Informatika Mesir
Home Sastra & Cerpen Satu Hari Saja Menjadi Aku

Satu Hari Saja Menjadi Aku

“Satu hari saja menjadi aku”. Sumber: Istimewa.

Matahari siang menggantung tepat di atas langit kota Kairo, angin panas berhembus pelan membawa debu-debu tipis menari di antara bangunan tua. Jalanan depan kuliah sudah dipenuhi mahasiswa antar negara yang baru pulang dari muhadarah terakhirnya sebelum ujian termin.

Sebagian berjalan kaki ke rumahnya, sebagian lagi ada yang mengendarai sepeda motor kilatnya, dan banyak dari sebagian yang lain tetap memilih pulang dengan Tramco yang siap membelah jalanan rute Darrasa—Hay Sabi yang tak lupa ditemani musik khasnya, yaitu mahraganat (red: sebutan orang mesir untuk genre musik jalanan).

Di kota yang jauh dari rumah, setiap orang membawa perjuangannya masing-masing, namun hanya sedikit yang menyadari itu.

***

“Capek banget, sumpah Ya Rab!”

Raka tersungkur di atas kasur miliknya. Ia seorang mahasiswa tingkat akhir yang dilema dengan prasangka-prasangka buruk. “Aku bakal lulus enggak ya tahun ini?”, “Apa bakal rasib lagi?”, “Ya Rab! Nanti alasan apa lagi ke orang rumah?”, dan masih banyak lagi yang menghantui pikiran Raka.

“Ini waktu lamaij dikit boleh enggak sih? Cepet banget rasanya. Baru aja ujian termin satu kemarin, ini dah ujian termin dua aja lagi, Ya Rab,” keluh Raka yang disusul hembusan nafasnya yang berat.

“Yah, namanya juga mahasiswa, Kak. Enggak jauh-jauh dari kata ujian. Sing penting ente kelarin aja muqarar yang dah numpuk itu,” jawab temannya sambil terkekeh mendengar keluhan Raka.

“Ya ampun, itu mulut ringan banget dilihat. Dah kayak mata rupiah kita aja Lu,” timpal Raka usil sambil melempar gulungan kertas bekas miliknya ke arah temannya itu.

Raka menatap langit-langit kamar, setiap kali membuka media sosial ia melihat teman-temannya sudah memosting foto kelulusan, ada yang sudah memiliki profesi, bahkan sudah ada yang memiliki keluarga kecil.

Sedangkan dirinya? Masih di tempat yang sama.

Kadang ia merasa hidup tidak adil, padahal kalau ngomongin soal uang, jangan lagi ditanya. Enggak pernah ada tuh ceritanya rekeningnya Raka kosong. Pasti selalu beragam angka nominal di rekeningnya. Kalau ingin beli buku, tinggal beli. Kalau bosan sama lauk yang di masak, tinggal tausil menu baru lagi.

Tapi dengan semua privilese itu, Raka masih beranggapan dirinya adalah mahasiswa yang paling kurang beruntung sebab dia sudah dua kali rasib selama dua tahun terakhir.

Sore di hari selanjutnya,

Raka memilih jalan sore untuk menenangkan pikirannya yang sedang jenuh. Dari kejauhan, ia melihat teman sekelasnya mengayuh sepeda tua yang sudah sedikit berkarat. Di belakang sepedanya tergantung beberapa kantong besar berisi makanan yang terbungkus rapi siap untuk ditausil.

Tampak keringat sudah membanjiri wajahnya, namun ia tetap memilih untuk mengayuh sepedanya tanpa henti.

Rahul namanya, mahasiswa yang selalu mendapat takdir Mumtaz di setiap tingkatnya.

“Enak banget jadi dia, kerja pun masih tetep aja dapat nilai bagus,” batin Raka.

***

Di bawah terik matahari sore yang masih sedikit menyengat, Rahul mengayuh sepedanya lebih cepat.

“Ini Ustazah, 80 Le ya,” ucapnya sambil menyerahkan pesanan.

