Mimpi
“Alif, bangun woi, sahur. Udah mau azan,”
Sahut suara bom kembali terdengar. Saat ini, Alif sedang berada di atas kasurnya. Seperti hari-hari biasanya, Alif tidak pernah bisa tertidur lelap semenjak hari itu. Ya, hari di mana Alif kehilangan semuanya—bukan hanya rumah, tetapi juga seluruh keluarganya.
Mungkin dulu, Alif menganggap kematian merupakan pemandangan yang biasa ia lihat setiap harinya, namun kali ini berbeda rasanya. Ini bukan pemandangan yang ia lihat tiap harinya, ini adalah separuh nyawanya.
“Rasanya begitu sakit sampai aku tak mampu berkata apapun, rasanya begitu pedih hingga air mataku meluncur bagai hujan membasahi bumi,”
Alif mulai bergumam, “Ayah, Ibu, Ahmad … Kemana kalian semua? Kenapa kalian meninggalkanku?”
Hari ini Alif sadar bahwa pemandangan yang ia lihat hari-hari bukan pemandangan biasa, ini adalah hidup seseorang dan semua orang memiliki harapan yang sama. Ya, harapan untuk bisa melihat orang-orang di sekitarnya hidup bahagia.
Alif pun terbangun dan beranjak dari kasurnya melihat sekeliling. Tidak ada lagi tumbuhan, bahkan rumah juga sudah hampir rata dengan tanah.
“Aku harus membagikan video ini, tidak ada cara lain untuk meraih kemenangan kecuali berharap masyarakat dari negara lain dapat membantu kami,” ucap Alif.
“Huh, gak terasa ini hari ketiga aku tidak makan. Jangankan makan, bisa minum saja udah lebih dari cukup,” pikir Alif dalam benaknya.
Seperti hari-hari biasanya Alif selalu berjalan-jalan mengelilingi reruntuhan yang ada, hingga Alif berhenti pada satu titik—tempat dimana Ayah, Ibu, dan Ahmad pergi untuk selama-lamanya. Tempat ini selalu membuat Alif teringat pada hari itu hari dimana Ayah, Ibu, dan Ahmad sedang bercengkrama di rumah. Hingga tanpa disangka ledakan itu datang menghabiskan rumah beserta semua isinya. Alif bukan hanya kehilangan orang-orang terdekatnya, tetapi juga rasa aman.
Alif memandangi anak-anak yang sudah bisa membedakan suara drone dan pesawat tempur sebelum mereka bisa membedakan huruf. Mereka tahu cara berlindung sebelum tahu cara bermain. Masa kecil mereka dicuri oleh ambisi yang tidak mereka pahami.
Tetapi di tengah reruntuhan, masih ada harapan kecil yang Alif genggam. Setiap kali Alif berbagi roti terakhir, setiap kali tetangga saling menguatkan, setiap kali doa dipanjatkan dengan air mata di situlah kemanusiaan tetap hidup.
“Aku sering bertanya, apakah dunia mendengar kami? Apakah ada yang tahu bahwa di balik angka-angka korban, ada nama, ada cerita, ada jiwa yang hancur?” pikiran itu bergumul dalam benak Alif.
Namun itu semua bukan masalah karena dari sini Alif bisa mengetahui arti ketulusan, perjuangan dan arti keluarga. Alif pun melanjutkan langkahnya melewati reruntuhan itu.
Dalam perjalanan menuju tempat pengungsian, Alif mendapatkan sepotong roti dari orang-orang yang berjiwa malaikat. Alif tersenyum dan membayangkan bahwa perutnya akan terisi setelah tiga hari lamanya. Alif pun melanjutkan perjalanan selangkah demi selangkah ia nikmati hidupku yang semakin hari semakin tanpa arah, semakin hari semakin terasa frustasi. Muncul pertanyaan dalam benaknya, untuk apa aku hidup?. Hal itu selalu membuatnya berpikir agar Tuhan segera menjemputnya sekarang juga.
Di penghujung jalan, Alif melihat seorang anak kecil yang berjalan berputar-putar tanpa arah sambil berkata, “Allah, Allah,” Ia pun menghampiri anak kecil itu dan memberikan sepotong roti itu padanya. Dalam pandangan Alif, ia merasa lebih kuat menahan lapar di banding tubuh mungilnya itu, hingga ia terdiam sejenak memandangi seorang bocah kecil tanpa Ayah, Ibu, atau saudara yang berjalan tanpa arah.
Seketika ia tersadar, “Ternyata masih banyak yang lebih berat ya. Ternyata aku termasuk orang-orang beruntung masih bisa mengenal Ayah, Ibu, dan saudara-saudaraku—tidak seperti anak kecil yang malang ini, hidup tanpa mengenal apapun dan siapapun hanya suara ledakan dan darah merah yang berhamburan yang dia ketahui,”
Tiba-tiba getaran di tanah pun mulai terasa dan tidak lama kemudaian terdengar suara. Ya, itu adalah kode yang biasa Alif dengar. Alif diam seakan menyerahkan dirinya pada kematian tapi, anak kecil itu malah menarik bajunya kuat-kuat.
Suara itu semakin keras—ia tidak ingin melindungi diri. Ia berharap ini adalah hari terakhirnya, tetapi lagi-lagi anak kecil itu menarik tangan Alif. Jika dalam dua detik Alif tidak berlindung maka kemungkinan besar ia akan bertemu Ayah, Ibu, dan Ahmad.
Namun keajaiban muncul dalam satu detik terakhir—entah mengapa ia ingin hidup bersama anak itu. Alif ingin memperjuangkannya. Ia ingin sang anak kecil mengetahui bahwa di dunia ini masih ada orang yang bisa melindunginya.
“Alif, azan. Mampus kamu gak usah sahur,”
Penulis: Dinda Nauli Harahap
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




