Tertekan Kondisi Ekonomi, Maidaturrahman Tetap Kokoh
Di tepian jalan perkotaan, desa, dan perkampungan, tenda-tenda maidaturrahman berdiri megah menyambut setiap orang yang hendak berbuka puasa. Meja makan dibentang sepanjang tenda dengan kursi yang nantinya akan diisi berbagai kalangan penduduk lokal hingga warga asing.
Mesir tak pernah bakhil di kala Ramadan, ribuan mahasiswa asing diterima dan didahulukan untuk mengisi meja-meja maidaturrahman. Namun, ekonomi Mesir yang tak kunjung pulih semenjak beberapa tahun terakhir memukul berbagai sendi kehidupan masyarakatnya. Barang-barang naik, harga makanan meroket, bensin bahkan menembus 20 pound per liternya—persentase kenaikan BBM hingga 157% dalam 5 tahun terakhir. Sedangkan maidaturrahman tetap kokoh dan tetap mengisi perut-perut lapar orang-orang yang berbuka.
Para pengurus maidaturrahman menjaga tradisi mulia ini dari generasi ke generasi, dari dinasti fatimiyah hingga tahun 2026 yang harga ayam per kilogramnya menyentuh lebih dari 100 pound. Terutama tingkat inflasi yang menyentuh 11,9% membuat ekonomi warga Mesir diambang kesulitan.
Ini bukan kali pertama warga Mesir hidup di bayang-bayang krisis dahsyat. Menipisnya valuta asing dari kas negara akhir-akhir ini memaksa Mesir meminjam dolar-dolar kepada IMF (Dana Moneter Internasional) pada 2016 dan 2023 silam.
Kendati hidup di masa ekonomi Mesir yang demikian pacekliknya, seorang mantan anggota parlemen (مجلس النواب) bernama Dr. Nader Mostafa tidak merasa heran dengan munculnya maidaturrahman ketika Ramadan.
“Sikap tolong-menolong warga Mesir kian meningkat di kala krisis, terutama warga Mesir mampu beradaptasi dengan kondisi yang paling sulit sekalipun,” ujar Dr. Nader.
Salah satu contohnya adalah rasa semangat mendirikan maidaturrahman yang menggebu-gebu pada diri Rifai Ramadan, pria berusia 40 tahun asal Luxor, Mesir. Rifai memulai cerita itu dengan mengingat keluarganya bahwa tradisi mendirikan maidaturrahman telah ada sejak ia kecil. Di tengah cobaan ekonomi yang kian berat dan terus meningkat, keinginannya untuk melanjutkan tradisi tak pernah goyah walaupun seadanya.
Usahanya tak sendirian, kepedulian orang-orang sekitarnya—keluarga, masyarakat desa, dan siapapun yang ingin menolong—membantu pendirian tradisi mulia itu. Profesinya hanya seorang guru, namun pada hari pertama Ramadan, porsi-porsi maidaturrahman yang lezat terhidang dengan suguhan daging, sayuran, dan nasi. Menu tak selalu sama sepanjang Ramadan, anggaran turut mempengaruhi lauk-pauk yang dihidangkan tersebut.
Konsep yang digunakan oleh Rifai dalam menyajikan menu tidak diterapkan oleh keluarga Al-Dakhakhni di daerah Amiriyah—15 kilometer dari Lapangan Tahrir. Maidaturrahman seharusnya didasari dengan bahan-bahan yang selalu sama menurut keluarga tersebut. Piring-piring maidaturrahman harus berisikan daging, ayam, atau kuftah yang dipanggang oleh juru masak profesional.
Salah seorang keluarganya, Mohamed Al-Dakhakhni (30 tahun) yang merupakan pemilik perusahaan impor mengatakan bahwa maidaturrahman milik mereka ditanggung bersama dengan saudara-saudaranya. “Kini, biayanya menjadi berlipat ganda dibanding sebelumnya,” ucap Mohamed.
Pengusaha muda tersebut menambahkan bahwa kali ini meja-meja maidaturrahman mereka didatangi oleh berbagai keluarga secara utuh. Antusiasme ini terlihat sejak tahun lalu menurut Mohamed. “Keluarga-keluarga tersebut terus mendatangi meja makan setiap hari sepanjang Ramadan,” jelas Mohamed.
Besarnya antusiasme yang terlihat membuat Mohamed menganalisis bahwa tempat jamuan berbuka mereka, polanya akan sama pada awal-awal Ramadan ini.
“Maidaturrahmannya terbentang sepanjang 300 meter dan menampung seribu orang. Biaya yang dikeluarkan melebihi seratus ribu pound mesir per harinya,” terang Mohamed sebagaimana dikutip dari Sharq Awsat.
Dr. Hala Mansour, Guru Besar Sosiologi Universitas Banha, menilai bahwa meja-meja maidaturrahman mencerminkan suatu hal yang merupakan ciri khas masyarakat Mesir, yaitu prinsip takaful. Menurutnya prinsip ini mengalami perkembangan bentuk pada zaman kini.
“Makanan diantar kepada yang membutuhkan atau melalui boks Ramadan yang berisikan kebutuhan pokok selama bulan tersebut,” papar Dr. Hala.
Tetapi, tak ada bagian Mesir yang lepas dari cobaan ekonomi, prinsip tersebut turut terkena imbasnya. Tiap kali Ramadan datang, Mei Musa (40 tahun) selalu menyiapkan 50 porsi buka puasa setiap hari. Porsi-porsi tersebut ia bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar tempat tinggalnya, di kawasan Al-Marj—timur ibu kota. Tahun ini ia berkata, “bahkan saya tidak mampu mempersiapkan lebih dari 10 porsi.”
Mei yang bekerja di bidang montase menjelaskan bahwa paket berbuka tak ia tanggung sendirian. Ada teman, tetangga, dan kerabat yang turut menanggung biaya produksi paket berbuka. Sulitnya kondisi ekonomi kini dengan kenaikan harga di segala bidang, membuatnya berusaha lebih untuk mengatur makanan tersebut.
“Kami berpegang pada kebiasaan yang sama meskipun jumlah hidangan lebih sedikit atau dengan menggunakan ayam sebagai pengganti daging,” tegas Mei tatkala diwawancarai Sharq Awsat.
Meja-meja maidaturrahman tak hanya sebatas tradisi ikonik Ramadan. Menurut Dr. Hala, Maidaturrahman menunjukkan aspek sosial yang sangat penting sebagai solidaritas sosial. Ia menambahkan bahwa konsep meja-meja tersebut lebih sesuai bagi para musafir atau mereka yang tinggal sendirian tanpa keluarga.
Bagaimanapun kesulitan menimpa Mesir, semangat warga sungai Nil melebihi rasa susahnya. Seorang pemuda dari Darb Ahmar, Karim Magdi, mengakui bahwa mahalnya beban biaya maidaturrahman kali ini begitu terasa bagi mereka.
Namun, karena kecintaan orang-orang pada kebaikan dan menolong sesama, beban tersebut mampu teratasi. “Bahkan, orang yang hidupnya tak lebih baik dari lainnya, tetap membantu walaupun dengan satu dus air minum,” terang Karim.
Reporter: M. Naufal Luthfi
Editor: Muhammad Saladin Ghaza Al Arsyad
________________________
Redaktur telah memperbarui judul artikel yang sebelumnya berjudul “Ekonomi Mesir Hancur, Maidaturrahman Tetap Kokoh” menjadi “Tertekan Kondisi Ekonomi, Maidaturrahman Tetap Kokoh” pada Rabu (04/03) pukul 17.30 WLK. Perubahan ini dilakukan setelah mendapat masukan dari pembaca dan diikuti peninjauan kembali redaktur agar penggunaan terminologi sesuai dengan data lapangan.Terima kasih atas perhatiannya.
Pimpinan Redaksi
Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!
Klik di sini




