Informatika Mesir
Home Sastra & Cerpen Darrasa Pukul 2 Dini Hari

Darrasa Pukul 2 Dini Hari

Suasana pukul dini hari di Mesir. Sumber: Tim Informatika Mesir.

Tak ada alasan khusus mengapa aku sering pulang ke Gamaliya pukul 02.00 dini hari jika pergi bermain ke rumah temanku yang ada di Aslan, Darrasa. Mungkin, aku cuma ingin merasakan sensasi Darrasa yang sunyi dari riuhnya suara kendaraan, bacotan ammu-ammu. Mungkin juga, aku tak ingin diusik oleh tegur-sapa teman-temanku yang sedang berjalan. 

Darrasa pukul 02.00 dini hari menjadi waktu paling tenang yang kurasakan untuk menyusuri lorong-lorong perumahan yang tampak seperti beberapa abad lalu, bebas berjalan sembari ketawa-ketawa sendiri, menikmati angin malam nan syahdu, hingga gonggongan anjing yang menghadangku tidak terdengar seperti ingin menerkam, tapi ingin menyapaku dari kesendirian di tengah malam. 

Bruuuuumm Bruuumm Bruumm!

Terdengar suara tuktuk (bajaj) dari arah belakang, seolah memecah alam Darrasa dari kesunyiannya. “Tiiiiiiiiinn tiiiiiiinn tiiiinn”, artinya tuktuk sudah semakin dekat di belakangku, lalu aku menepi ke pinggir untuk memberikan keleluasaan untuknya. Tuktuk pun berhenti di sebelahku dan tiada lain maksudnya ialah untuk menawarkanku naik bersamanya.

“Tuktuk sadiq (red: teman)?”

Ruh fein (pergi ke mana)?”

Irkab ma’aiya ila musytasyfal husein (naik bersamaku ke RS Husein), magganan (gratis)”, tawarnya kepadaku.

Syukron sadiq (terimakasih teman), ana musy ‘ayizin barkab ma’ak (aku tak mau naik bersamamu”, tolakku dengan halus. 

Bruuuuuuuumm”, sopirnya tancap gas.

Aku bukan sok jual mahal kepada sopir tuktuknya, aku hanya ingin menikmati jalan Darrasa tanpa detak jantung yang cepat. Dari masjid Rifa’i sampai masjid Khadrawi adalah jalan yang paling aku takuti. Pasalnya, di sini aku sering menjumpai ia yang dulu aku dambakan jika pulang sebelum pukul 23.00. Aku tak tahu lebih tepatnya di mana ia tinggal, tapi aku beberapa kali melihat dia masuk ke arah “gang tikus” (istilah untuk salah satu lorong sempit). 

Aku bukan tak mau melihat wajah indah itu lagi, aku hanya menghargai sesuai apa yang ia inginkan, yaitu tak ingin bersapaan denganku lagi. Ia yang dulu sangat antusias jika bertemu denganku, tetapi sejak pertemuan malam itu ia tak tampak seperti biasanya dan sampai sekarang aku belum tahu alasannya. 

Setelah pertemuan terakhir itu, aku mulai mencari cara agar tidak lagi bertemu dengannya. Akhirnya, aku pun menemukan cara yang paling ampuh, ialah dengan pulang 02.00 dini hari. Barangkali, ini menjadi cara yang paling mujarab untuk menghindari tegur-sapanya. Mungkin ia juga lebih suka untuk tidak bertemu denganku.

Tepat di samping masjid Khadrawi, aku bertemu dengan salah seorang teman karib yang rumahnya tak jauh dari rumahku di Gamaliya, namanya “Fulan”. Ia penyuka sastra terlebih puisi. Matanya terlihat sudah mau jatuh, seperti ingin cepat-cepat memeluk guling.

“Pulang?” tanyanya.

“Iya” Jawabku.

Yok barengan!” timpalnya.

“Habis dari mana?” tanyanya lagi.

“Main di rumah teman,” ujarku.

“Kenapa enggak nginep aja sekalian?”.

“Lah, lo kenapa kagak nginep aja di rumah teman lo sekarang?” timpalku. 

“Gua ada kuliah besok.” 

“Gue juga ada kuliah besok.”

Ngikut aja lu,” katanya. 

Hahahahaha,” ketawaku.

Jawabanku membuat si Fulan tampak kembali bugar.

Kami berjalan berdua melewati “jalur Gaza” (istilah untuk salah satu jalan) yang gelap, hanya diterangi cahaya rembulan dan langkah kaki yang semakin cepat ingin sampai di rumah. 

Ingin sekali aku bertanya kepada si puitis ini tentang sebuah perasaan. Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan secara perlahan dan bertanya tentang perasaan kepadanya. Hal tersebut tidaklah mudah bagiku karena aku pernah mengatakan kepadanya kalau aku belum pernah memiliki perasaan dengan wanita. Takutnya, ketika aku melontarkan pertanyaan seperti itu justru ia malah meledekku. Aku yakinkan diri.

“Bro, gimana pendapat lo tentang perasaan yang tak kunjung bersemi?” tanyaku.

“Maksud lu gimana bro, lu jatuh cinta bro?” tanyanya.

“Iya,” jawabku. 

Hahahahaha, bisa juga lu jatuh cinta ya?” dia ketawa terbahak-bahak sambil ngeledek

Benar saja apa yang menjadi firasatku. Dia meledekku.

“Gue serius nanya gini bro,” timpalku. 

“Oke oke bro, akan gua jawab semampu gua.”

Dengan gaya ala-ala penyair di panggung teater, dia melantunkan,

“Cinta adalah tentang perasaan, bukan memilih dia yang mana.

Cinta adalah tentang menunggu, menunggu siapa yang tulus membersamaimu.

Cinta adalah tentang memberikan kebebasan, kebebasan untuknya berkembang.

Cinta adalah tentang pengorbanan, mengikhlaskan dia pergi walau tak kembali lagi.

Puisi karya Fulan,” tutupnya.

Tibalah kami di persimpangan belakang Barakat (nama salah satu toko), rumah Fulan menuju ke kiri, dan aku akan mengambil jalan lurus. Kami bersalaman, kemudian berpisah.

“Sehat-sehat ya, bro,” tuturnya dengan nada ngeledek.

Aku punya setidaknya tiga menit lagi untuk sampai di rumah, merenungi makna dari puisi si Fulan yang begitu mendalam. Tetapi sampai di rumah, aku masih belum setuju dengan apa yang Fulan katakan. 

“Enggak, enggak, dia adalah dambaan hatiku,” gumamku.

Aku hanya percaya kepada Tuhan, bukan kata-kata puitis si Fulan yang menyebalkan itu. Aku tahu bahwa Tuhan mengetahui isi hatiku dan aku tahu bahwa Tuhan pasti ingin melihat hambanya bahagia.

Penulis: Ferdian Hudatullah

Editor: M. Saladin Ghaza

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad