Informatika Mesir
Home Analisis Ringan Pengamat Geopolitik Timteng: Indonesia Tidak Punya Pengaruh dalam Board of Peace

Pengamat Geopolitik Timteng: Indonesia Tidak Punya Pengaruh dalam Board of Peace

Suasana hadirin forum saat Y. Ayyas memaparkan materi. Sumber: Dokumentasi Panitia.

Informatikamesir.net, Kairo – Republik Indonesia tidak memiliki pengaruh apa-apa dalam BOP (Board of Peace). Hal ini disampaikan Abdullah Yahya Ayyas, mahasiswa jurusan syariat wa qanun sekaligus analis dan pengamat geopolitik Timur Tengah, kepada tim Informatika Mesir setelah ia mengisi materi sebagai narasumber di acara Hari Diskusi yang diselenggarakan oleh PII (Persatuan Islam Indonesia) Mesir pada Jumat (13/02) di kafe belakang Nadi Qaumi, Darb Ahmar.

“Bapak presiden Prabowo lebih ingin tampak terlibat begitu. Padahal, secara realitanya Indonesia tidak memiliki pengaruh apa-apa dan tidak bisa berpengaruh lebih besar buat BOP. Itu kembali kepada citra saja sebenarnya,” jelas Ayyas.

Ayyas juga menyebutkan bahwa struktur dari BOP tidak jauh berbeda dengan apa yang ada dalam struktur DK-PBB (Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa) dan Indonesia hanya hadir secara citra bukan secara fundamental.

“Dari strukturnya saja sudah jelas begitu. Struktur dibentuknya BOP tidak jauh berbeda dengan Dewan Keamanan PBB (yang) memang dibangun atas dominasi tatanan global saat ini. Bahkan (ini) lebih pasif, yaitu (secara) tunggal saat ini Trump yang memegang hak veto. Sehingga hadirnya Indonesia saat ini lebih kepada secara citra, bukan secara fundamental peran Indonesia dapat dirasakan. Pada akhirnya, suara yang akan didengar hanya suara pemilik hak veto,” tegas Ayyas.

Di akhir sesi, Ayyas berpendapat bahwa mengembalikan keseimbangan kekuatan harus atas dasar inisiatif Indonesia dan negara-negara Islam itu sendiri, bukan justru masuk ke dalam BOP.

“Ini sebenernya menjadi poin dasar argumen saya tentang tawazun al-quwwah, untuk bagaimana kita mengembalikan keseimbangan kekuatan lewat inisiatif kita sendiri. Seperti contohnya Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non-blok yang diinisiasi oleh negara-negara Islam pada saat itu yang memang tujuannya untuk mengembalikan keseimbangan kekuatan itu. Nah, karena tidak adanya inisiatif dari negara-negara Islam dan negara-negara Arab, mereka hanya bisa menerima wacana yang sudah ada dari negara besar lain. Mereka tidak ingin mengambil risiko menciptakan sesuatu yang baru begitu. Di sinilah letak masalahnya karena logika mereka dikembalikan kepada pragmatisme, tidak mau repot begitu,” jelas Ayyas.

Reporter: Ferdian Hudatullah

Editor: M. Saladin Ghaza Al Arsyad

Mari bergabung untuk mendapatkan info menarik lainnya!

Klik di sini
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad