by

Ketika Norma Kian Menjadi Dilema

Para mahasiswa Indonesia yang tinggal di Mesir atau Masisir, kebanyakan dari mereka yang sedang menempuh studi bachelor (S1) di al-Azhar, mayoritasnya berdomisili di kawasan Darrosah. Bahkan, saking banyaknya mahasiswa yang tinggal di daerah ini, para pedagang di kawasan tersebut kerap menggunakan bahasa Indonesia walaupun hanya sebatas mengungkapkan harga barang.


Sangat disayangkan, akhir-akhir ini, sering didapati Masisir yang tidak segan-segan merokok di depan umum, di kafe-kafe, di jalanan, dan tempat-tempat umum lainnya. Bukan hanya itu, ada juga yang biasa memakai celana pendek ketika keluar rumah hanya untuk membeli keperluan di kios-kios terdekat.


Faktor Menurunnya Kepekaan Masisir Terhadap Norma yang Ada
Salah satu aktifis senior masisir Zulkifli Syah Chan menyampaikan, bahwasanya hal ini terjadi salah satunya dikarenakan kurang ketatnya proses screening Kementerian Agama RI terhadap para calon mahasiswa baru yang hendak melanjutkan studi ke universitas al-Azhar Mesir.


“Camaba yang lolos seleksi OIAA banyak yang tidak layak lolos kalau di lihat dari cara berpakaian, berinteraksi dengan lawan jenis, bergaul sesama masisir dan penduduk setempat, camaba tak punya adab sopan santun dan kurang ajar kok bisa lolos seleksi,” ulasnya.


Sempat tersorot juga masalah kebijakan pengiriman camaba ke Mesir oleh Muhammad Arifin, MA. selaku Direktur Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) yang menegaskan bahwa pihak PUSIBA tidak akan membatasi peserta didik yang mengikuti program persiapan masuk Universitas Al-Azhar Kairo. Hal ini pun disinyalir turut membuat jumlah camaba yang berangkat tahun pada rengtang waktu 2019-2020, baik melalui PUSIBA maupun mediator lain, mencapai angka 1,500-an.


“Orang mau belajar dan menuntut ilmu dengan biaya sendiri pula, mengapa harus dibatasi? Kalaupun ada pembatasan, biar terjadi secara alami saja,” ungkap Arifin kepada kru Informatika pada Sabtu (5/09) via WhatsApp.


Kurangnya perhatian elemen yang menaungi Masisir seperti halnya KBRI Kairo, PPMI, Afiliatif, Kekeluargaan, Almamater, dll juga menjadi salah satu faktor terjadinya penyimpangan norma sosial yang tengah menjamur seperti halnya merokok dan memakai celana pendek di depan umum. Zulkifli Syah Chan juga menjelaskan bahwa hal-hal yang mengkhawatirkan ini terjadi justru karena kurangnya kepedulian dan perhatian dari segenap elemen masisir,


“Menurut saya, hal ini terjadi karena kurangnya kepedulian dari segenap elemen masisir terutama para pemangku kebijakan seperti KBRI, PPMI, kekeluargaan, para senior, dan yang paling utama OIAA sebagai penyelenggara keberangkatan camaba.”


Tanggapan Presiden PPMI Mesir dan Segenap Elemen masisir
Menanggapi hal ini, Presiden PPMI Mesir, Farhan Azis Wildani pun menilai hal tersebut sebagai evaluasi tersendiri bagi Masisir pada umumnya. Ia juga menghimbau kepada seluruh Masisir untuk tidak keluar rumah dengan celana pendek.


“Tanggapan saya pribadi terkhusus kepada teman-teman yang keluar dengan celana pendek walaupun itu ke warung atau sebagainya, mungkin itu menjadi evaluasi tersendiri dan kami menghimbau kepada teman-teman semuanya agar tidak memakai celana pendek ketika keluar rumah dan itu juga teguran dari senior-senior yang ada,” ungkap Farhan.


Presiden PPMI Mesir 2020-2021 ini pun menganggap bahwa perilaku merokok di depan umum merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan. Ia juga memperingati Masisir agar tidak merokok di jalanan umum terutama di wilayah Darrosah dikarenakan banyaknya guru-guru Azhar yang lalu lalang setiap saat.


“Dan juga teman-teman yang merokok di jalan, bahwa hal itu sesuatu yang tidak benar. Tidak boleh dilakukan terutama di jalan Darrosah karena banyak masyayikh Azhar yang lalu lalang. Kita tidak mau citra Indonesia di Mesir menjadi buruk,” ujar Farhan.


Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang Pembina Rumah Syariah, Saiful Millah. Ia menyatakan bahwa perilaku sedemikian rupa merupakan fenomena baru yang tidak terkontrol. Selain membenarkan fakta tersebut, ia juga berpesan pada segenap Masisir untuk sadar diri bahwa mereka adalah tamu dan harus menghormati tuan rumah.


“Ya, ini memang fenomena merokok memang menjadi fenomena baru yang menurut saya tidak terkontrol. Bahkan saya pribadi kan tinggal di Darrosah. Dulu awal-awal saya belum banyak menjumpai bahkan tidak menjumpai sama sekali yang merokok di tempat umum, akan tetapi akhir-akhir ini, satu tahun terakhir ini saya sering kali menjumpai kawan-kawan, adik-adik yang merokok di tengah jalan, di persimpangan, atau duduk-duduk di tempat umum sambil merokok. Jadi memang betul itu fakta bahwa kawan-kawan Masisir banyak yang merokok di tempat umum,” tegas Saiful.


“Kita di sini itu tamu dan yang namanya tamu itu harus mengikuti aturan-aturan yamg dibuat oleh tuan rumah demi menghormati tuan rumahnya. Ibarat kita ketika tuan rumah tidak berkenan, kita melakukannya, ya kita ya harus nurut tidak melakukannya. Yang namanya lingkungan itu punya norma yang harus dipenuhi. Saya yakin kawan-kawan yang belajar Ushul Fiqih pasti sampai pada bab dalil yang diperdebatkan salah satunya ‘urf atau ‘adah bahkan di dalam Islam dikatakan al-‘adah muhakkamah yang namanya ‘adat istiadat’, kebiasaan di sebuah lingkungan itu bisa dijadikan sebagai patokan hukum. Artinya, yang namanya adat itu punya pengaruhnya pada sebuah hukum begitu juga dengan kita adat istiadat kebiasaan lingkungan sekarang yang kita tinggali, itu mempunyai norma-norma. Ayo kita ikuti hal itu,” imbuhnya.


Reporter: Muhammad Al-Faridzi
Editor: Muhammad Nur Taufiq al-Hakim

Comment

Berita Lainnya