemenang.

Namun tak ubahnya bualan asmara, ekspektasi itu segera menjelma langit runtuh. Para pemenang yang mulanya naik podium dengan bangga, lantas menelan pahit empedu begitu mendapati penghargaan yang diberikan oleh panitia penyelenggara atas cucuran keringat dan jerih-payah mereka memenangkan lomba sungguh-sungguh jauh dari ekspektasi dan sama sekali tidak sebanding dengan glorifikasi kegiatan yang dibesar-besarkan sejak awal.

Bayangkan saja, penghargaan untuk pemenang cabang lomba “badminton ganda” hanya dihargai EGP 300 yang itu berarti tidak lebih dari Rp100.000 dan hanya satu buah medali berbahan plastik. Syukur panitia tidak sekalian menghadiahi gunting supaya medali itu bisa dibagi dua. Bahkan untuk sekelas pemenang cabang lomba mini soccer yang bisa dibilang merupakan perlombaan terbesar di ajang olimpiade tersebut, hanya dihargai EGP 1.500 dan satu buah piala.

Ini sungguh-sungguh mencederai potensi dan bakat seseorang serta almamater yang terlibat. Perlu Anda ketahui, untuk bisa berlaga di kompetisi, apalagi sampai di titik memenangkan perlombaan tersebut, jauh sebelum itu ada bakat yang selama bertahun-tahun dilatih dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Ada harapan yang membentang, ada jutaan kilometer jalan terjal yang tak ternilai harganya. Sehingga idealnya, hal yang paling fundamental yang mesti dipikirkan sebelum menyelenggarakan sebuah kompetisi adalah memikirkan penghargaan atas potensi bakat dan prestasi seseorang di atas segala-galanya, jauh sebelum memikirkan hal-hal yang lain. Ini yang begitu orang-orang remehkan.

Ketimbang memikirkan penghargaan atas potensi dan bakat, mereka lebih memilih menyemprot parfum ke diri sendiri dengan kemegahan acara. Secara realita, hal fundamental ini lah yang tidak dipikirkan oleh Almamater Olympiad. Glorifikasi dan seremonial demi citra kemegahan dipersiapkan sebaik mungkin, sementara nilai utamanya dikesampingkan. Padahal, itu adalah esensi dari kegiatan itu sendiri. Jika tidak ada peserta dan bakatnya, tidak akan ada kegiatan itu.

Pun demikian dengan adanya Surat Pernyataan Sikap No: 01/A-s/DP-KPM/IV/2026 di poin tiga yang diterbitkan PCI IKPM Gontor Kairo sebagai payung penyelenggara. Alih-alih mengklarifikasi, surat pernyataan sikap tersebut justru menegaskan betapa penghargaan atas potensi dan bakat seseorang adalah hal terbelakang. Saya ulangi bunyi poinnya, “Semangat kebersamaan merupakan prioritas kami di atas kompetisi teknis semata.” Garisbawahi kalimat “di atas kompetisi teknis semata”! Maaf jika saya harus mengatakan, ini begitu lancang.

Saya menilai ada gagasan yang tidak selesai dibicarakan dalam olimpiade tersebut. Atas dasar itu, jangan-jangan Almamater Olympiad sesungguhnya hanya mengeksploitasi organisasi-organisasi almamater demi legitimasi program kerja dan validasi organisasi. Biar dibilang berhasil memecahkan tembok sejarah, dibuatlah olimpiade dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya cabang lomba. Almamater pun menjadi ikan bakar lezat. Branding-an tinggi, glorifikasi segala rupa, sedangkan penghargaan bakat dan prestasi nanti saja. “Harumlah organisasiku!”. Walhasil, citra kegiatan yang sengaja diglorifikasikan luar biasa demi kepentingan organisasi samasekali tidak sebanding dengan esensinya sendiri. Mirisnya, sebagian besar anggaran kegiatan justru berasal dari almamater lain yang dilibatkan.

Maka, kami berpesan kepada siapapun yang membaca tulisan ini agar benar-benar mencermati filosofi dari sebuah kegiatan sebelum melaksanakannya, apalagi jika itu berkaitan dengan pihak lain, terlebih-lebih sampai menarik anggaran dari pihak lain. Untuk kegiatan serupa, kalau tidak ada anggaran atau misal belum mencukupi, baiknya kegiatan yang dimaksud ditangguhkan dulu. Paling tidak, cabang lombanya dibuat sedikit saja. Jangan sampai kita memaksakan kehendak demi ambisi untuk citra organisasi semata dan mengorbankan nilai luhur yang sama-sama kita junjung tinggi.

Terakhir, atas dasar adanya keterlibatan anggaran dalam bentuk uang pendaftaran lomba sebagai almamater yang dilibatkan, kami meminta adanya transparansi publik atau—jika memungkinkan—audit keuangan secara akuntabel dan transparan berkaitan dengan anggaran kegiatan tersebut.

Penulis: Adiaramu Lingga Sastra

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad