by

Ketika Sedekah HP Menjadi Kelaziman

“Ga afdhol kalo bertahun-tahun di Mesir ga sedekahin HP.” Mungkin saja kata-kata ini sering kita dengar di sela-sela obrolan ngalor-ngidul tak berujung. Apalagi kalau sedang menemui kawan yang tiba-tiba tidak bisa diajak komunikasi via telepon maupun whatss app.

Bisa saja memang lagi ‘uzlah dan bertapa di sudut ruangan. Usut diusut, ternyata memang Hand Phone (HP) yang selama ini selalu setia menemani sepanjang waktu, secara tak sengaja direlakan ke pihak lain yang sering kita kenal dengan sebutan ‘Haromi’.

Tentu saja yang namanya Haromi itu memiliki banyak tips dan trik untuk dapat melakukan aksinya. Ada yang beroperasi diam-diam layaknya seorang intelijen kelas kakap, ada juga yang bahkan bermodalkan pisau, pedang, parang dan golok untuk menakut-nakuti dan mengancam keselamatan mangsanya.

Oleh karenanya, kami di sini akan mencoba memaparkan testimoni dari para korban pencurian, pencopetan dan perampokan yang terjadi di kawasan Gami’, Musallas, Darrasah dan Bis 80 coret. Begitu pun dengan kasus Haromi yang justru malah jadi korban dari mangsanya. Bagaimana itu bisa terjadi? Kronologinya?

Bus 80 Coret; Ladang Sedekah HP Untuk Wafidin     

Namanya Armen, angkatan kedatangan 2017. Ceritanya, usai mengikuti kajian dan pulang dari Hay Tsamin menuju Hay Sadis, Asrama Indonesia, di tengah perjalanan, dia membuka HP-nya untuk membalas pesan dari orang tuanya. Ia pun meletakkannya kembali di saku kantong samping.

Setibanya sampai di Asrama Indonesia, ia baru menyadari bahwa HP yang berada di saku kantongnya sudah sirna entah ke mana. Ia pun menduga bahwa orang-orang yang Mesir yang berada di sekelilingnya ketika di bus tadi, memang telah mengincar HP yang ia simpan di saku kantongnya. Dengan kejadian ini, ia pun telah sukses menyedekahkan HP-nya sebanyak dua kali selama hidup di Kairo ini. Kejadian sebelumnya, ia kehilangan HP di Suq Sayyarot.

Kejadian serupa juga dialami oleh Aisyah Fadhilah, mahasiswa program Strata 2 al-Azhar. Tepatnya saat ini masih duduk di tingkat 2 tahun 2013, ketika di perjalanan dari Hay Asyir menuju Zahro. Ia sedang sedang sakit kala itu, HP pun diletakkan di jaket karena memang saat itu sedang musim dingin. Ia juga membawa tas besar yang berisikan berbagai macam kebutuhannya.

Ketika bersiap-siap untuk turun dari bus, ia diapit oleh dua orang di depannya dan dua orang lagi di belakangnya. Supir pun mengerem bus secara mendadak dan membuatnya tidak sadar bahwa HP yang ia simpan dalam kantong jaketnya telah raib.

Saat turun dari bus, mendadak ada ibu-ibu warga Mesir yang menyuruhnya untuk mengecek HP. Ibu-ibu itu nampaknya melihat ada segerombolan orang yang mencurigakan di dalam bus. Setelah dicek, ternyata HP yang sedari tadi disimpan di dalam kantong jaket  memang benar-benar hilang.

Ia pun sangat syok dengan kejadian itu, tak tahu lagi harus berbuat apa. Itu merupakan pertama kalinya ia kehilangan HP selama berada di Kairo. Ia lantas linglung, ingin berteriak namun terpendam dan akhirnya meluapkan tangisan bersama temannya.

Aisyah berpesan agar selalu siaga dan jangan menarik perhatian khalayak umum dengan bermain HP Karen. Itu akan membuka peluang bagi mereka yang merasa ada kesempatan untuk mengambil hak orang lain. Jangan kita mengira negara islam itu aman. Lengah saja sedikit, sudah raib barang-barang kita, jad berhati-hati lah.

HP-ku Sirna di Musallas

Malam itu, salah seorang Masisir bersama temannya baru saja turun dari tremco setelah perjalanan dari Hay Sabi’ menuju Suq Madrasah. Sebut saja namanya Yaman dan IN. Saat berjalan menuju rumah teman mereka, Yaman masih sibuk dengan HP-nya yang sejak di dalam tremco ia pegang erat-erat.

Beberapa saat kemudian, ada temannya yang tiba-tiba menelpon, ia pun mengangkatnya. Dalam posisi HP yang dipegang satu tangan dan didekatkan di telinga itu, ia tidak sadar ternyata ada dua pasang mata yang sedang memantau. Yap! Dari arah belakang motor yang memuat dua orang Haromi Mesir tiba-tiba menyambar, dan langsung merampas HP-nya Yaman.

Mereka pun spontan mengejarnya sambil meneriakkan keras kata-kata “HAROMI!!!”. Di saat yang sama, ketika mereka sedang mengejar Haromi itu, terjadi kecelakaan kecil antara tuktuk dan mobil tepat di depan mereka. Kejadian itu pun membuat masyarakat sekitar menjadi jadi buyar fokusnya, dihadapkan pada dua pilihan antara kecelakaan kecil dan pencopetan HP.

Setelah kejadian itu, Yaman merasa marah karena HP-nya dicuri. Semalaman penuh itu, ia dan temannya sempat men-tracking HP-nya pakai kode imei, namun akhirnya tak kunjung ditemukan juga.

Terakhir, Yaman berpesan bahwasanya yang namanya kejahatan atau kriminalitas itu kadang terjadi bukan karena adanya niat dari pelaku, tapi karena korban sendiri yang menghadirkan kesempatan atau peluang bagi pelaku berbuat kejahatan yang disebabkan atas kelalaian korban.

Olehnya, ia menghimbau agar kita senantiasa waspada dan terus berhati-hati terhadap apapun yang ada disekitar kita, paling tidak meminimalisir hal-hal yang dapat memancing ribuan mata yang sedang memantau.

Tuk-Tuk Gami’ Pembawa Sial    

Jumat 12 September, pukul 17.00, MDR bersama temannya yang berinisial ND, berjalan di antara Gami’ dan Musallas sekitar daerah Masjid Nurul Huda tepatnya. Tiba-tiba, dari belakang mereka, terdapat tuk-tuk yang menyambar dan langsung mengambil tas dari ND. Tuk-tuk itu pun  melarikan diri dan tak dapat dikejar lagi.

Dari penglihatan MDR, di dalam tuk-tuk tersebut terlihat dua orang anak kecil. Saat kejadian berlangsung, ND sama sekali tidak membawa HP di tangannya, mungkin karena seorang wafidin dan kebetulan karena tas yang dibawa oleh ND ketika itu dirasa sangat mudah untuk diraup oleh sang Haromi.

Satu hal yang membuat syok sang korban adalah, HP yang berada di dalam tas tersebut adalah HP yang baru saja ia beli satu bulan yang lalu. HP yang ia miliki sebelumnya pun juga telah ia sedekahkan kepada Haromi. Setelah kejadian itu, sang korban langsung menuju ke sekretariat IKPM yang ada di Gami’ untuk meminta bantuan.  

Penghuni Rumah Bangun, Haromi pun Kaget

Sekitar pukul 8 pagi, Haromi sudah berada di dalam rumah salah seorang Masisir yang berlokasi di Darb al Ahmar, Darrosah. Untungnya, Faiz Ubaidillah yang saat itu masih terjaga dalam tidurnya, berangsur-angsur terbangun oleh suara-suara kecil pergerakan Haromi yang sedang menyisiri rumahnya tersebut.   

Sang Haromi pun kaget setelah ia menyadari bahwa para penghuni rumah telah terbangun dari tidurnya. Secara spontan, iamenuju jendela dapur yang kala itu memang sedang terbuka. Faiz mengira sang haromi sudah jatuh ke dasar lantai, tak disangka-sangka ternyata dia terjun ke besi-besi yang menggantung di antara gedung-gedung.

Barang-barang yang sudah akan diangkut seperti HP, Laptop, berkas dll, tidak bisa terbawa oleh sang haromi. Pada akhirnya, hanya satu Hp yang berhasil diraup oleh sang haromi.

Faiz Ubadillah berpesan, agar menutup pintu dan jendela sebelum hendak pergi dari rumah atau ketika penghuni rumah sedang tidur lelap. Diusahakan juga untuk meninggalkan satu orang agar berjaga di rumah saat penguhuni rumah yang lain sedang pergi atau beristirahat.

80 Juta Raib Ditelan Perampok Berkulit Hitam   

Para korban ini tinggal di kawasan Hay Asyir daerah Gami’. Mereka berjumlah 13 orang yang terdiri dari 10 orang yang kala itu masih mahasiswa baru (maba) dengan tiga orang senior. Salah satu dari mereka ini berinisial YR dan AH. Kamar-kamar dibagi menjadi tiga dengan dua kamar untuk maba dan satu kamar khusus untuk senior rumah. Rumah yang berada di lantai satu ini memang disinyalir sebagai objek incaran para Haromi.

Pada pukul 05.30 subuh, ada satu penghuni rumah yang tidur di teras depan kamar. Setelah dia sholat subuh, dia kaget, kenapa ada yang gedor-gedor pintu. Dia mengira bahwa yang menggedor pintu adalah temannya yang sedang iseng. Saat ia melihat dari lubang pintu, ternyata ada banyak orang hitam yang membawa parang, pedang, linggis.

Teralis rumah dijebol dengan linggis yang mereka bawa. Ia pun spontan kabur ke kamar dan memberi tahu senior rumah. Tak lama berselang, para Haromi itu telah berhasil membobol pintu rumah dengan menggunakan linggis. Mereka lalu menjelajah ketiga kamar yang ada. Lampu rumah kala itu masih mati dan belum semua penghuni rumah bangun.

Di kamar para senior, ada yang masih tidur dan masih membaca buku. Senior rumah yang sedang membaca buku ini, dia memakai lampu meja belajar sambil menggunakan headset hingga membuatnya tak sadar bahwasanya ada Haromi yang sudah datang ke rumahnya. Karena dia kaget, HP-nya pun berusaha diambil oleh sang Haromi, kepalanya dipukul dengan parang oleh Haromi saat senior rumah ini melawan.

Ketika melihat ada komputer di kamar tersebut, para Haromi berusaha membawanya, namun karena sulit untuk diambil, mereka pun mengurungkan niatnya. Sementara itu, orang yang bangun tidur dan melihat para Haromi ini langsung memukul mereka dengan tangan kosong. Para Haromi pun melawan dengan memakai parang, senior rumah ini pun bersimbah darah karena menahan serangan parang dengan tangannya.

Yang kamar junior, ada salah satu yang melawan, tetapi ketika sedang berkelahi, ada yang menyalakan lampu hingga membuat takut seluruh penghuni rumah. Bahkan ada yang sampai terluka parah punggungnya karena pedang.

Barang-barang yang berhasil diraup oleh para Haromi di antaranya adalah 7 buah HP, 5 Laptop, 2 Kamera, dan uang tunai sebesar 5000 le. Total kerugian pun diperkirakan mencapai 80 juta rupiah. Para korban lalu melapor ke PPMI dan KBRI. Pada akhirnya, HP dan laptop tetap tidak kembali dan kasusnya menguap begitu saja tertelan zaman. 

Usai kejadian nahas tersebut, mereka mengaku sangat trauma, khususnya jika melihat orang berkulit hitam. Pesan korban untuk para Masisir; “Jaga diri baik-baik, karena kita tinggal di negeri orang yang kita tidak tahu bahaya yang muncul kepada diri kita kapan aja. Cari-cari rumah yang daerah aman. Gak papa mahal dikit tetapi aman demi keselamatan kita,” ujarnya.

Haromi Juga Bisa Jadi Korban Mangsanya

Di tengah malam yang terbilang masih agak ramai itu, sekitar jam 12 malam, beberapa anggota Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) berjalan menyusuri jalanan bawabat tiga, guna mengantar salah seorang anggota KKS ke rumahnya. Kala itu, mereka baru selesai melakukan latihan untuk persiapan penampilan HUT KKS.

Di sela-sela perjalanan mereka, tepatnya sebelum pom bensin dekat Khairuz Zaman Hay Asyir, ada sebuah motor yang melintas pelan dari belakang, seperti buaya yang akan menerkam mangsanya di tepi sungai, atau semisal pasukan KOPASKA (Komandan Pasukan Katak) yang jika mereka berenang sudah seperti menyatu dengan sungai, sangat tenang sampai mereka tidak menyadari keberadaan kenderaan bermotor tersebut.

Tiga orang Mesir yang ada di motor itu ternyata mengincar HP seorang anggota yang berinisial FWA, karena kebetulan ia sedang bermain HP tepat di pojok dekat jalan. Menurut keterangan dari senior KKS bernama Rahmat, yang saat itu juga ada di sebelah kanan FWA, kala Haromi itu beraksi, mereka sempat menarik jaket orang yang duduk paling belakang, hingga tepat di depan pom bensin, Haromi bersama motor mereka itu pun terjatuh.

Di situlah terjadi pembelaan dari anggota KKS yang bergelut dengan para Haromi itu. Satu Haromi telah terkapar karena diamuk luima orang mangsanya, sementara satu Haromi lagi mencoba beradu hantaman dengan tiga orang anggota KKS. Adapun Haromi yang mengendarai motor telah lari dan berhasil lolos.

Tak disangka-sangka, Haromi yang memberanikan diri untuk berkelahi ini pun merasa kewalahan. Ketika nyawa sudah diujung tanduk, ia pun melarikan diri dari amukan para mangsanya. Walhasil, dua orang Haromi akhirnya berhasil lolos, dan yang satunya lagi telah diamankan oleh polisi.

Usai kejadian itu, rata-rata dari mereka yang berjumlah sekitar 7 atau 8 orang ini merasa sangat syok. Bagaimana tidak? Saat itu, masih banyak kendaraan yang berlalu lalang di sekitar mereka, tapi masih saja para Haromi ini tidak merasa takut untuk melakukan aksinya. Ditambah lagi mereka harus berurusan dengan polisi, yang mana mereka tidak terbiasa berinteraksi dengan polisi Mesir. Namun, Rahmat menjelaskan, beruntung ada kamera Closed Circuit Television (CCTV) yang merekam kejadian tersebut, sehingga proses dengan pihak keamanan bisa terselesaikan dengan cepat.

Terakhir, Rahmat berpesan agar kita selalu waspada saat memakai alat-alat elektronik atau perhiasan di luar rumah. Apalagi ketika sedang berjalan atau di dalam tremco, alangkah baiknya HP-nya disimpan dulu di dalam saku celana dan dijaga baik-baik. Karena kasus-kasus kejahatan seperti pencurian di Mesir ini sudah merupakan hal yang lumrah.

Ia juga menambahkan, ketika sedang di rumah teman terus pulangnya lewat tengah malam, sebaiknya minta diantarin atau paling tidak, menginap di tempat itu, guna mencegah hal-hal seperti yang tersebut di atas.

Reporter: Defri Cahyo, Nurul Aina, Naufal Azka

Editor: Muhammad Nur Taufiq al-Hakim

Comment

Berita Lainnya