by

Pembatasan Interaksi oleh KPI; Sebab Kasus Pelecehan terhadap Masisirwati?

Informatikamesir.net, Kairo — Akhir-akhir ini banyak kasus pelecehan yang dialami oleh Mahasiswi Indonesia di Mesir atau kerap disebut dengan istilah Masisirwati, mulai dari penggodaan di jalanan sepi oleh pribumi Mesir, hingga usaha penculikan yang berujung percobaan pemerkosaan.

Seluruh elemen Masisir berupaya mencari solusi atas problem tersebut, mulai dari imbauan untuk tidak keluar malam sendirian, wacana menerapkan program musyrif seperti yang diterapkan oleh mahasiswa dari negara tetangga—Malaysia, hingga pengaktifan Dewan Keamanan dan Ketertiban Masisir (DKKM) yang kemudian dikenal sebagai sahabat akhwat, yang salah satu tugasnya adalah mengantar para akhwat pulang di waktu malam.

Dahulu, sebelum terkuaknya kasus-kasus asusila di Masisir dan adanya reborn Komisi Peduli Interaksi (KPI), dianggap hal biasa Masisir mengantar Masisirwati pulang tengah malam. Namun belakangan ini, beredar sebuah pandangan di kalangan Masisir, seolah peraturan KPI terkait batasan interaksi tidak relevan dengan kebutuhan Masisirwati dalam hal keamanan.

Di satu sisi, KPI dengan peraturannya dipandang membatasi interaksi antar lawan jenis, tapi di sisi lain, Masisirwati juga butuh ditemani Masisir, khususnya ketika pulang di waktu malam. Lantas, apa saja sebenarnya sebab-sebab pelecehan Masisirwati oleh pribumi? Bagaimana tanggapan ketua KPI terkait stigma yang beredar tersebut? Juga, bagaimana imbauan Ketua Wihdah untuk seluruh Masisirwati? Berikut rangkuman data yang telah Informatika kumpulkan beberapa waktu yang lalu.

Sebab-sebab Terjadinya Kasus Pelecehan serta Solusi Pencegahannya

Muhammad Ziaul Haq, mahasiswa tingkat tiga jurusan Hadis, Universitas Al-Azhar Kairo menganggap bahwa sebab terjadinya kasus pelecehan oleh pribumi bisa dilihat dari dua sisi, yaitu pelaku dan korban.

Menurutnya, pribumi Mesir memiliki nafsu yang tinggi, juga di Mesir sulit mendapatkan pasangan yang halal sehingga mereka melampiaskan nafsunya pada wafidat (pelajar asing wanita). Ia juga beranggapan, pelaku tengah berada dalam kondisi tidak sadar atau mabuk. Sedang dari sisi korban, ia berpendapat, sebab terjadinya kasus pelecehan adalah karena pribumi melihat pergaulan Masisirwati dengan Masisir cenderung ‘bebas’.

Olehnya, Zia menuturkan dua solusi kepada Informatika guna mencegah kasus-kasus pelecehan tersebut, yaitu solusi jangka pendek; tidak berkeliaran sendirian, memerhatikan waktu keluar, serta menjauhi tempat-tempat yang rawan, dan solusi jangka panjang; pembatasan calon mahasiswi baru ke Mesir.

Di sisi lain, Hanan Nashita, mahasiswi tingkat tiga jurusan Syariah Islamiyah juga mengemukakan pendapatnya, sebab terjadinya pelecehan yang menimpa Masisirwati adalah seringnya menyepelekan adab-adab perempuan di luar rumah, seperti bersuara keras dan ketawa-ketiwi di jalanan, baik itu ramai maupun sepi, juga kurangnya kehati-hatian.

“Udah tau sering ada kasus pelecehan, eh masih ada saja yang sering pulang malam lewat jalan sepi,” ujar mahasiswi asal Jawa Barat itu, Ahad, (3/1) lalu.

Hanan juga berpesan kepada Masisirwati agar memiliki alarm jam malam dalam diri mereka. Jika mengikuti acara di malam hari, tidak perlu menunggu acaranya hingga usai, mereka harus mendahulukan keamanan diri mereka sendiri. Karena menurutnya, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Ada lagi pendapat yang datang dari salah satu mahasiswi tingkat tiga jurusan Syariah Islamiyah, Citra (nama disamarkan). Ia mengatakan, sebab pelecehan yang terjadi di kalangan Masisirwati adalah karena adanya kesempatan, seperti berjalan sendiri dan terlihat kurang waspada terhadap sekitar.

Citra mengaku sering menemukan Masisirwati naik bus atau angkutan umum lainnya, dan tidak peduli dengan siapa yang berada di samping atau di belakangnya, kemudian tiba-tiba terjadi pelecehan. Menurutnya hal tersebut bisa diantisipasi dengan mengambil tempat yang berjarak dengan pribumi Mesir.

Masisirwati asal Jawa Timur itu juga beranggapan terjadinya pelecehan tersebut karena pandangan pribumi Mesir yang menganggap wafidat Asia tidak kasar dan seberani orang Mesir. Ia pun menyayangkan sikap Masisir dan Masisirwati yang terkesan saling serang; Ikhwan mengeluh tak ingin mengantar Akhwat karena khawatir dikira modus, dan Akhwat merasa bisa mengatasi semuanya sendiri. Ia berpesan agar wafidin berpikir lebih panjang lagi dari itu, dan saling memahami keadaan masing-masing.