“Syukran ya, Ustaz,”

“Afwan, Zah,” jawab Rahul ramah dan langsung kembali mengayuh sepedanya menuju tempat selanjutnya.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam, teman-teman rumahnya sudah kembali dari aktivitas mereka masing-masing. Ada yang langsung bersih-bersih untuk istirahat dan ada juga yang masih bersantai dengan gimnya. Sementara itu, Rahul masih harus mengantar dua pesanan lagi sebelum isya tiba.

Kalau tidak begitu, uang bulanannya tidak akan cukup untuk menampung kehidupannya sehari-hari. Ayahnya di kampung hanya seorang buruh, kadang kiriman uang datang terlambat dan bahkan tidak ada sama sekali.

Maka sejak awal kuliah, Rahul belajar mencari tambahan untuk dirinya sendiri dan sesekali ada rezeki yang berlebih ia kirim ke keluarganya yang di kampung.

Malam setelah kerjaannya selesai, ia belajar hingga larut malam. Siang hari jika tidak ada shift kerja, ia pergi ke kuliah dan begitu seterusnya. Tidak ada kata main, tidak ada kata nongki.

Sesampainya di kamar, ia langsung membuka muqarar. Matanya lelah, tubuhnya pegal, tapi ia tetap memaksa belajar.

“Aku harus Mumtaz.” Hanya itulah yang dapat ia banggakan pada keluarganya.

Saat Rahul sedang memahami muqarar yang sedang di kajinya, terlihat Arman penghuni syaqah seberang imarahnya berjalan pulang dengan kaki yang tertatih-tatih dengan menggenggam kitab di sebelah kanannya. 

Arman adalah mahasiswa yang tidak pernah absen datang untuk talaki, hampir setiap majelis yang Rahul ikuti pasti ia selalu ada. 

“Wahhh beruntung sekali hidupnya, hanya fokus belajar, enggak perlu ngerasain kerja sambilan kayak aku,” lirih Rahul lalu kembali menatap muqararnya.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua malam, suara berisik di luar sana sudah mulai terdengar samar. Sesekali tuktuk lewat dan disusul gonggongan anjing yang menjadi peramai pada heningnya malam Darrasa.

Di sebuah kamar kecil, Arman duduk sendirian memandangi pil-pil obat yang siap meluncur masuk menjelajahi lubang kerongkongannya, wajahnya menahan nyeri. Setelah menelan pil-pil itu, ia berbaring perlahan, tubuhnya terasa sakit lagi. 

Kini sudah tiga tahun sejak dokter mengatakan bahwa kondisi fisiknya tidak bisa membaik seperti semula, hanya bisa dipertahankan agar kondisi tubuhnya tidak tambah memburuk. Setiap bulan, ia harus menjalani pemeriksaan dengan berbagai alat medis yang selalu membuat badannya terasa lemah. Di malam harinya, ia harus menahan rasa sakit yang tidak terlihat oleh orang lain.

Di kuliah dan di tempat talaki, Arman berusaha tampak baik-baik saja, seolah rasa sakit itu tak pernah kunjung datang padanya. Namun ketika malam datang, perjuangan yang sebenarnya dimulai.

Kadang ia menangis diam-diam dan bertanya pada dirinya sendiri,

“kalau besok sakitnya makin parah gimana?”

Tapi pagi selalu datang dan Arman selalu bangkit, bagai matahari yang siap menerangi bumi.

***

Masing-masing dari mereka berpikir,

“Coba aja aku jadi dia.”

Padahal jika mereka benar-benar bertukar hidup selama satu hari saja, mungkin mereka akan terkejut melihat beban yang selama ini tersembunyi. 

Tidak semua luka terlihat dan tidak semua perjuangan terdengar. Ada kehidupan yang harus terus berjalan dengan segala ujian yang berbeda-beda. Ada yang diuji dengan kegagalan, Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan kesehatan, dan masih banyak lagi.

Tidak ada yang benar-benar hidup tanpa beban. Mungkin, itu sebabnya Allah tidak pernah meminta manusia membandingkan ujian yang dipikul karena setiap orang sedang memikul takaran yang berbeda-beda, yang diminta hanyalah bersabar dan bersyukur.

Mungkin kini di luar sana, ada seseorang yang sedang memandang hidup kita sambil berkata,

“Andai aku bisa hidup seberuntung dia.”

________________________

Penulis: Salsabila Dwi Fitria

Editor: M. Saladin Ghaza

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad