by

PPMI Mesir dalam Sorotan PCINU Mesir

Informatikamesir.net, Kairo — “Menurut saya, banyak hal lain yang bisa dilakukan oleh PPMI yang lebih urgent. Maksud saya, dengan mengadakan acara (Amazing Muharram) tersebut, urgensitas utama untuk Masisir itu apa? Apakah ingin semacam menunjukkan bahwa Masisir itu ngga anti khilafahnya HTI misalnya?”

Begitulah ungkapan hati seorang pria bernama Nora Burhanuddin, Ketua Tanfidziyah Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir kala diwawancarai oleh Kru Informatika pada Kamis, (6/7/2020), lewat ponsel pintar di aplikasi WhatsApp.

Ia mengicaukan hal tersebut guna menanggapi unggahan akun resmi Instagram PPMI Mesir. Unggahan yang mereka ‘pamerkan’ pada Rabu (5/8/2020) silam itu melukiskan sebuah pamflet acara Amazing Muharram yang menuai beberapa komentar kontroversial dari beberapa pihak dan golongan.

Dalam pamflet tersebut, PPMI Mesir yang merupakan lembaga ‘langit’ di kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir), tampak sebagai ‘wajah’ supporter atau pendukung acara itu.

PPMI Mesir pernah dimintai klarifikasi lebih lanjut terkait hal ini, namun mereka lebih memilih untuk merisleting mulut karena menganggap klarifikasi yang pernah mereka unggah itu sudah cukup untuk menjawab berbagai kebingungan yang melanda Masisir.

Suasana semakin tegang. Nora masih dalam ‘kicauan merdu’-nya mengungkapkan, acara Amazing Muharram itu memiliki potensi yang akan bertentangan dengan apa yang berlaku di Mesir secara umum, yaitu perihal gerakan Khilafah (negara Islam) yang sejak beberapa tahun lalu digaungkan oleh para singa berkedok Hizbu Tahrir Indonesia (HTI). Menurutnya, di Mesir itu sendiri, Hizbuttahrir sudah dilabeli garis silang merah sejak tahun 70-an.

Ia juga menambahkan, sekitar 6 bulan yang lalu, ketika para ulama berkumpul dalam satu naungan Muktamar Tajdid al-Fikrah al-Islami, Ahmad Thayyib selaku Pimpinan Tertinggi Universitas Al-Azhar Kairo mengungkapkan bahwa Khilafah itu merupakan syariat yang hanya cocok di zaman dulu. Namun di masa sekarang, dia sudah seperti lava di dalam sebuah wadah plastik. Ketua Tanfidziyyah PCINU itu mengatakan bahwa dalam Islam, tidak ada kewajiban untuk membentuk syariat tertentu.

“Jadi, menurut saya problemnya di situ, sih. Kita pelajar Azhar, terus kemudian di Mesir, kemudian kita tahu bahwasanya Syaikhul Azhar sebagai pimpinan tertinggi Institusi Pendidikan Al-Azhar, itu punya pendapat, pendapatnya jelas bertentangan dengan kawan-kawan HTI. Nah, terus kita mau mendukung acara, di mana acara ini jelas-jelas ‘sepertinya’ mendukung ke sana? Ya, kawan-kawan PPMI (Mesir) saya pikir bisalah mengukur urgensinya,” jelas Nora untuk menanggapi permasalahan yang sempat menjadi buah bibir di kalangan Masisir ini.

Di akhir kalam, Nora menegaskan, bahwa segala hal yang ia sampaikan ini merupakan pendapat pribadinya yang ia pikir mungkin juga mewakili sikap dan gagasan PCINU Mesir secara umum. PCINU Mesir sendiri menurut penuturan Nora, tidak akan mengeluarkan maklumat khusus terkait hal ini.

Reporter: Revi Sutrisna

Editor: Muhammad Nur Taufiq al-Hakim

Comment

Berita Lainnya