Ketua KPI: Kalau Sudah Malam, Sudahi Agenda!

Widhy Ridho, ketua KPI mengaku sudah memperhatikan kasus-kasus kejahatan yang menimpa Masisir dan Masisirwati sejak tahun 2018, dan menyimpulkan hal tersebut terjadi karena kurangnya kehati-hatian dan kewaspadaan yang bersangkutan.

Dalam hal ini, ia berharap Masisir kembali memperhatikan isu keamanan, karena menurutnya hal itu lebih menjadi prioritas daripada isu interaksi, terlebih saat ini kondisi negara Mesir sedang tidak baik-baik saja pasca-pandemi; ekonomi menurun menyebabkan tingkat kriminalitas menjadi tinggi.

Ketua KPI itu sangat mendukung gerakan patroli malam dari DKKM dan Imbauan WIHDAH PPMI Mesir untuk Masisirwati agar tidak keluar malam. Menurutnya hal tersebut perlu diterapkan oleh semua organisasi di bawah Student Government System (SGS) atau Sistem Pemerintahan Pelajar.

“Tolonglah semua organisasi di bawah SGS harus paham dan menerapkan imbauan yang ada. Jika sudah malam, sudahi agendanya, bila perlu antarkan semua anggota yang ikut dalam acara tersebut,” harap Widhy.

Stigma yang Beredar tentang KPI adalah Sebuah Kesalahan Berlogika

“Hal ini bisa dikategorikan sebagai sebuah logical fallacy (kesalahan berlogika). Tolong bedakan antara kepentingan keamanan dengan interaksi,” tegas Widhy kepada Informatika via WhatsApp.

Hal tersebut ia ungkapkan sebagai jawaban atas beredarnya pandangan bahwa adanya undang-undang interaksi KPI menjadi larangan untuk mengantar atau melindungi akhwat di malam hari. Ia menjelaskan, selama yang dilakukan itu mematuhi rambu-rambu interaksi, hal tersebut tidak menjadi masalah.

Meskipun begitu, ia berharap agar Masisir sebisa mungkin menghindari untuk mengantarkan Akhwat seorang diri. Karena menurutnya, ketika dua insan berlawanan jenis jalan berdua, setan akan lebih mudah menggoda mereka.

Ditambah lagi, Widhy meminta agar Masisir mengambil contoh dari kisah Nabi Musa ketika mengantar pulang dua anak perempuan Nabi Syuaib. Ia menerangkan, Nabi Musa berjalan di depan mereka berdua, kemudian untuk mengarahkan Nabi Musa, dua putri itu melemparkan batu ke arah yang mereka harus lalui. Lalu selama perjalanan, mereka sangat meminimalisir percakapan.

“Intinya mengantar pulang ini jangan diambil pusing. Selama memahami batas interaksi, maka aman. Menghindari kontak fisik dan laki-laki menjaga pandangan, kalau bisa jangan sendiri, jika memang kepepet, maka terapkan kisah Nabi Musa tadi,” pungkas Widhy. 

Ketua WIHDAH: Akhwat Jangan Malu ataupun Segan

Terkait dengan akhwat yang terpaksa pulang malam, Prawita Andaresti Kaswadi, Ketua WIHDAH PPMI Mesir berharap agar Masisirwati tidak malu ataupun segan meminta bantuan gubernur kekeluargaan atau Ikhwan di tempat itu untuk mengantarnya pulang. Menurutnya, walaupun Masisirwati memiliki nyali yang besar, tenaga pribumi Mesir jauh lebih besar, sehingga peluang terjadinya kejahatan terhadap mereka lebih besar juga.

“Jangan sok berani, teman-teman mahasiswi minta ke ketua, pengurus kekeluargaan, atau yang berada di tempat untuk mengantar. Mereka pasti mau, kok,” tegasnya.

Di samping itu, Prawita mengungkapkan, WIHDAH PPMI Mesir saat ini sudah menjalin kerja sama dengan kekeluargaan dan DKKM dalam hal tersebut. Isi kerja samanya dengan kekeluargaan adalah meminta agar agenda kekeluargaan tidak selesai larut malam, dan memastikan anggota perempuan tidak pulang sendirian di malam hari.

Sedang isi kerja samanya dengan DKKM adalah mengingatkan unsur organisasi di lingkungan sekitar agar tidak mengadakan agenda hingga larut malam, dan menegur mahasiswi yang masih berada di luar rumah di atas jam 10 malam waktu setempat.

Tidak cukup sampai di situ, Prawita juga mengomentari anggapan yang beredar terkait Masisirwati jika pulang bersama Ikhwan dikhawatirkan terkena teguran KPI. Ia merasa Masisir masih perlu kembali dijelaskan perihal tupoksi KPI dan sampai mana batas mereka dalam melakukan tugasnya, sehingga Masisir tidak salah paham.

“KPI tidak mengatur sebegitu jauhnya, misalnya ketika mengantar ketemu di jalan kemudian langsung dimarahi, tidak! Bukan begitu rutenya,” ujarnya.

Berdasarkan penuturan Prawita, KPI akan mendukung apa pun bentuk perlindungan terhadap Masisirwati selama tidak keluar dari ruang lingkup syariat, seperti jalan berdekatan, sentuhan fisik, atau sampai saling merangkul.

Reporter: Muhammad Adisurya Pahlawan

Editor: Defri Cahyo Husain

Comment

Berita Lainnya